Senin, 19 Januari 2009

Mengapa Kita Harus Meninggalkan Demokrasi?



Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Alloh, dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum Alloh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah ayat 49)




Demokrasi Sistem Kufur
Demokrasi adalah suatu konsep tentang realita kehidupan dimana manusia berkehendak untuk membuat peraturan hidupnya (Demos: rakyat; kratos: pemerintahan). Padahal, aturan hidup itu sudah dibuat oleh Alloh SWT dengan sangat sempurna. Alloh SWT sebagai pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini sudah menyertakan tata cara “penggunaan” alam semesta sebagaimana sebuah pabrik membuat aturan pakai tentang suatu produk yang dibuatnya. Jika Alloh sudah menciptakan sebuah aturan untuk hidup ini maka mengapa kita sebagai manusia berani untuk membuat aturan lain selain aturan Alloh SWT yang Maha Mengetahui kondisi alam semesta?
Perintah untuk memutuskan perkara kehidupan menurut aturan Alloh adalah wajib hukumnya, maka apakah kita akan menginginkan aturan manusia sebagai pengatur kehidupan ini. Sebagai umat Islam, kita jangan sampai tertipu oleh tipu daya orang-orang kafir bahwa demokrasi merupakan sistem politik paling baik yang bisa mengakomodir kepentingan seluruh umat manusia. Anggapan sesat ini membuat kaum Muslimin berpaling dari aturan Alloh SWT dan masuk ke dalam kubangan maksiat secara berjamaah.

Demokrasi Mengundang Kesengsaraan
Manusia adalah makhluk yang lemah dimana kita tidak dapat melihat realita secara menyeluruh. Setiap kepala dari manusia akan berbeda tatkala mengeluarkan pendapat. Maka dari itu, dalam demokrasi cenderung terjadi konflik yang membawa manusia ke dalam kehancuran. Teori-teori tentang sistem pemerintahan demokrasi muncul dari para filosof Yunani ketika mereka menaggap bahwa kerajaan yang bersifat absolut (mutlak) tidak dapat mengakomodir kepentingan rakyatnya. Padahal demokrasi melahirkan bentuk “kerajaan” baru yakni ‘kekuasaan parlemen’.
Parlemen sebagai bentuk sistem Pemerintahan demokrasi merupakan wakil dari berbagai golongan yang mempunyai kepentingan. Umat ini telah ditipu dengan anggapan bahwa parlemen adalah wakil rakyat yang akan menjadi corong aspirasi mereka. Namun, pada kenyatannya demokrasi adalah bentuk legitimasi dari kepentingan para Kapitalis untuk melancarkan usaha mereka.
Sistem demokrasi bisa lahir dari ideologi Kapitalisme atau Sosialisme karena keduanya mengabaikan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai sumber untuk menggali hukum. Saat ini demokrasi identik dengan Kapitalisme sebagai ideologi yang menguasai dunia dimana roda pemerintahan yang ada di berbagai penjuru dunia harus sesuai dengan keinginan mereka. Atas nama demokrasi, George Walker Bush mengirim tentaranya untuk menyerang Irak dan Afganistan. Dengan demokrasi pula, Hamas dan Fatah di Palestina pecah menjadi dua golongan yang saling menumpahkan darah. Coba kita lihat, bagaimana nasib rakyat di negara-negara tersebut sekarang? Apakah ini yang dimaksud demokrasi oleh Bush?
Ketika terjadi krisis multidimensi di Indonesia maka kaum Reformis menyerukan untuk segera memperbaiki sistem pemerintahan supaya lebih demokratis. Pemilu ’99 yang dipercepat hingga hari ini ternyata tidak membawa sebuah perubahan yang berarti. Sudah puluhan kali Pilkada digelar tetapi tidak dapat membawa negeri ini ke dalam kondisi yang lebih baik. Saat ini kita telah ditipu, padahal Alloh telah memperingatkannya dalam al-Quran!

Demokrasi sebagai Tipu Daya
Demokrasi adalah bentuk tipu daya para Kapitalis untuk menguasai negeri-negeri kaum Muslimin karena demokrasi berdiri pada 3 azas. Ketika berekonomi maka Kapitalis yang bermain, ketika berkelakukan maka canderung menggunakan faham liberalisme dan ketika berpolitik cenderung sekuler.
Pada umumnya kita telah ditipu oleh para Kapitalis bahwa demokrasi menjadi wadah kepentingan rakyat. Anggpan demikian membuat umat ini memahami demokrasi hanya dari sisi prosedural saja tetapi tidak memahaminya lebih mendalam. Ketika setiap beranggapan bahwa demokrasi adalah sistem paling baik maka merka akan mendukung dan memperjuangkannya. Namun perjuangan mereka sia-sia karena ketika wakil mereka di Parlemen menjadi pengkhianat yakni dengan menyerahkan hak-hak rakyat kepada para Kaiptalis pemilik modal.
Para Kapitalis ini menyokong dana partai-partai terpilih untuk membuat Undang-undang yang sesuai dengan pesanan mereka. Maka aneh kalau banyak mahasiswa yang menolak Undang-undang yang pro Kapitalis tetapi justru meneriakan ‘demokrasi sebagai solusi’?! Aturan hidup seperti ini yang tidak diridloi Alloh SWT karena semua ini hanyalah bentuk tipu daya orang-orang kafir untuk menguasai tanah kaum Muslimin. Mereka menanam agen-agen mereka di berbagai penjuru dunia sehingga setiap jengkal tanah dibawah kontrol mereka.
Demokrasi pun melahirkan faham liberalisme dimana orang bebas untuk berfikir dan berkelakuan. Dalam kehidupan demokratis saat ini, lahirlah konsep hak azasi manusia yang menjauhkan manusia dari peringatan Alloh SWT. Orang tidak bisa melarang wanita telanjang karena itu adalah hak dia untuk seperti itu selama tidak menganggu orang lain. Liberalisme pun membuat kaum Muslimin berani menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan penafsiran semau gue sehingga lahirlah kaum Islam Liberal yang menjadi duri dalam daging umat ini.
Kaum Muslimin harus menyadari bahwa sistem pemerintahan yang demokratis bukanlah segala-galanya. Banyak orang memandang bahwa demokrasi lahir dari prinsip musyawarah untuk mufakat padahal itu adalah isapan jempol belaka. Konsep sesat ini telah meracuni umat sejak dia masih sekolah dasar hingga perguruan tinggi sehingga tebentuk pemikiran bahwa tiada sistem pemerintahan yang labih baik selain demokrasi. Umat ini menjadi bingung ketika menghadapi krisis sehingga bertanya. “Kalau demokrasi itu salah lalu dengan apalagi negeri ini akan diatur….?”. Awas, pertanyaan tersebut adalah bentuk dari sikap kita yang sekuler dimana tidak meyakini konsep Islam sebagai solusi. Umat ini sepertinya tidak yakin jika Islam menjadi pemimpin dalam panggung politik bahkan cenderung menjauhkan Islam dari politik. Seharusnya kita mendakwahkan Islam politis karena politik itu adalah mengurus urusan umat yang hukumnya wajib.
Banyak diantara kaum Muslimin ingin menjadikan politik Islam sebagai solusi dari segala krisis yang terjadi namun masih menjadikan demokrasi sebagai isu pergerakan mereka. Anggapan ini menjadikan banyak Partai Isam yang ikut dalam kancah Pemilu. Jika dicermati sebenarnya mereka sudah masuk ke dalam ‘lubang biawak’ yang sulit untuk keluar lagi. Pertama, hal itu merupakan kemaksiatan karena ikut nimbrung membuat hukum kufur. Kedua, umat semakin bingung antara yang haq dan bathil karena sudah biasa apabila parpol Isam masuk kedalam parlemen dengan alasan ‘perubahan secara bertahap’. Ketiga, memperkuat sekulerisme itu sendiri dan menjauhkan umat dari ukhuwah Islamiyyah karena nasionalisme dan fanatisme golongan sudah melekat dalam diri umat ini. (Baca, Nasionalisme mengalahkan Ukhuwah Islamiyyah di muhammadyusufansori.blogspot.com)

Hanya Islam sebagai Lawan dari Demokrasi
Ketika banyak orang membiaskan antara demokrasi dan Islam (bahkan adala istilah ‘demokrasi Islam) maka saya menawarkan kepada kaum Muslimin untuk segera meninggalkan cara berfikir demokratis dan merubahnya menjadi cara berfikir Islami. Dengan begitu, kita akan mengembalikan setiap permasalahan yang ada kepada Islam bukan kepada guru, ustadz, murobbi atau orang Islam Liberal. Hanya syariat Islam yang digali dari nash al-Quran dan As-Sunnah yang membuka hati dan pemikiran kita. Apabila setiap orang sudah memiliki cara berfikir Islami maka tidak akan ada lagi yang mendukung orang-orang fasik untuk duduk di parlemen dan mengendalikan kehidupan kita.
Ketika umat ini serempak untuk menjauhi penguasa fasik maka tegaknya kehidupan Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah akan segera terwujud. Kita jangan menjadi orang-orang yang rajin berdoa dan menitikkan air mata tetapi masih setuju dengan sistem demokrasi dan melakoninya. Padahal Alloh sudah mengabulkan doa kita untuk keluar dari krisis tetapi hati dan fikiran kita tertutup dari rahmat Alloh yakni konsep-konsep aturan Islam yang sudah ditawarkan oleh banyak ulama sebagai solusi. Marilah kita isukan di tengah-tengah umat bahwa sekulerisme, kapitalisme, nasionalisme dan demokrasi itu haram!

Rabu, 14 Januari 2009

Renungan Awal Tahun


Islam Politis sebagai Solusi Segala Krisis….

Secara kebetulan, awal tahun 1430 H beriringan dengan awal tahun 2009 M. Sepertinya Alloh SWT sudah merekayasa semua ini untuk memberikan jawaban kepada seluruh umat manusia khususnya umat Islam bahwa sudah seharusnya kita memiliki kehidupan baru. Pada awal tahun ini dunia digoncangkan dengan berbagai kejadian luar biasa sebagai sebuah peringatan.
Krisis global yang melanda sebagian besar belahan dunia menjadi sebuah pelajaran penting bagi kita bahwa dunia memerlukan perubahan. Kondisi ini sebagai sebuah peringatan bagi kita untuk segera melaksanakan hukum-hukum Alloh SWT sebagai solusi dari segala krisis yang ada. Sistem ekonomi kapitalisme tidak bisa menjadi acuan hidup seluruh umat manusia karena kenyataannya banyak orang yang tidak berdosa terkena imbas dari krisis ini.
Di depan mata kita, atau kita sendiri, menjadi korban krisis yang terjadi. Sekitar 1,6 juta orang Rata PenuhIndonesia siap menghadapi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tahun ini. Perkiraan ini diperkuat dengan merosotnya dunia usaha sehingga kinerja ekspor komoditas pun turun 30 % (Media Indonesia, 2/1/2009). Kondisi ini sangat berpengaruh pada beban ekonomi masyarakat yang semakin sulit. Apalagi saat ini sulit sekali mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup walaupun Pemerintah RI sudah menawarkan berbagai kredit usaha yang sarat dengan riba.
Merebaknya PHK di berbagai penjuru dunia mengundang banyak efek negatif sebagai imbas dari krisis ekonomi global. Tekanan ekonomi memaksa seseorang untuk berbuat apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meningkatnya tindakan kriminal di tengah masyarakat menjadi ekses negatif kondisi sosial masyarakat yang tidak bisa dicegah. Banyak orang yang sudah kehilangan akal sehat untuk mencuri, menjual diri bahkan bunuh diri. Jangan merasa aneh bila dalam waktu satu tahun kedepan akan semakin banyak kriminalitas di lingkungan tempat tinggal kita.
Ketika banyak orang sedang dilanda keresahan, tiba-tiba akan banyak muncul ‘Pahlawan Kesiangan’ menawarkan janji-janji kosong tentang perbaikan nasib bangsa. Mereka tidak menghiraukan apa sebenarnya yang mereka katakan, walaupun hati kecil mereka tahu bahwa mereka sedang ‘menantang Alloh’ untuk menyelesaikan masalah yang ada. Isu-isu yang mereka angkat adalah isu basi dimana secara hitung-hitungan sulit untuk mereka tepati. Namun, kebodohan umat ini telah mereka manfaatkan demi secuil kekuasaan dibandingkan kuasa Alloh SWT yang meliputi seluruh alam ini.
Janji-janji kosong penguasa ini menjadikan banyak orang bersikap apatis terhadap kondisi di sekitarnya. Mereka sudah tidak peduli nasib saudaranya sesama Muslim. Apatisme ini menjadi ‘racun’ dimana umat alergi untuk berpolitik. Mereka beranggapan bahwa politik adalah kotor, bohong, keji dan berbagai anggapan lainnya. Padahal politik adalah mengurus urusan umat yang sifatnya wajib bagi setiap Muslim. Apabila umat sudah bersikap apatis, maka mereka pun tidak percaya juga terhadap solusi Islam yang ditawarkan oleh berbagai kalangan aktifis Islam. Mereka sibuk dengan doa’-doa’ mereka kepada Alloh sehingga mereka menjauhkan diri dari aktifitas politik. Bagi mereka, Islam tidak boleh dikaitkan dengan masalah politik sehingga beranggapan Islam hanya mengurus urusan ibadah ritual saja. Padahal tidak demikian!
Sikap apatisme ini menjalar ketika pada pergantian tahun ini saudara-saudara kita di Palestina dibombardir oleh tentara Israel. Banyak diantara kita beranggapan bahwa masalah Palestina bukanlah masalah kita sebagai umat Islam di Indonesia. Anggapan ini lahir karena adanya nasionalisme diantara kita yang sudah memisahkan rasa persatuan kita sebagai umat Islam di seluruh dunia. Nasionalisme telah memisahkan setiap umat Islam di penjuru dunia dan tersibukan dengan urusan negaranya masing-masing. Bahkan, mereka menyerahkan urusan Palestina kepada PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan memalingkan solusi syar’i yakni tegaknya Daulah Islam untuk mengakomodir umat untuk berjihad.

Siapa yang Salah?
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Pemerintah dalam krisis yang sedang dihadapi. Justru, kita harus menyalahkan diri sendiri yang ‘rela’ untuk diatur oleh ideologi kapitalisme atas dasar aqidah sekulerisme. Kita sendiri yang memilih mereka untuk menjadi pemimpin dalam mengurusi umat ini. Kita sendiri yang memilih mereka dalam Pemilu sebelumnya atau akan memilih mereka lagi pada 9 April nanti?
Sebagian besar diantara kita menjadi orang-orang yang suka menuduh orang lain ketika dihadapkan pada situasi yang sulit. Padahal situasi ini kita sendiri yang menciptakannya. Banyak diantara kita justru semakin jauh dari Alloh SWT yang telah memperingatkan bahwa semua krisis ini pasti akan terjadi ketika umat ini tidak menjadikan Islam sebagai aturan hidupnya.
Banyak diantara kita yang sangat mudah diadu domba karena menjadikan manusia sebagai tumpuan terhadap masalah yang sedang terjadi. Bercermin pada era Reformasi 98, banyak harapan didepan mata tetapi ternyata itu hanyalah angan-angan kosong karena kita sendiri masih percaya kepada manusia sebagai ‘Dewa Penyelamat’. Kalau begitu, siapa lagi yang akan kita percayai selain Alloh SWT?!

Caranya?
Banyak diantara kita sering bertanya, bagaimana caranya untuk keluar dari segala krisis ini?
  • Pertama, kita sendiri harus memperkuat aqidah dengan senantiasa mempelajari Islam. Dengan begitu, akan terbentuk cara pendang Islami dalam menyikapi kehidupan. Pengetahuan kita tentang Islam akan senantiasa bertambah sehingga ada ketertarikan kepada Islam.
  • Kedua, jauhi sikap hidup sekulerisme dimana kita masih beranggapan bahwa Islam tidak bisa menjadi solusi atas krisis yang ada. Sikap ini menjadikan manusia membedakan antara kehidupan dunia dan akhirat! Kemudian selanjutnya menjauhkan mereka dari Alloh SWT.
  • Ketiga, tingkatkan rasa kepedulian kepada sesama saudara kita sehingga akan tergerak untuk bersama-sama keluar dari krisis yang ada.
  • Keempat, mari bersama-sama untuk berdakwah di tengah-tengah kita karena dengan dakwah akan tercipta opini yang sama tentang ‘Islam sebagai Solusi’. Semarakan dakwah di mesjid, rumah, sekolah, kampus, kantor, radio, televisi bahkan di tengah sawah!
  • Kelima, mari tingkatkan kepedulian politik kita dengan senantiasa mendakwahkan Islam yang bersifat politis.
Insya Alloh, tidak akan ada kebuntuan dalam hidup kita saat ini apabila bersama-sama menuju solusi yang satu. Tidak akan ada lagi yang memilih solusi lain selain solusi Islam. Sering kita dibingungkan dengan Islam yang terlalu luas, padahal solusi itu kita sendiri yang menjalankannya!

Selasa, 16 Desember 2008

Asumsi yang Keliru tentang Subsidi BBM

Setelah didesak oleh berbagai kalangan, akhirnya Pemerintah menurunkan kembali harga premium dari Rp. 5.500 menjadi Rp. 5000 dan solar dari Rp. 5.500 menjadi Rp. 4.800. Penurunan tersebut mengikuti turunnya harga minyak dunia yang mencapai level terendah setelah mengalami kenaikan hingga $ 135 per barel beberapa waktu lalu. Kebijakan ini disambut baik oleh masyarakat pengguna premium walaupun terbilang telat bila dibandingkan dengan Malaysia yang telah menurunkan harga BBM hingga 7 kali sejak harga minyak dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah penggunaan minyak sebagai sumber energi oleh manusia.

Namun, penurunan harga premium dan solar ini tidak diikuti langsung oleh penurunan minyak tanah. Pemerintah beralasan bahwa premium digunakan oleh orang-orang ‘kaya’ sedangkan minyak tanah digunakan oleh orang-orang ‘miskin’. Asumsi yang keliru ini membuat harga premium dan solar di pasaran tidak jauh berbeda yakni Rp. 200 per liter. Pemerintah berasumsi bahwa subsidi BBM harus tepat sasaran sehingga mengkonsentrasikan subsidi hanya pada minyak tanah dan solar.

Harga premium sekarang ini merupakan harga tanpa subsidi sehingga apabila suatu saat harga minyak dunia kembali turun maka seharusnya harga premium pun kembali turun bahkan lebih murah dari harga solar. Asumsi ini lahir karena ada anggapan bahwa kenaikan harga BBM Mei lalu mengikuti harga minyak dunia. Kalau begitu, kenapa penurunan harga premium tidak diikuti oleh menurunnya harga BBM yang lain?

Pemerintah punya alasan sendiri untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, APBN yang telah dirancang digunakan untuk 1 tahun hingga tutup buku 31 Desember mendatang sehingga pemerintah mengalami kesulitan untuk merubah anggaran subsidi BBM yang sangat tinggi. Kedua, kurs rupiah terhadap dollar Amerika yang masih tinggi yakni diatas Rp. 10.000 sehingga kondisi ini dapat mempengaruhi anggaran ‘untuk membayar utang luar negeri’ Indonesia yang sangat tinggi sedangkan Pemerintah tidak memiliki cadangan devisa yang mencukupi. Ketiga, kondisi ini dijadikan alasan kuat Pemerintah untuk menjalankan program konversi minyak tanah ke gas walaupun masih banyak kendala seperti langkanya gas di pasaran hingga harganya melambung tinggi. Sepertinya, akan banyak alasan lain sembari menunggu turunnya harga solar dan minyak tanah.

Begitulah bila Pemerintah salah dalam mengasumsikan subsidi BBM untuk masyarakat. Anggapan bahwa subsidi diberikan kepada ‘orang’-nya menjadi bumerang untuk Pemerintah. Rakyat pun akan menuntut janji pemerintah untuk seantiasa mengutamakan rakyat miskin. Seharusnya subsidi diberikan kepada ‘barang’-nya walaupun terkesan Pemerintah ‘memukul rata’ dan tidak berpihak kepada ‘wong cilik’. Namun, asumsi ini ada banyak keuntungan bila dijalankan, seperti: Pertama, Kejadian sedikitnya perbedaan harga solar dan premium tidak akan terjadi karena subsidi adalah milik rakyat tanpa memandang si kaya dan si miskin. Kedua, penyimpangan distribusi akan bisa diminimalisir sehingga tidak akan ada penyelundupan minyak tanah dari daerah (dengan harga murah) ke Jakarta (dengan harga tinggi). Ketiga, daya beli masyarakat akan lebih baik karena rendahnya harga komoditas di pasaran. Walau bagaimana pun, masih banyak kendaraan pengangkut barang yang menggunakan premium dan solar sehingga berpengaruh pada ongkos kirim dan harga komoditas bersangkutan. Keempat, Anggaran negara dapat sedikit berhemat karena tidak harus membagikan tabung dan kompor gas kepada masyarakat yang sudah jelas banyak penyimpangan.

Memang, bila asumsi subsidi ‘barang’ ini dilakukan tidak akan jelas terlihat oleh masyarakat kinerja dari Pemerintah tetapi akan dirasakan langsung karena tidak terjadi lonjakan harga yang ‘menggila’ seperti saat ini. Daya beli masyarakat akan lebih stabil dan pertumbuhan ekonomi sektor riil akan jelas terlihat tidak seperti saat ini yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari sektor non-riil.

Pemerintah jangan hanya berniat merebut hati rakyat dalam rangka Pemilu 2009 tetapi harus benar-benar menjalankan kebijakan sesuai dengan perhitungan yang ada. Hal ini terlihat dengan pengumuman yang terkesan terburu-buru sehingga walaupun harga premium turun ternyata masih banyak SPBU yang tidak siap karena mereka masih menjual stock lama dengan harga lama. Saya yakin, sebenarnya pemerintah pun mengerti asumsi ini tetapi sepertinya ada banyak kepentingan yang bermain di negeri ini dan mereka lebih memilih kepentingan ‘lain’ itu daripada kepentingan rakyat banyak.

Penurunan harga premium ini disambut gembira oleh para pengguna kendaraan pribadi namun tidak disambut baik oleh para pengguna kendaraan umum karena harga solar masih tinggi. Ongkos perjalanan masih terbilang tinggi dan kecil kemungkinan akan langsung turun karena harga suku cadang masih tinggi. Apalagi ditambah oleh terbakarnya kilang minyak di Dumai (16/12) dan ini dijadikan alasan kelangkaan premium dan solar menjelang didistribusikannya harga baru. Kalau begitu, meskipun Pemerintah sudah menurunkan harga premium dan solar tetapi tidak akan serentak turun karena masih terjadi kelangkaan seperti awal Desember lalu.

muhammadyusufansori.blogspot.com

Muhammad Yusuf Ansori

Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, tinggal di Kp. Citamiang Ds. Sukamerang Kersamanah-Garut


Senin, 01 Desember 2008

Akhir dari Korporatokrasi

Ketika krisis ekonomi global sedang melanda dunia ini maka sebenarnya adalah penantian ajal dari korporatokrasi. Bursa-bursa saham di beberapa negara mengalami keguncangan karena adanya krisis yang melanda Amerika sebagai negara adidaya. Kondisi ini juga ternyata dirasakan oleh para pengusaha  di Indonesia dengan ditandai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 10, 38 % (8/10/2008). Wajar saja kalau orang Indonesia kecipratan imbasnya karena pada dasarnya pengusaha yang ada di Indonesia adalah kepanjangan tangan para pengusaha asing.

Ya, setiap jengkal dari tanah di dunia ini telah dikuasai oleh para korporat yang selalu menancapkan kukunya yang tajam (John Perkins, Pengakuan Bandit Ekonomi, 2007).  Entah disadari ataukah tidak, tidak ada kedaulatan rakyat di dunia ini tapi yang ada hanyalah kedaulatan para pengusaha yang menjadi penguasa. Mereka seperti gurita yang merangkul dunia ini dengan tentakel-tentakelnya yang banyak dan panjang. Keserakahan mereka membuat dunia ini rusak dan tidak teratur.

Kalaulah mereka masih mempunyai sedikit iman maka sekaranglah saatnya mereka bertobat karena begitu banyak dosa mereka di dunia ini. Asap-asap pabrik milik mereka yang mengotori angkasa menyebabkan pemanasan global sehingga banyak para petani yang tidak bercocok tanam karena sawahnya kering. Sudah terlalu banyak kaum papa yang semakin miskin karena sulit menghidupi dirinya sendiri. Setiap jengkal tanah milik mereka dicuri oleh para korporat yang gila kekuasaan.

Dalam benak para korporat hanyalah uang dan kekuasaan sehingga mereka pun rela mengeluarkan uang milyaran dollar hanya untuk membiayai kampanye para agennya yang ditanam di parlemen. Melalui para agennya ini setiap Undang-undang yang dibuat disesuaikan dengan pesanan para korporat. Maka wajar jika setiap kebijakan Pemerintah jarang yang berpihak pada rakyat kecil. Republik ini dibentuk bukan untuk melayani ‘publik’ tetapi dibuat untuk melayani ‘pabrik’. Saya sering bertanya, siapa sesungguhnya yang berkuasa?

Kehidupan di dunia ini seperti roda yang berputar. Ada saatnya ketika para pengusaha super kaya itu berkuasa dan bisa mengendalikan dunia namun ada saatnya ketika mereka harus mengemis kepada rakyatnya hanya untuk mempertahankan eksistensi mereka. Hal ini terjadi ketika Pemerintah Amerika mengocorkan dana untuk menolong para pengusaha yang sebentar lagi mengakhiri riwayatnya (BBC World Service). Tentu saja bantuan itu adalah uang rakyat Amerika yang dikumpulkan melalui pajak, bea, cukai dan berbagai mekanisme pengumpulan uang. Namun aneh, mengapa harus rakyat Amerika yang meanggung kebangkrutan mereka?

Saya yakin ini semua _cepat atau lambat_ adalah akhir dari kisah koporatokrasi. Kebangkrutan yang terjadi adalah buah tangan mereka sendiri yang tidak mempunyai hati nurani ketika mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alam negeri ini. Mereka adalah manusia _bukan Tuhan_ yang tidak bisa memprediksi masa depan hanya dengan melihat angka-angka pertumbuhan ekonomi di layar komputer. Seringkali perkiraan mereka meleset dan akhirnya mereka terperosok kedalam jurang kehancuran. Lihatlah, berbagai krisis di belahan dunia akibat ulah mereka!

 (pernah dimuat di Media Indonesia, 11 Nopember 2008)

Kemaksiatan Ideologis


Kemaksiatan Ideologis
Ideologi adalah aqidah aqliyah yang memancarkan peraturan-peraturan kehidupan (An-Nabhani, 2007). Setiap ideologi pasti dianut oleh individu di bumi ini dengan senantiasa mengakar dalam berbagai aspek kehidupannya, dari cara dia makan hingga cara mengatur negara. Aqidah sekulerisme sebagai landasan hidup ideologi Kapitalisme menjadikan orang senantiasa berbuat untuk mencari nilai manfaat tanpa mempedulikan aturan agamanya. Setiap orang beranggapan bahwa kehidupan ini hanya untuk mencari materi sehingga dia memisahkan aturan duniawi dengan aturan agamanya. Penyebaran ideologi ini melalui berbagai cara menjadikan hampir setiap manusia di muka bumi menganut ideologi ini.
Hingga saat ini ideologi kapitalisme telah menjelma menjadi sebuah masyarakat dengan ciri yang khas karena begitu banyak orang yang menganutnya. Ideologi ini seperti gurita yang menjulurkan tentakelnya ke setiap penjuru dunia dengan berbagai cara melalui media massa, pendidikan, intimidasi ekonomi dan gerakan politik. Ide sekulerisme sebagai pijakannya membuat orang memiliki karakter yang rendahnya melebihi binatang (QS Al-Furqon ayat 44).
Budaya pop ideologi Kapitalisme adalah segala pemikiran, ide, konsep ataupun cara hidup manusia yang lahir dari ideologi tersebut secara alami. Kerusakan budaya ini membuat orang memiliki cara berpikir yang rusak serta tidak terarah sehingga kehidupannya penuh dengan keresahan dan ketidakpastian. Kekosongan spiritual seseorang menjadikannya tidak memiliki tumpuan hidup karena sudah mengabaikan aspek ruhiyah padahal itu adalah suatu keniscayaan sebagai fitrah yang dimiliki manusia.

Konsumerisme
Karakter yang jelas terlihat dari masyarakat kapitalis adalah konsumtif. Konsumerisme menjadi senjata ampuh bagi roda pergerakan ekonomi Kapitalisme. Setiap individu ‘dipaksa’ untuk bersikap konsumtif walaupun harus menggunakan uang pinjaman dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dibandingkan logika. Akibatnya, banyak penduduk yang terlilit utang kepada lembaga keuangan seperti yang saat ini terjadi di Amerika (Kapitalisme di Ujung Tanduk, Adnan Khan, 2008).
Budaya konsumerisme ini bukan hanya terbatas dalam memenuhi kebutuhan primer seperti sandang, papan dan pangan tetapi sudah merambah kedalam gaya hidup yang tidak terarah. Pernahkan kita bertanya, kenapa begitu banyak orang yang suka mengkonsumsi minuman beralkohol padahal itu barang haram dan membahayakan? Gaya hidup seperti ini terkesan hanya menghamburkan uang dalam rangka memenuhi keinginan yang tidak terukur.

Hedonisme
Bagi masyarakat kapitalisme, memenuhi keinginan hawa nafsu adalah bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa memandang norma-norma agama. Budaya hedonistik menjadi sesuatu yang biasa dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi. Hedonisme tidak hanya berlaku untuk mengobati stress belaka tetapi sudah merambah pada kemaksiatan lain sebagai turunannya.
Sex bebas dan hura-hura saat ini sudah menjadi budaya anak-anak muda dengan alasan hak azasi tanpa harus diganggu. Pada awalnya konsep hak azasi manusia untuk melindungi orang dari segala bentuk penindasan, tetapi berkembang menjadi cara berpikir ‘semau gue’. Konsep hak azasi manusia ini sepertinya sudah kebablasan hingga menyentuh masalah ‘pribadi’ yang seakan tidak boleh diganggu padahal dalam Islam ada aturan untuk mengendalikan kondisi pribadi manusia.


Individualisme
Jangan aneh jikalau banyak diantara kita yang bersikap individualistik sehingga tidak saling mengenal dan tidak peduli nasib sesama Muslim. Individualisme sudah menjadi budaya masyarakat kapitalisme karena mereka menganggap masyarakat ini terdiri dari individu-individu yang terpisah. Padahal masyarakat merupakan satu kesatuan yang integral dimana setiap individu saling berinteraksi dan saling peduli. Dalam Islam, masyarakat seperti satu tubuh yang apabila salah satu diantara mereka merasakan sakit maka bagian tubuh yang lain pun merasakan hal yang sama.
Kemiskinan di setiap sudut kota adalah buah dari ketamakan dan keserakahan para kapitalis yang menghisap darah rakyat jelata. Mereka seakan tidak peduli akan kondisi di sekitarnya. Gedung-gedung pencakar langit diantara perumahan kumuh menjadi simbol kerserakahan mereka. Semua itu terjadi karena sistem ekonomi kapitalisme yang semakin memperdalam jurang antara si kaya dan si miskin akibat dari pola distribusi kekayaan yang tidak merata.

Pragmatisme
Saat ini pragmatisme politik sudah menjadi tren diantara para politikus dalam meraih kekuasaan. Mereka tak segan-segan untuk sogok sana sogok sini demi secuil kekuasaan sesaat. Sikap ini berpengaruh luas pada sebagian besar masyarakat dalam menyikapi kehidupan. Jangan aneh jika ada ulama yang berdakwah demi mencari uang; mahasiswa rajin belajar demi mencari gelar akademis; atau muda-mudi berpacaran untuk memuaskan nafsunya belaka. Orang menganggap semua hal yang dilakukan hanya untuk mengambil manfaatnya padahal Islam mengajarkan pada kita bahwa hidup ini untuk ibadah kepada Alloh. Bekerja, bermasyarakat, bernegara bahkan berkeluarga adalah wujud ibadah kepada Alloh SWT tidak sekedar mencari kebahagiaan sesaat. Bagi seorang muslim parameter kebahagiaan ini adalah ridlo Alloh SWT.

Prularisme
Ada banyak orang menganggap bahwa agama apa pun sama selama dia mengajarkan kebaikan adalah benar. Pluralisme agama menjadi tren masa kini sehingga orang merasa tidak percaya diri dengan ke-Islamannya. Jangankan bersedia untuk menjalankan semua syariatnya, justru mereka menolak diterapkannya syariat Islam dengan alasan toleransi beragama. Menurut anggapan mereka syariat Islam melanggar Hak Azasi Manusia karena tidak menghargai manusia sebagaimana mestinya.
Bagi mereka, agamanya hanyalah pemuas dahaga spiritual manusia. Seharusnya agama dijadikan landasan dalam berpikir dan bertindak sehingga kehidupan manusia akan senantiasa lebih terarah. Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadikan setiap konsep pemikirannya pemandu kehidupan sehingga terbentuk masyarakat yang syar’i.

Demokrasi
Begitupun demokrasi menjadi hal yang dijunjung tinggi dibandingkan keimanan kepada Alloh SWT dengan menjalankan semua perintahnya dalam berbagai aspek. Manusia sudah berani untuk membuat aturan diatas aturan Alloh SWT. Secara sadar atau tidak sadar, inilah kemaksiatan terbesar dibandingkan kemaksiatan lainnya. Kemaksiatan sistematis ini membuat semua bentuk kehidupan manusia menjadi jauh dari Islam.
Banyak orang beranggapan bahwa kemaksiatan yang terjadi adalah buah dari kemerosotan akhlaq. Padahal kemerosotan akhlaq hanyalah turunan dari demokrasi sebagai kemaksiatan terbesar dimana manusia sudah mengabaikan ajaran Alloh SWT dalam menata kehidupan ini.

Mari Tinggalkan Semua Itu…….
Sudah saatnya kita meninggalkan semua serangan pemikiran sesat itu dengan menjadikan pemikiran Islam sebagai ‘lawan tandingnya’. Insya Alloh, hanya dengan pemikiran Islam semua itu dapat diakhiri. Pemikiran Islami lahir dari ideologi Islam dengan akidah Islam sebagai landasan. Akidah Islam tidak pernah membedakan antara apsek spiritual dan aspek meterial. Masyarakat Islam berdiri diatas aturan Islam yang mengatur cara ibadah ritual hingga mengatur negara. Kekosongan spiritual yang dialami masyarakat Kapitalis tidak terjadi karena secara alami masyarakat Islami akan terbentuk.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Melawan Budaya Pop Kapitalisme




Hingga saat ini kapitalisme menjelma menjadi sebuah masyarakat dengan ciri yang khas. Ideologi ini seperti gurita yang menjulurkan tentakelnya ke setiap penjuru dunia dengan berbagai cara melalui media masa, pendidikan, intimidasi ekonomi dan gerakan politik. Ide sekulerisme sebagai pijakannya membuat orang memiliki karakter yang rendahnya melebihi bintang (QS. Al-Furqon ayat 44).
Karakter yang jelas terlihat dari masyarakat kapitalis adalah konsumtif. Konsumerisme menjadi senjata ampuh bagi roda pergerakan ekonomi Kapitalisme. Settiap invidu ‘dipaksa’ untuk bersikap konsumtif walaupun harus menggunakan uang pinjaman dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak membedakan antara kebutuhan dengan keinginan sehingga mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dibandingakn logika. Akibatnya, banyak penduduk yang terlilit utang kepada lambaga keuangan seperti yang saat ini terjadi di Amerika (Kapitalisme di Ujung Tanduk, Adnan Khan, 2008).
Bagi masyarakat kapitalisme, memenuhi keinginan hawa nafsu adalah bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa memandang norma-norma agama. Budaya hedonistik menjadi sesuatu yang biasa dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi. Sex bebas dan hura-hura saat ini menjadi budaya anak muda dengan alasan hak azasi tanpa harus diganggu.
Jangan aneh jikalau banyak diantara kita yang bersikap individualistik sehingga tidak saling mengenal dan tidak peduli nasib sesama muslim. Individualisme sudah menjadi budaya masyarakat kapitalisme karena mereka menganggap masyarakat ini terdiri dari individu-individu yang terpisah. Padahal masyarakat merupakan satu kesatuan yang integral dimana setiap individu saling berinteraksi dan saling peduli. Dalam Islam, masyarakat seperti satu tubuh yang apabila salah satu diantara mereka merasakan sakit maka bagian tubuh yang lain pun merasakan hal yang sama.
Kemiskinan di sudut kota adalah buah dari ketamakan dan keserakahan para kapitalis yang menghisap darah rakyat jelata. Gedung-gedung pencakar langit diantara perumahan kumuh menjadi simbol keserakahan mereka. Semua itu terjadi karena sistem ekonomi kapitalisme yang semakin memperdalam jurang antara si kaya dengan si miskin akibat pola distribusi kekayaan yang tidak merata.
Saat ini pragmatisme politik sudah menjadi tren diantara para politikus dalam meraih kekuasaan. Mereka tidak segan-segan untuk sogok sana sogok sini demi secuil kekuasaan seaat. Sikap ini berpengaruh luas pada sebagian besar masyarakat dalam menyikapi kehidupan. Orang menganggap semua hal yang dilakukan hanya untuk mnengambil manfaatnya saja padahal Islam mengajarkan paada kita bahwa hidup ini untuk ibadah kepada Alloh. Bekerja, bermasyarakat, bernegara bahkan berkeluarga adalah wujud ibadah kepada Alloh SWT tidak sekedar mencari kebahagiaan sesaat. Bagi seorang muslim parameter kabahagiaan ini adalah ridlo Alloh SWT.
Ada banyak orang menganggap bahwa apapun sama selama dia mengajarkan kebaikan. Pluralisme agama menjadi tren mas kini sehingga merasa tidak percaya diri dengan ke-Islamannya. Jangankan bersedia untuk menjalankan semua syariatnya, justru mereka menolak diterapkannya syariat Islam dengan alasan toleransi beragama. Menurut anggapan mereka syariat Islam melanggar Hak Azasi Manusia karena tidak menghargai manusia sebagaimana mestinya. Begitupun demokrasi menjadi hal yang dijunjung tinggi dibandingkan keimanan kepada Alloh SWT dengan menjalankan semua perintahnya dalam berbagai aspek.
Sudah saatnya kita meninggalkan semua serangan pemikiran sesat itu dengan menjadikan pemikiran Islam sebagai ‘lawan tandingnya’. Insya Alloh, hanya dengan pemikiran Islam semua itu dapat diakhiri.

Jumat, 17 Oktober 2008

Dakwah Yuk!


Menggerakan Umat Membangun Masa Depan


Kenapa Umat Islam Terpuruk?
Sebagaimana kita tahu, umat Islam saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kondisi sosial, ekonomi dan politik sebagian besar negeri kaum Muslimin berada dalam kondisi paling mengerikan sepanjang sejarahnya. Tidak terkecuali kondisi negeri ini yang dipenuhi berjuta-juta kaum Muslimin terus-menerus mendapat cobaan (azab) dari Alloh SWT dengan krisis multidimensi yang tak kunjung terselesaikan.
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab semua kemunduran umat Islam saat ini. Namun, kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata faktor terbesar kemunduran ini ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.
 Kemunduran kaum Muslimin tampak ketika mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran agamanya sendiri;
 Membiarkan peradaban asing masuk menyerbu mereka tanpa dapat memilah mana yang sesuai dengan syara’ dan yang bertentangan dengan agama;
 Membiarkan faham-faham Barat bercokol dalam benak mereka sehingga mereka kesulitan untuk membedakan antara faham yang berasal dari pemahaman Islami dengan faham yang timbul dari faham Barat seperti sekulerisme, demokrasi bahkan sosialisme.
Kemunduran kaum Muslimin tampak ketika mereka tidak lagi mengemban dakwah Islam di tengah-tengah umat manusia sehingga mereka tidak lagi memiliki pemikiran yang Islami. Pemikiran Islami ini dapat membendung umat dari segala macam perkembangan zaman yang sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Dengan begitu, umat akan pandai memilih segala macam faham yang merasuki pikiran umat Islam.
Dengan adanya dakwah Islam pemikiran Islami pun akan senantiasa terjaga dan menjadi ciri khas dari masyarakat Islam yang berbeda dengan masyarakat Sekuler-kapitalisme atau sosialis-komunisme. Pemikiran Islami merupakan segala macam ide dan pemikiran yang berasal dari aqidah Islam. Pemikiran Islami ini akan memimpin umat dalam menjalankan tugas manusia sebagai hamba Alloh di muka bumi sehingga manusia tidak keluar dari apa yang telah digariskan oleh Alloh dalam al-Quran dan as-sunah. Pemikiran Islami ini juga akan memimpin umat untuk membentuk sebuah peradaban berdasarkan syariat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.

Dakwah, Suatu Kewajiban
Untuk itu, ditengah-tengah umat ini harus ada dakwah Islam yang mengemban qiyadah fikriyah Islamiyah (kepemimpinan berfikir dalam islam). Dakwah yang disampaikan oleh para da’i pun sepatutnya berisi ajakan untuk kembali kepada qiyadah fikriyah Islamiyyah. Dakwah yang dilakukan tidak sekedar menyampaikan indahnya Islam dalam aspek ritual belaka tetapi harus ada perubahan ‘isi’ dakwah tersebut menjadi dakwah dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam.
Bisa jadi kenapa dakwah Islam saat ini sulit untuk membangkitkan umat dikarenakan umat sudah digiring untuk jauh dari qiyadah fikriyah Islamiyah secara tidak sengaja. Apabila para da’i menyampaikan Islam hanya aspek ritual saja maka secara tidak langsung mengajak umat untuk berpikiran sekuler. Sebagian besar umat Islam memandang bahwa agama Islam ini hanya agama ritual yang mengatur urusan antara hamba dengan Tuhannya (sekulerisme). Umat sudah membedakan antara kehidupan duniawi dengan kehidupan ukhrowi sehingga mereka beranggapan bahwa agama tidak boleh hadir dalam kancah kehidupan sehari-hari. Mereka beranggapan bahwa Islam hanya boleh ada di Mesjid dan majlis ta’lim padahal Islam juga mengatur urusan ekonomi, sosial bahkan politik.
Dakwah Islam saat ini hendaknya disampaikan dengan metode yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Rosululloh. Secara garis besar dakwah Rosululloh terbagi kedalam tiga tahapan dakwah yakni 1) pembinaan; 2) berinteraksi dengan umat dan 3) meraih kekuasaan. Kekuasaan Islam nanti pun akan selalu mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan politik luar negerinya yakni dakwah dan jihad.
Pembinaan umat dapat dilakukan melalui berbagai majelis-majelis ilmu yang berisi seruan untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam. Pada prakteknya, pola pembinaan dapat berupa mentoring, kajian ilmiah atau seminar ilmiah dengan menyampaikan ide bahwa Islam adalah solusi dari berbagai permasalahan umat. Majelis-mejelis ilmu yang ada harus memiliki pola dalam rangka membina umat tidak sekedar tablig tanpa menyentuh pemikiran umat. Pembinaan umat ini diharapkan akan melahirkan kader-kader dakwah yang akan senantiasa berinteraksi dengan umat.
Interaksi kader dakwah dengan umat harus interaksi ilmiah bukan sekedar interaksi fisiknya saja. Kader dakwah senantiasa ‘membenturkan’ pemikiran umat yang sekuler dengan pemikiran Islami yang akan mengubah sikap umat terhadap Islam. Apabila telah terjadi interaksi pemikiran, maka diharapkan terbentuk opini Islam di tengah-tengah umat. Seiring berjalannya waktu opini Islam yang sudah kuat ini akan menghantarkan umat untuk meraih kekuasaan. Insya Alloh, jika opini Islam ini sudah menguasai seluruh elemen umat maka penguasa pun akan menyerahkan kekuasaannya kepada umat untuk dipimpin dengan syariat Islam.

Dakwahkah Islam dengan Terus Terang
Ada suatu fenomena yang sudah menjadi ‘penyakit’ para pengemban dakwah yakni perasaan takut idenya tidak terima oleh masyarakat. Sering diantara kita memilah-milah materi dakwah dengan membedakan opini ‘ringan’ dan opini ‘berat’. Mungkin masyarakat menganggap aneh jika ada da’i yang berbicara politik di mimbar masjid sehingga da’i tersebut tidak menyampaikan isu politik dalam setiap majelisnya. Bisa jadi perasaan takut tidak diterima tersebut datang dari syetan yang mengganggu hati dan perasaan kita.
Demikianlah seharusnya dakwah Islam dilakukan dengan sikap dan tindakan yang terus terang, menentang segala adat istiadat, kebiasaan, ide-ide sesat dan persepsi yang salah bahkan menentang opini umat yang keliru, sekalipun untuk ini dia harus bermusuhan. Begitu pula dia akan menentang kepercayaan-kepercayaan dan agama yang ada, sekalipun harus berhadapan dengan kefanatikan para pemeluknya atau harus menghadapi kebencian orang yang dungu dengan kesesatannya.
Ketika kita menyampaikan Islam kepada non-Muslim harus kita sampaikan bahwa hanya Islam-lah yang benar. Kita harus menyampaikan bahwa hanya Islam yang menjadi solusi atas setiap krisis yang ada. Jangan pernah ada ide dalam benak kita untuk melakukan ‘dialog antar agama’ yang menyatakan bahwa solusi negeri ini akan terselesaikan dengan adanya kerukunan antar umat beragama dan mengembalikan semua masalah kepada agama tanpa memandang apapun agamanya. Dengan begitu mereka menganggap bahwa agama Kristen _atau yang lain_ pun dapat menjadi solusi atas krisis yang terjadi. Jika kita memperhatikan, opini ini justru akan mengalihkan umat dari syariat Islam karena umat Islam pun beranggapan bahwa seluruh agama adalah benar dan dapat menjadi solusi atas berbagai masalah.

Keberhasilan Dakwah
Berhasil atau tidaknya dakwah tidak ditentukan oleh banyak atau tidaknya pengikut dari seorang da’i atau kelompok dakwah tetapi ditentukan oleh seberapa besar kekuatan pemikiran umat untuk menjadikan Islam sebagai solusi. Sudah banyak contoh di tengah kita ketika para da’i banyak ditinggalkan oleh para pengikutnya karena dia tidak dapat mengikat pengikutnya dengan pemikiran yang Islami. Rahasia keberhasilan dakwah Islam adalah keberadaannya yang dinamis dan mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan manusia secara utuh, sehingga terjadi perombakan yang menyeluruh terhadap diri manusia.
Keberhasilan dakwah pun tidak diukur dengan banyaknya sarana fisik yang sudah dibangun oleh seorang da’i atau kelompok dakwah. Sudah banyak contoh dimana banyak ormas Islam yang mendirikan berbagai sarana fisik (seperti sekolah, rumah sakit, islamic centre dll.) tetapi tidak dapat membawa umat ke arah yang lebih baik. Apabila kita memiliki cara berfikir demikian maka Insya Alloh kita pun akan mengkonsentrasikan dakwah Islam pada perbaikan pemikiran umat bukan disibukkan dengan membangun berbagai sarana fisik yang menghabiskan banyak biaya.
Sering kita berpikir jika dakwah itu sudah berhasil apabila sudah dapat merubah individu menjadi manusia yang lebih beradab. Padahal, dakwah Islam adalah dakwah merubah masyarakat bukan sekedar merubah individu. Bisa jadi kita sulit untuk mengajak saudara kita menuju Islam namun bukan berarti kita berhenti dakwah dan stagnan sampai disana. Rosululloh tidak dapat merubah paman beliau hingga memeluk Islam tetapi ternyata beliau dapat merubah masyarakat Quraisy menjadi masyarakat Islam. Apalagi Islam memandang bahwa masyarakat tidak sekedar kumpulan individu yang terpisah tetapi masyarakat adalah kesatuan yang integral dengan pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama.

Syurga Menantimu!
Didepan kita begitu banyak tantangan yang menghadang jalan dakwah Islam mulai dari godaan pada diri kita hingga makar orang kafir yang senantiasa merongrong. Namun, para pengemban dakwah akan senantiasa menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah pada jalan kesempurnaan, selalu mengkaji dan mencari kebenaran, serta senantiasa meneliti kembali secara berulang-ulang setiap sesuatu yang sudah mereka ketahui agar dapat dibersihkan dari segala pemikiran asing yang mungkin mempengaruhinya. Disamping itu selalu menjauhkan pemikirannya dari segala sesuatu yang apabila didekati akan menyebabkan pemikirannya terjerumus. Semua itu bertujuan agar ide-ide yang mereka kembangkan tetap murni dan terpelihara. Kemurnian ide adalah satu-satunya jaminan untuk keberhasilan yang terus-menerus.
Sementara itu, para pengemban dakwah menunaikan kewajibannya sebagai hamba Alloh dengan mengharapkan ridlo Alloh. Syurga pun akan senantiasa merindukan para pejuang agama Alloh yang berjuang tanpa pamrih.
‘Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.’ (QS. al-Baqoroh: 25)