Minggu, 22 Februari 2009

OBAMA KIRIM TENTARA ke Afganistan

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Barack Obama Selasa waktu setempat menyetujui penambahan sebanyak 17.000 pasukan ke Afghanistan. Penambahan ini bertujuan menstabilkan situasi keamanan yang dianggap makin memburuk.

"Tidak ada kewajiban serius lain bagi seorang presiden selain memutuskan untuk menambah pasukan untuk mencegah kejahatan," ungkap Obama dalam pernyataannya dan dikutip AFP, Rabu (18/2/2009).

"Apa yang saya lakukan hari ini menunjukkan bahwa situasi di Afghanistan dan Pakistan membutuhkan perhatian penting dan penanganan yang cepat," tambah Obama.

Penambahan ini, lanjut Obama, merupakan respons dari pemerintahannya terkait permintaan Komandan Pasukan AS di Afghanistan David McKiernan yang bulan lalu meminta tambahan hingga 30.000 pasukan.

Untuk memenuhi permintaan mendesak dan penting, Obama telah menyetujui permintaan Menteri Pertahanan Robert Gates untuk mengirim Marine Expeditionary Brigade pada musim semi tahun ini. Setelah itu disusul pengiriman Army Stryker Brigade dan pasukan pendukung pada musim panas.

Gedung Putih menyatakan 17.000 pasukan itu dikirim untuk menjaga stabilitas keamanan menjelang pemilihan umum Afghanistan yang akan berlangsung pada 20 Agustus mendatang.

Saat ini sudah ada 38.000 pasukan AS di negara yang sekira 60 persen wilayahnya dikuasai Taliban itu

Rabu, 18 Februari 2009

Ketika Kita Menyambut Pemilu, Kekayaan Negeri Ini Diobral Murah


Gegap gempita Pemilihan Umum sudah terasa beberapa saat lalu hingga hari ini. Hampir setiap pemberitaan media massa didominasi oleh isu Pesta Demokrasi Rakyat Indonesia. Masyarakat seakan lupa sejenak tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini. Angka kemiskinan yang terus naik, jumlah pengangguran yang semakin tinggi serta banyaknya oknum negeri ini yang ‘rela’menjual kekayaan alam negerinya dengan harga murah seakan luput dari pemberitaan media. Mungkin media enggan untuk menyampaikan isu ini karena berita seperti ini sudah tidak laku lagi di mata masyarakat. Mereka lebih suka menonton sinetron untuk melupakan segala kepenatan yang dialami di setiap detik waktu hidupnya.

Lagi, negara mengalami kerugian sekitar Rp. 20 triliun akibat ‘ketegaan’ oknum pengelola negeri ini. Kali ini ladang Gas Senoro, Sulawesi Tengah dijual oleh Pertamina dengan harga US$ 2,8 per mmbtu (milion metric british thermal unit). Padahal idealnya gas ini dijual dengan harga US$6 per mmbtu pada harga minyak US$ 44 per barel. (Media Indonesia, 16 Februari 2009). Tidak tahu kenapa, kok tega-teganya orang Pertamina menjual gas dengan harga murah ke China, Jepang dan Korea Selatan selama 15 tahun. Saya pikir, adanya pergantian direksi di Pertamina hanya bikin kisruh saja sedangkan yang memiliki peran sesungguhnya adalah para pengusaha asing. Mereka senantiasa menginterpensi negeri ini dalam bidang energi dan pertambangan.

Ya, itulah konsekuensi dari digunakannya sistem ekonomi liberal dengan ideologi Kapitalisme sebagai acuan pergerakannya. Ideologi ini selalu menguntungkan pihak para Kapitalis sehingga mereka menggunakan berbagai cara untuk menguasai negeri yang memiliki cadangan energi yang besar. Aneh, sering kita melihat antrian masyarakat untuk memperoleh bahan bakar gas atau berhentinya pabrik pupuk untuk berproduksi karena tidak adanya gas sebagai bahan baku tetapi gas yang kita miliki dijual keluar negeri dengan harga yang murah.

Adanya interpensi pihak asing sudah menjadi hal yang ‘lumrah’ ketika kita menyerahkan pengelolaan kekayaan negeri kepada para penguasa sekuler. Ketika Pemilu, rakyat memlilih mereka untuk menjadi wakilnya di parlemen. Para wakil rakyat ini adalah utusan para pengusaha karena bagaimanapun mereka dibiayai oleh perusahaan ketika berkampanye. Dengan begitu, ketika mereka duduk di kursi panas mereka pun rela melakukan apa saja yang sesuai dengan pesanan para penyokong dana.

Ketika kita tahu kelakukan mereka seperti itu, apakah kita akan memilih mereka lagi untuk mengelola negeri ini? Saya pikir, siapa pun yang kita pilih ketika sistem demokrasi yang masih dipakai maka akan senantiasa terjadi kekacauan pengeloaan negara karena setiap jengkal tanah di dunia ini sudah dimonitor oleh para Kapitalis. Kita jangan terpedaya oleh para kandidat pemimpin yang berjanji akan mensejahterakan rakyat atau ‘anti korupsi’ padahal sebenarnya mereka mengalihkan ‘solusi sesungguhnya’ negeri ini menjadi ‘solusi parsial’. Negeri ini tidak hanya butuh pemimpin yang bersih, jujur dan adil tetapi penguasa yang menjalankan Islam sebagai syariatnya!

Kamis, 12 Februari 2009

Sekulerisme = Pemurtadan


Mengamati Maraknya Pemurtadan

“Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai orang Kristen….Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar hawa nafsu.” (Samuel Zweimer dalam Konferensi Misionaris di al-Quds, 1935, Media Umat edisi 6/ 6-19 Februari 2009)

Upaya pemurtadan umat Islam sudah sejak lama ada ketika Daulah Islam masih tegak hingga saat ini (Daulah Islam, An-Nabhani 2007). Upaya ini tidak main-main, orang-orang kafir senantiasa memeras otak untuk menemukan cara bagaimana supaya umat ini jauh dari Islam dan bahkan keluar dari agama Islam (murtad). Sudah begitu banyak fakta membuktikan ternyata aqidah seorang Muslim dapat ditukar dengan sekardus mie instant!

Terkadang kita merasa marah ketika hal ini terjadi, namun cukupkah seperti itu? Seharusnya kita marah pada diri kita sendiri karena kita tidak bisa menjaga aqidah saudara-saudara kita. Kita lebih disibukkan oleh urusan duniawi dan perebutan kekuasaan dimana kekuasaan itu hanya membuat kita jauh dari rahmat Alloh SWT. Kita baru menyadari bahwa betapa lemahnya aqidah umat ini ketika mereka berbondong-bondong keluar dari agama Alloh. Saudara, teman bahkan keluarga kita sendiri yang menjadi korban pemurtadan ini.

Sebenarnya, seberapa pun hebatnya orang kafir mempengaruhi umat Islam tidak akan terpengaruh jika aqidah yang dimiliki setiap individu begitu kuat. Aqidah yang kuat ini lahir dari proses berfikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Aqidah yang lahir bukan berasal dari perasaan yang dapat berubah setiap saat. Jangan aneh ketika banyak orang murtad karena merasa tidak nyaman dengan Islam yang dianutnya. Memang, Islam ini bukan tempat untuk mencari kenyamanan tetapi tempat untuk mendapatkan rahmat Alloh SWT.

Namun bagaimanapun permurtadan ini bukanlah problem utama umat Islam. Hal yang menjadi problem utama umat Islam adalah tidak diterapkan syariat Islam dalam kehidupan dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Khilafahlah yang akan senantiasa menjaga aqidah umat yakni dengan menjauhkan umat dari pemikiran kufur seperti sekulerisme dan demokrasi. Faham inilah justru yang membuat aqidah umat ini goyah dan berpaling dari kebenaran Islam. Ketika orang menganggap Islam adalah agama ritual belaka maka mereka pun beranggapan bahwa Islam bisa disejajarkan dengan agama yang lain. Justru, hal inilah yang lebih berbahaya dibandingkan dengan permurtadan karena kondisi umat Islam sangat mudah digoyah.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan ketika pemurtadan ini sudah terlanjur terjadi, diantaranya:

Pertama, Dakwahkan Islam dengan pendekatan ideologis (fikriyah) bukan dengan pendekatan perasaan (su’uriyah) sehingga orang faham mengapa dia harus memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Kedua, Perkuat barisan umat Islam untuk memiliki cita-cita yang sama yakni tegaknya Islam dibawah naungan Daulah Khilafah karena Khilafah-lah yang akan mengurus seluruh masalah umat ini.

Ketiga, perbanyaklah kegiatan ke-Islaman yang akan memperkuat pemahaman kita tentang Islam, jangan terlalu banyak acara bazar, pameran, gema nasyid atau training ini-itu.

Keempat, jaga diri kita dari berbagai bentuk maksiat.

Jatinangor, 12 Februari 2009

Muhammad Yusuf Ansori

Mahasiswa Fapet Unpad Jatinangor


Sabtu, 07 Februari 2009

Suarakan Islam dengan Terbuka


Menyimak Maraknya Partai ‘Oplosisi’ antara Islam dan Sekuler

Ketika umat ini membutuhkan seorang Pemimpin maka begitu banyak orang yang menawarkan diri untuk menjadi pemimpin. Segala janji yang telah diumbar ternyata sulit mereka realisasikan karena janji-janjinya masih ‘standar-standar’ saja. Perubahan yang mereka janjikan hanyalah perubahan parsial bukan peruabahan fundamental untuk memperbaiki nasib negeri ini. Mereka berkilah bahwa perubahan itu harus bertahap, namun kenyatannya tahapan perubahan itu tak kunjung datang malah semakin memalingkan umat ini dari Pencipta-nya.

Realitas ini terlihat ketika banyak partai-partai, baik partai berbasis masa Islam maupun sekuler, mengkampanyekan agenda kerja mereka bukan mengkampanyekan inti dari sebuah perubahan (padahal mereka tahu). Hingga saat ini tidak ditemukan partai yang menawarkan konsep sistem ekonomi alternatif yang menjadi pemicu krisi multidimensi negeri ini. Mereka lebih sibuk dengan agenda ‘berantas korupsi’ atau ‘harga sembako murah’ padahal hal tersebut sulit direalisasikan karena saking rusaknya ideologi Kapitalisme yang dianut umat ini.

Agenda-agenda kosong ini ternyata disampaikan juga oleh partai berbasis masa Islam. Ya, saat ini tidak ada partai Islam karena mereka tidak menyuarakan Islam dengan terbuka. Apakah mereka takut dicap teoris, oposisi atau pengkhianat bangsa? Alasannya sih, berpolitik itu harus cerdas, tapi apakah mereka lebih cerdas dibandingkan Rosululloh yang menyuarakan Islam dengan terbuka. Tegas, jelas dan menantang sistem kufur yang ada….

Fakta membuktikan bahwa saat ini umat semakin kebingungan karena tidak adanya pilihan yang jelas. Mau milih partai berbasis Islam atau sekuler buat jadi panutan ternyata sama saja karena isu yang diangkatnya pun sama seperti ‘partai kasing sayang’, ‘bersama kita bisa’ dll. Kalao mau_dan seharusnya_ partai berbasis massa Islam ini menyuarakan syariat Islam sebagai agenda kampanye mereka sehingga pemilih pun bisa memilih dengan jelas bukan masang iklan dengan menampakan wanita yang tidak pake jilbab. Wajar kalau partai berbasis Islam kalah terus…….

Tahu nggak kenapa HAMAS di Palestina menang pada 2003 lalu? Trus, Ikwanul Muslimin juga dipercaya muslim di Mesir untuk jadi penguasa? Dan juga FIS di Aljazair menang mutlak pada pemilu mereka? Ya karena mereka bertindak menjadi oposisi yang jelas, ni saya Islam dan yang itu kafir, silakan mau milih mana? Mungkin seperti itulah ungkapan mereka kepada umat. Jika partai berbasis Islam ini mau seperti itu ya silakan tiru, jangan cuma logonya aja di tempel di baju-baju.

Jadi, agendakan visi dan misi partai denga jelas dan tebuka kepada umat, kalau mau menjadikan negeri ini Daulah Islam ya sampaikan jangan ditutup-tutupi. Justru kondisi ini semakin mempersulit tegaknya syari’ah Islam karena masih berputar-putar di area demokrasi sebagai sarang kemaksiatan. Jika nanti ada reaksi keras dari penguasa, ya itu resiko dalam rangka menyuarakan kebenaran. Tetapi, ketika ada dukungan dari umat ya Insya Alloh akan dimudahkan. Percaya nggak? Kalo kita menyuarakan Islam dengan terbuka maka para tentara dan polisi pun akan membantu kita karena kebanyakan mereka adalah muslim. Aqidah mereka menuntutnya untuk membela Islam karena mereka juga percaya akan adanya syurga.

Silakan buka kembali syiroh Rosululloh, beliau pun menyampaikan Islam dengan terbuka. Dengan begitu, akan tercipta opini umum di tengah umat bahwa ada dua ideologi yang sedang ‘bertabrakan’ yakni Islam di tengah kekufuran. Buktinya, banyak orang yang tertarik bahkan Salman al-Farisi jauh-jauh datang dari Persia untuk masuk Islam. Orang juga cerdas untuk memilih Bung……kita jangan takabur dengan mengatakan bahwa harus ada konsep yang cerdas dalam menyuarakan Islam! Saya pikir, dalam dakwah ini wajib mengikuti apa yang telah dicontohkan Rosulululloh bukan dengan mengedepankan otak kita…..

So, jangan ditutup-tutupi apa yang seharusnya disampaikan dan jangan disampaikan apa yang tidak boleh disampaikan. Jika kita harus mengatakan bahwa demokrasi itu haram ya katakan, jika kita harus mengatakan bahwa syari’ah Islam itu wajib ya katakan, jika khilafah itu cita-cita kita ya katakan……biarlah umat yang memilih. Jangan sampai harta dan tenaga yang kita gunakan tidak berarti apa-apa di hadapan Alloh karena kita masih menjadikan demokrasi sebagai jalan perubahan ini……..

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.(QS. Al-Maidah: 32)

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan.’ (QS. Nuh: 8)

Jumat, 06 Februari 2009

Pemilu dan Nasib Rakyat


Pemilu Tidak Menjadi Solusi atas Segala Krisis yang Terjadi

Memasuki tahun 2009, rakyat Indonesia dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Realitas politik yang terjadi tidak dapat menjadi obat penawar bagi kemelut bangsa ini. Kondisi sosial, politik dan ekonomi yang belum kunjung baik membuat rakyat menggantungkan harapan pada elit politik yang senantiasa hadir sebagai ‘pahlawan kesiangan’ dengan janji-janji kosong yang terkadang tidak masuk diakal. Saya pikir, wajar jika Alloh SWT tidak kunjung memberikan pertolongannya pada kita walaupun kita berdoa siang-malam jikalau solusi yang kita gunakan bukan solusi dari Alloh SWT. Masyarakat cenderung berharap pada manusia sebagai makhluq Alloh sehingga lambat-laun menjauhkannya dari Alloh SWT.
Ketika masyarakat memiliki kebingungan dengan krisis yang terjadi maka sebagian diantara mereka menjadikan momen Pemilu (Pemilihan Umum) atau Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) sebagai ajang ‘coba-coba’. Masyarakat berharap dengan pergantian kepemimpinan akan terbentuk suasana masyarakat yang lebih baik karena adanya pergantian orang. Padahal tidak menjadi jaminan ketika adanya pergantian pemimpin akan tercipta kondisi yang berbeda secara signifikan karena pada dasarnya tidak terjadi pergantian sistem kehidupan. Perputaran waktu menunjukan kepada kita bahwa krisis yang terjadi akan berlarut-larut ketika setiap individu dalam umat ini masih mengharapkan pertolongan dari sosok yang selama ini dielu-elukan. Bangsa Indonesia bisa bercermin pada era Reformasi ’98 yang menelan banyak korban, sudah beberapa kali terjadi pergantian kepemimpinan (baik nasional mapun daerah) namun hal itu tidak menjadi jaminan akan adanya perubahan bagi nasib rakyat.
Ketika seringnya Pemilu atau Pilkada justru semakin banyak menimbulkan efek negatif bagi realitas sosial politik di sekitarnya. Adanya sosok yang dijagokan dalam Pemilu dan Pilkada maka akan ada dua atau lebih komunitas pendukung yang saling jotos karena adanya perbedaan kepentingan. Pilkada Maluku Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara dan banyak lagi contoh kongkrit dimana pemilu menelan korban yakni kesemrawutan kondisi sosial. Ketika terjadi konflik di tengah masyarakat maka berpengaruh pada dinamika sosial yang lain seperti banyak orang yang enggan berjualan karena takut toko mereka jadi bulan-bulanan massa. Begitu pula Pemerintah lebih sibuk mengurusi masalah perebutan keuasaan dalam Pemilu atau Pilkada ketimbang mengkonsentrasikan diri memperbaiki krisis ekonomi yang sedang terjadi.
Krisis ekonomi sebagai pemicu utama segala konflik yang terjadi seperti sengaja dibiarkan barlarut-larut padahal sebenarnya rakyat banyak berharap akan ada perbaikan kondisi ekonomi ketika terjadi pergantian kekuasaan. Namun, pergantian kekuasaan hanyalah memicu kesengsaraan selanjutnya karena ternyata devisa negara yang ada habis terpakai untuk ‘pesta demokrasi’ (dari namanya saja jelas tindakan hura-hura). Sekitar 1,6 triliun rupiah habis terpakai untuk mendanai pilkada di berbagai daerah padahal lebih baik dipakai untuk mendanai sektor pendidikan yang semakin buruk (Al-Wa’ie, Januari 2009). Pemerintah sering berkilah dalam masalah defisitnya devisa negara tetapi ternyata uang rakyat yang ada tidak digunakan untuk hal yang lebih prioritas tetapi dialihkan untuk sesuatu yang sepertinya lebih penting padahal tidak begitu penting. Pemilu atau pilkada hanya menjadi ajang untuk unjuk gigi akan kehebatan masing-masing calon penguasa. Jadi, kalau krisis ini bisa selesai tanpa harus ada Pemilu atau Pilkada, kenapa harus ada Pemilu atau Pilkada?
Pada awalnya, kaum Reformis menganggap Pemilu sebagai pintu gerbang menuju perbaikan nasib bangsa _terutama krisis ekonomi_ tetapi ternyata perkiraan tersebut meleset karena krisis semakin menjadi-jadi setelah adanya pergantian kekuasaan bahkan hingga ke tingkat daerah. Mereka justru memalingkan masalah ekonomi _sebagai masalah utama_ menjadi masalah krisis kepemimpinan. Opini ini membawa masyarakat menjadi lupa akan problem mereka dan cenderung menuruti kemauan kaum Reformis. Pada faktanya, ketika terjadi pergantian kekuasaan, penguasa yang baru justru memperburuk masalah ekonomi dengan menjual aset bangsa kepada Kapitalis asing dan menyerahkan nasib bangsa ini kepada IMF (Lembaga Moneter Internasional) dan Bank Dunia. Hasilnya, bangsa ini telah masuk ke dalam ‘perangkap laba-laba’ yang lengket dan sulit untuk keluar kecuali dengan menghancurkan jaring tersebut! Selain itu, setelah pilkada digelar sebagai imbas dari otonomi daerah ternyata Pemerintah Daerah ada yang tidak sejalan dengan Pemerintah Pusat. Misalnya, ada Pemerintah yang menolak memberikan dana kompensasi kenaikan harga BBM dari pemerintah Pusat dengan alasan memanjakan rakyat. Padahal itu terjadi karena Pemerintah Daerah berbeda partai politik dengan Pemerintah Pusat sehingga berbeda pula kepentingan mereka.
Pemilu terbukti tidak bisa menjadi solusi atas segala krisis yang ada karena menjadikan demokrasi sebagai acuan sistem politiknya. Demokrasi menjadikan manusia berani membuat aturan sendiri diatas aturan Alloh SWT yang agung. Hanya satu hal yang akan menjadi solusi yakni marilah kita menjalankan segala aturan Islam sebagai bentuk dari pertolongan Alloh atas do’a-do’a yang senantiasa kita panjatkan. Umat Islam jangan menjadi orang yang ‘rajin berdoa’ untuk meminta datangnya keajaiban tetapi tidak mau menjalankan konsep kehidupan Islam sebagai jawaban atas doa’-doa’ itu. Umat ini harus yakin bahwa Alloh sudah mengabulkan do’a mereka yakni dengan banyaknya konsep-konsep Islami yang ditawarkan para da’i. Umat ini harus malu ketika masih bergantung pada manusia sebagai penuntun mereka untuk keluar dari krisis ini sehingga agama ini hanya menjadi komoditas politik saja. Wahai kaum Muslimin, Alloh masih ada! Maka janganlah kita berputus asa dari pertolongan Alloh! Perotolongannya telah datang yakni ketika ketika mau membuka hati dan pikiran kita untuk ridlo diatur oleh aturan-Nya!
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan solat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Alloh). Dan barang siapa menjadikan Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Alloh itulah yang menang. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang –orang kafir. Dan bertaqwalah kepada alloh jika kamu orang-orang beriman.” (Al-Maidah; 55-57)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Al-Maidah; 51)

Senin, 19 Januari 2009

Mengapa Kita Harus Meninggalkan Demokrasi?



Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Alloh, dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum Alloh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah ayat 49)




Demokrasi Sistem Kufur
Demokrasi adalah suatu konsep tentang realita kehidupan dimana manusia berkehendak untuk membuat peraturan hidupnya (Demos: rakyat; kratos: pemerintahan). Padahal, aturan hidup itu sudah dibuat oleh Alloh SWT dengan sangat sempurna. Alloh SWT sebagai pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini sudah menyertakan tata cara “penggunaan” alam semesta sebagaimana sebuah pabrik membuat aturan pakai tentang suatu produk yang dibuatnya. Jika Alloh sudah menciptakan sebuah aturan untuk hidup ini maka mengapa kita sebagai manusia berani untuk membuat aturan lain selain aturan Alloh SWT yang Maha Mengetahui kondisi alam semesta?
Perintah untuk memutuskan perkara kehidupan menurut aturan Alloh adalah wajib hukumnya, maka apakah kita akan menginginkan aturan manusia sebagai pengatur kehidupan ini. Sebagai umat Islam, kita jangan sampai tertipu oleh tipu daya orang-orang kafir bahwa demokrasi merupakan sistem politik paling baik yang bisa mengakomodir kepentingan seluruh umat manusia. Anggapan sesat ini membuat kaum Muslimin berpaling dari aturan Alloh SWT dan masuk ke dalam kubangan maksiat secara berjamaah.

Demokrasi Mengundang Kesengsaraan
Manusia adalah makhluk yang lemah dimana kita tidak dapat melihat realita secara menyeluruh. Setiap kepala dari manusia akan berbeda tatkala mengeluarkan pendapat. Maka dari itu, dalam demokrasi cenderung terjadi konflik yang membawa manusia ke dalam kehancuran. Teori-teori tentang sistem pemerintahan demokrasi muncul dari para filosof Yunani ketika mereka menaggap bahwa kerajaan yang bersifat absolut (mutlak) tidak dapat mengakomodir kepentingan rakyatnya. Padahal demokrasi melahirkan bentuk “kerajaan” baru yakni ‘kekuasaan parlemen’.
Parlemen sebagai bentuk sistem Pemerintahan demokrasi merupakan wakil dari berbagai golongan yang mempunyai kepentingan. Umat ini telah ditipu dengan anggapan bahwa parlemen adalah wakil rakyat yang akan menjadi corong aspirasi mereka. Namun, pada kenyatannya demokrasi adalah bentuk legitimasi dari kepentingan para Kapitalis untuk melancarkan usaha mereka.
Sistem demokrasi bisa lahir dari ideologi Kapitalisme atau Sosialisme karena keduanya mengabaikan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai sumber untuk menggali hukum. Saat ini demokrasi identik dengan Kapitalisme sebagai ideologi yang menguasai dunia dimana roda pemerintahan yang ada di berbagai penjuru dunia harus sesuai dengan keinginan mereka. Atas nama demokrasi, George Walker Bush mengirim tentaranya untuk menyerang Irak dan Afganistan. Dengan demokrasi pula, Hamas dan Fatah di Palestina pecah menjadi dua golongan yang saling menumpahkan darah. Coba kita lihat, bagaimana nasib rakyat di negara-negara tersebut sekarang? Apakah ini yang dimaksud demokrasi oleh Bush?
Ketika terjadi krisis multidimensi di Indonesia maka kaum Reformis menyerukan untuk segera memperbaiki sistem pemerintahan supaya lebih demokratis. Pemilu ’99 yang dipercepat hingga hari ini ternyata tidak membawa sebuah perubahan yang berarti. Sudah puluhan kali Pilkada digelar tetapi tidak dapat membawa negeri ini ke dalam kondisi yang lebih baik. Saat ini kita telah ditipu, padahal Alloh telah memperingatkannya dalam al-Quran!

Demokrasi sebagai Tipu Daya
Demokrasi adalah bentuk tipu daya para Kapitalis untuk menguasai negeri-negeri kaum Muslimin karena demokrasi berdiri pada 3 azas. Ketika berekonomi maka Kapitalis yang bermain, ketika berkelakukan maka canderung menggunakan faham liberalisme dan ketika berpolitik cenderung sekuler.
Pada umumnya kita telah ditipu oleh para Kapitalis bahwa demokrasi menjadi wadah kepentingan rakyat. Anggpan demikian membuat umat ini memahami demokrasi hanya dari sisi prosedural saja tetapi tidak memahaminya lebih mendalam. Ketika setiap beranggapan bahwa demokrasi adalah sistem paling baik maka merka akan mendukung dan memperjuangkannya. Namun perjuangan mereka sia-sia karena ketika wakil mereka di Parlemen menjadi pengkhianat yakni dengan menyerahkan hak-hak rakyat kepada para Kaiptalis pemilik modal.
Para Kapitalis ini menyokong dana partai-partai terpilih untuk membuat Undang-undang yang sesuai dengan pesanan mereka. Maka aneh kalau banyak mahasiswa yang menolak Undang-undang yang pro Kapitalis tetapi justru meneriakan ‘demokrasi sebagai solusi’?! Aturan hidup seperti ini yang tidak diridloi Alloh SWT karena semua ini hanyalah bentuk tipu daya orang-orang kafir untuk menguasai tanah kaum Muslimin. Mereka menanam agen-agen mereka di berbagai penjuru dunia sehingga setiap jengkal tanah dibawah kontrol mereka.
Demokrasi pun melahirkan faham liberalisme dimana orang bebas untuk berfikir dan berkelakuan. Dalam kehidupan demokratis saat ini, lahirlah konsep hak azasi manusia yang menjauhkan manusia dari peringatan Alloh SWT. Orang tidak bisa melarang wanita telanjang karena itu adalah hak dia untuk seperti itu selama tidak menganggu orang lain. Liberalisme pun membuat kaum Muslimin berani menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan penafsiran semau gue sehingga lahirlah kaum Islam Liberal yang menjadi duri dalam daging umat ini.
Kaum Muslimin harus menyadari bahwa sistem pemerintahan yang demokratis bukanlah segala-galanya. Banyak orang memandang bahwa demokrasi lahir dari prinsip musyawarah untuk mufakat padahal itu adalah isapan jempol belaka. Konsep sesat ini telah meracuni umat sejak dia masih sekolah dasar hingga perguruan tinggi sehingga tebentuk pemikiran bahwa tiada sistem pemerintahan yang labih baik selain demokrasi. Umat ini menjadi bingung ketika menghadapi krisis sehingga bertanya. “Kalau demokrasi itu salah lalu dengan apalagi negeri ini akan diatur….?”. Awas, pertanyaan tersebut adalah bentuk dari sikap kita yang sekuler dimana tidak meyakini konsep Islam sebagai solusi. Umat ini sepertinya tidak yakin jika Islam menjadi pemimpin dalam panggung politik bahkan cenderung menjauhkan Islam dari politik. Seharusnya kita mendakwahkan Islam politis karena politik itu adalah mengurus urusan umat yang hukumnya wajib.
Banyak diantara kaum Muslimin ingin menjadikan politik Islam sebagai solusi dari segala krisis yang terjadi namun masih menjadikan demokrasi sebagai isu pergerakan mereka. Anggapan ini menjadikan banyak Partai Isam yang ikut dalam kancah Pemilu. Jika dicermati sebenarnya mereka sudah masuk ke dalam ‘lubang biawak’ yang sulit untuk keluar lagi. Pertama, hal itu merupakan kemaksiatan karena ikut nimbrung membuat hukum kufur. Kedua, umat semakin bingung antara yang haq dan bathil karena sudah biasa apabila parpol Isam masuk kedalam parlemen dengan alasan ‘perubahan secara bertahap’. Ketiga, memperkuat sekulerisme itu sendiri dan menjauhkan umat dari ukhuwah Islamiyyah karena nasionalisme dan fanatisme golongan sudah melekat dalam diri umat ini. (Baca, Nasionalisme mengalahkan Ukhuwah Islamiyyah di muhammadyusufansori.blogspot.com)

Hanya Islam sebagai Lawan dari Demokrasi
Ketika banyak orang membiaskan antara demokrasi dan Islam (bahkan adala istilah ‘demokrasi Islam) maka saya menawarkan kepada kaum Muslimin untuk segera meninggalkan cara berfikir demokratis dan merubahnya menjadi cara berfikir Islami. Dengan begitu, kita akan mengembalikan setiap permasalahan yang ada kepada Islam bukan kepada guru, ustadz, murobbi atau orang Islam Liberal. Hanya syariat Islam yang digali dari nash al-Quran dan As-Sunnah yang membuka hati dan pemikiran kita. Apabila setiap orang sudah memiliki cara berfikir Islami maka tidak akan ada lagi yang mendukung orang-orang fasik untuk duduk di parlemen dan mengendalikan kehidupan kita.
Ketika umat ini serempak untuk menjauhi penguasa fasik maka tegaknya kehidupan Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah akan segera terwujud. Kita jangan menjadi orang-orang yang rajin berdoa dan menitikkan air mata tetapi masih setuju dengan sistem demokrasi dan melakoninya. Padahal Alloh sudah mengabulkan doa kita untuk keluar dari krisis tetapi hati dan fikiran kita tertutup dari rahmat Alloh yakni konsep-konsep aturan Islam yang sudah ditawarkan oleh banyak ulama sebagai solusi. Marilah kita isukan di tengah-tengah umat bahwa sekulerisme, kapitalisme, nasionalisme dan demokrasi itu haram!

Rabu, 14 Januari 2009

Renungan Awal Tahun


Islam Politis sebagai Solusi Segala Krisis….

Secara kebetulan, awal tahun 1430 H beriringan dengan awal tahun 2009 M. Sepertinya Alloh SWT sudah merekayasa semua ini untuk memberikan jawaban kepada seluruh umat manusia khususnya umat Islam bahwa sudah seharusnya kita memiliki kehidupan baru. Pada awal tahun ini dunia digoncangkan dengan berbagai kejadian luar biasa sebagai sebuah peringatan.
Krisis global yang melanda sebagian besar belahan dunia menjadi sebuah pelajaran penting bagi kita bahwa dunia memerlukan perubahan. Kondisi ini sebagai sebuah peringatan bagi kita untuk segera melaksanakan hukum-hukum Alloh SWT sebagai solusi dari segala krisis yang ada. Sistem ekonomi kapitalisme tidak bisa menjadi acuan hidup seluruh umat manusia karena kenyataannya banyak orang yang tidak berdosa terkena imbas dari krisis ini.
Di depan mata kita, atau kita sendiri, menjadi korban krisis yang terjadi. Sekitar 1,6 juta orang Rata PenuhIndonesia siap menghadapi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tahun ini. Perkiraan ini diperkuat dengan merosotnya dunia usaha sehingga kinerja ekspor komoditas pun turun 30 % (Media Indonesia, 2/1/2009). Kondisi ini sangat berpengaruh pada beban ekonomi masyarakat yang semakin sulit. Apalagi saat ini sulit sekali mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup walaupun Pemerintah RI sudah menawarkan berbagai kredit usaha yang sarat dengan riba.
Merebaknya PHK di berbagai penjuru dunia mengundang banyak efek negatif sebagai imbas dari krisis ekonomi global. Tekanan ekonomi memaksa seseorang untuk berbuat apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meningkatnya tindakan kriminal di tengah masyarakat menjadi ekses negatif kondisi sosial masyarakat yang tidak bisa dicegah. Banyak orang yang sudah kehilangan akal sehat untuk mencuri, menjual diri bahkan bunuh diri. Jangan merasa aneh bila dalam waktu satu tahun kedepan akan semakin banyak kriminalitas di lingkungan tempat tinggal kita.
Ketika banyak orang sedang dilanda keresahan, tiba-tiba akan banyak muncul ‘Pahlawan Kesiangan’ menawarkan janji-janji kosong tentang perbaikan nasib bangsa. Mereka tidak menghiraukan apa sebenarnya yang mereka katakan, walaupun hati kecil mereka tahu bahwa mereka sedang ‘menantang Alloh’ untuk menyelesaikan masalah yang ada. Isu-isu yang mereka angkat adalah isu basi dimana secara hitung-hitungan sulit untuk mereka tepati. Namun, kebodohan umat ini telah mereka manfaatkan demi secuil kekuasaan dibandingkan kuasa Alloh SWT yang meliputi seluruh alam ini.
Janji-janji kosong penguasa ini menjadikan banyak orang bersikap apatis terhadap kondisi di sekitarnya. Mereka sudah tidak peduli nasib saudaranya sesama Muslim. Apatisme ini menjadi ‘racun’ dimana umat alergi untuk berpolitik. Mereka beranggapan bahwa politik adalah kotor, bohong, keji dan berbagai anggapan lainnya. Padahal politik adalah mengurus urusan umat yang sifatnya wajib bagi setiap Muslim. Apabila umat sudah bersikap apatis, maka mereka pun tidak percaya juga terhadap solusi Islam yang ditawarkan oleh berbagai kalangan aktifis Islam. Mereka sibuk dengan doa’-doa’ mereka kepada Alloh sehingga mereka menjauhkan diri dari aktifitas politik. Bagi mereka, Islam tidak boleh dikaitkan dengan masalah politik sehingga beranggapan Islam hanya mengurus urusan ibadah ritual saja. Padahal tidak demikian!
Sikap apatisme ini menjalar ketika pada pergantian tahun ini saudara-saudara kita di Palestina dibombardir oleh tentara Israel. Banyak diantara kita beranggapan bahwa masalah Palestina bukanlah masalah kita sebagai umat Islam di Indonesia. Anggapan ini lahir karena adanya nasionalisme diantara kita yang sudah memisahkan rasa persatuan kita sebagai umat Islam di seluruh dunia. Nasionalisme telah memisahkan setiap umat Islam di penjuru dunia dan tersibukan dengan urusan negaranya masing-masing. Bahkan, mereka menyerahkan urusan Palestina kepada PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan memalingkan solusi syar’i yakni tegaknya Daulah Islam untuk mengakomodir umat untuk berjihad.

Siapa yang Salah?
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Pemerintah dalam krisis yang sedang dihadapi. Justru, kita harus menyalahkan diri sendiri yang ‘rela’ untuk diatur oleh ideologi kapitalisme atas dasar aqidah sekulerisme. Kita sendiri yang memilih mereka untuk menjadi pemimpin dalam mengurusi umat ini. Kita sendiri yang memilih mereka dalam Pemilu sebelumnya atau akan memilih mereka lagi pada 9 April nanti?
Sebagian besar diantara kita menjadi orang-orang yang suka menuduh orang lain ketika dihadapkan pada situasi yang sulit. Padahal situasi ini kita sendiri yang menciptakannya. Banyak diantara kita justru semakin jauh dari Alloh SWT yang telah memperingatkan bahwa semua krisis ini pasti akan terjadi ketika umat ini tidak menjadikan Islam sebagai aturan hidupnya.
Banyak diantara kita yang sangat mudah diadu domba karena menjadikan manusia sebagai tumpuan terhadap masalah yang sedang terjadi. Bercermin pada era Reformasi 98, banyak harapan didepan mata tetapi ternyata itu hanyalah angan-angan kosong karena kita sendiri masih percaya kepada manusia sebagai ‘Dewa Penyelamat’. Kalau begitu, siapa lagi yang akan kita percayai selain Alloh SWT?!

Caranya?
Banyak diantara kita sering bertanya, bagaimana caranya untuk keluar dari segala krisis ini?
  • Pertama, kita sendiri harus memperkuat aqidah dengan senantiasa mempelajari Islam. Dengan begitu, akan terbentuk cara pendang Islami dalam menyikapi kehidupan. Pengetahuan kita tentang Islam akan senantiasa bertambah sehingga ada ketertarikan kepada Islam.
  • Kedua, jauhi sikap hidup sekulerisme dimana kita masih beranggapan bahwa Islam tidak bisa menjadi solusi atas krisis yang ada. Sikap ini menjadikan manusia membedakan antara kehidupan dunia dan akhirat! Kemudian selanjutnya menjauhkan mereka dari Alloh SWT.
  • Ketiga, tingkatkan rasa kepedulian kepada sesama saudara kita sehingga akan tergerak untuk bersama-sama keluar dari krisis yang ada.
  • Keempat, mari bersama-sama untuk berdakwah di tengah-tengah kita karena dengan dakwah akan tercipta opini yang sama tentang ‘Islam sebagai Solusi’. Semarakan dakwah di mesjid, rumah, sekolah, kampus, kantor, radio, televisi bahkan di tengah sawah!
  • Kelima, mari tingkatkan kepedulian politik kita dengan senantiasa mendakwahkan Islam yang bersifat politis.
Insya Alloh, tidak akan ada kebuntuan dalam hidup kita saat ini apabila bersama-sama menuju solusi yang satu. Tidak akan ada lagi yang memilih solusi lain selain solusi Islam. Sering kita dibingungkan dengan Islam yang terlalu luas, padahal solusi itu kita sendiri yang menjalankannya!