<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023</id><updated>2012-01-04T06:35:39.673-08:00</updated><title type='text'>muhammadyusufansori.blogspot.com</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>68</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-8266097907979508189</id><published>2012-01-04T06:34:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T06:35:39.683-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-15, Problematika Sekolah Bukan Hanya Siswa yang Bandel</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Senin, 14 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya bukan guru tapi saya pernah menjadi murid dari seorang guru. Ketika sekolah dulu sering terlihat guru dibuat pusing oleh para muridnya yang bandel. Sepertinya, guru stress sendiri oleh permasalahan beberapa orang murid dan lupa akan tujuan pendidikan yakni menjadikan manusia yang berpikir dan bertindak positif.&lt;br /&gt;Kadang saya berpikir bahwa permasalahan sekolah bukan hanya terletak pada murid sebagai peserta didik tetapi juga pada aset sekolah itu sendiri. Aset itu terdiri para guru dan sarana prasarana. Banyak sekolah yang tidak bisa memanfaatkan aset yang dimilikinya dalam menunjang proses belajar-mengajar.&lt;br /&gt;Sekolah saya punya beberapa petak sawah dan halaman yang cukup luas. Namun, semua itu tidak dimanfaatkan untuk proses belajar-mengajar. Tanah itu terbengkalai begitu saja. Pengeloaan sawah sendiri diserahkan kepada orang lain dengan sistem bagi hasil. Halaman yang luas hanya ditumbuhi rumput liar tanpa aksesoris yang enak dipandang.&lt;br /&gt;Sebenarnya, aset sekolah bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin jika penyelenggara pendidikan mau ‘sedikit berpikir dan bekerja keras’. Pada faktanya, hasil belajar melalui buku tidaklah mudah untuk digunakan di masyarakat. Justru, masyarakat lebih membutuhkan pengetahuan yang dapat dipraktekan. Sekolah tidak bisa merespon kebutuhan masyarakat karena selalu terpaku pada kurikulum dari pemerintah. Kita semua tahu bahwa kehidupan di dunia nyata begitu ‘kejam’. Justru, sekolah bisa memanfaatkan sarana yang ada untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi pada peserta didik ketika dia lulus nanti.&lt;br /&gt;Saya pikir, jika pihak sekolah bisa mengonsentrasikan diri pada pemanfaatkan aset ini maka para siswa yang bandel itu lebih bisa ditangani. Keinginan siswa itu bisa kita ikuti sepanjang hal positif. Menurut saya, para remaja itu perlu pengalihan perhatian sehingga waktu mereka bisa dimanfaatkan dengan baik. Dengan ilmu yang dipraktekan, mereka lebih bisa mengerti kehidupan yang sesungguhnya. Para siswa memiliki gambaran yang jelas jika mereka main-main dalam belajar. Mereka lebih mengerti akibat buruk dari prilaku mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-8266097907979508189?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/8266097907979508189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=8266097907979508189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8266097907979508189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8266097907979508189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2012/01/malam-ke-15-problematika-sekolah-bukan.html' title='Malam Ke-15, Problematika Sekolah Bukan Hanya Siswa yang Bandel'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1593723527368757788</id><published>2012-01-04T06:31:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T06:33:24.148-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-14, Kita Tidak Harus Mencari Uang, Biarlah Uang yang Mencari Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Minggu, 13 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kemarin teman saya mampir ke rumah dan kami sempat berbincang-bincang tentang aktifitas kami sehari-hari. Saya sempat berseloroh ketika menjelaskan alasan kenapa saya masih berada di rumah, “cape neangan duit wae mah, ayeuna mah seuna duit nu neangan urang.” Obrolan kami mengalir begitu saja sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran kami masing-masing.&lt;br /&gt;Dari obrolan itu saya dapat memberikan kesimpulan sementara bahwa bukan saatnya lagi kita bersusah-susah mencari uang ke sana-sini. Ya, kita dituntut untuk berpikir kreatif tanpa harus meninggalkan rumah kita. Alangkah baiknya jika rumah menjadi tempat tinggal sekaligus kantor kita. Kenapa? Karena apa yang ada di luar sana tidak seindah seperti yang kita bayangkan. Saya tidak bermaksud menciutkan nyali seseorang tetapi begitulah kenyataannya.&lt;br /&gt;Keuntungannya……?&lt;br /&gt;Ketika kondisi negeri ini tidak kunjung pulih maka mencari uang tidaklah mudah. Bayangkan, ketika kita keluar rumah maka akan ada biaya tambahan yang tidak besar. Ongkos, uang makan dan lain-lain yang cukup besar jika kita jumlahkan. Saya sendiri mengalami hal itu. Sedangkan jika kita ‘stay at home’ maka biaya-biaya tersebut bisa diminimalisir. Di rumah kita bisa menentukan sendiri apa yang akan kita kerjakan. Kebebasan menjadi keuntungan yang pasti kita dapatkan. Pada faktanya, keuntungan usaha atau upah kerja tidak menjadi barang berharga karena hanya sebentar berada dalam kantong kita.&lt;br /&gt;Hal yang harus dilakukan sejak awal adalah terus mencari pengetahuan tentang apa yang akan kita kerjakan. Ada banyak bukti pengusaha sukses yang mengawali karirnya di rumah. Dia tidak harus susah-susah mencari orderan kemana-mana tetapi orang datang begitu saja. Percayalah, rezeki sudah ada yang mengatur. Bibi dan paman saya sendiri yang menjadi salah satu contohnya. Mereka membangun kepercayaan masyarakat dari nol sehingga tidak takut menghadapi persaingan usaha seperti sekarang.&lt;br /&gt;Keuntungan lain yang kita peroleh adalah kita bisa memanfaatkan waktu kita yang berharga dengan maksimal. Satu atau dua jam perjalanan ke tempat kerja tidak harus terbuang percuma. Kita punya lebih banyak waktu untuk keluarga, saudara dan tetangga-tetangga kita. Sering kita menjumpai orang yang memiliki banyak uang tetapi tidak punya cukup waktu untuk keluarga. Sehingga, dia tidak sadar jika anak-anaknya sudah dewasa dan sulit diatur. Broken home biasanya lahir dari keluarga tipe seperti ini. Bahkan, kita tidak punya waktu untuk sekedar bertegur sapa dengan tetangga. Fungsi sosial kita hilang seketika. Jangankan bermaksud membangun masyarakat justru kita menjadi pribadi yang individualistik dimana kepentingan pribadi diatas segalanya.&lt;br /&gt;Bagi saya sebagai petani, waktu di rumah menjadi sangat berharga karena kita bisa membangun kandang, menanam sayuran dan buah-buahan serta memperbaiki rumah dengan biaya lebih murah karena kita sendiri yang mengerjakannya. Semua itu adalah sumber prnghidupan keluarga. Kami bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga dari sana. Ketika hasil bumi sudah mencukupi maka selebihnya dapat dijual sebagai pendapatan tambahan. Saya pun punya cukup waktu untuk menularkan ilmu saya kepada adik saya. Kami lebih sering berdiskusi untuk merencanakan masa depan keluarga. Dengan begitu, kelestarian usaha keluarga bisa terjaga.&lt;br /&gt;Keyakinan Menjadi Modal Utama!&lt;br /&gt;Keyakinan memang menjadi hal utama yang harus ada dalam diri kita. Keyakianan itu masalah perasaan. Keyakinan bisa timbul karena pengetahuan. Banyak orang yakin akan masuk surga karena dia tahu akan adanya surga. Begitupun keyakinan kita jikalau uang akan menghampiri kita meskipun berada di rumah.&lt;br /&gt;Teman saya seorang pengusaha makanan khas dari Sunda _dapros dan angleng_ membuktikan keyakinan itu. Pelanggan tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan membeli barang dagangan dalam jumlah banyak. Menurutnya, kepercayaan akan kualitas dan kontinuitas menjadi kuncinya. Awalnya dia tidak menyangka akan ada pelanggan yang secara sengaja datang dari Lembang ke Garut untuk bertransaksi.&lt;br /&gt;Ya, jika kita tahu bahwa dunia itu tidak sempit maka keyakinan itu bisa timbul begitu saja. Sering kita merasa tidak punya keyakinan karena kita diam saja di rumah. Itu bagi yang diam saja. Belajarlah dan lakukan sesuatu maka semuanya akan datang begitu saja. Jangan lupa sertai doa disela-sela keseharian kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1593723527368757788?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1593723527368757788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1593723527368757788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1593723527368757788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1593723527368757788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2012/01/malam-ke-14-kita-tidak-harus-mencari.html' title='Malam Ke-14, Kita Tidak Harus Mencari Uang, Biarlah Uang yang Mencari Kita'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-894465038973582946</id><published>2011-12-30T22:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T22:03:44.728-08:00</updated><title type='text'>Malam ke-13, Efisiensi Produksi Agribisnis</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Sabtu, 12 Februari 2011&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Ketika harga bahan pangan melambung tinggi lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua-tiga tahun lalu, maka pengetatan anggaran belanja rumah tangga harus dilakukan. Pengetatan itu berlaku bagi rumah tangga yang mengandalkan sumber pangannya dari pasar. Lain halnya dengan rumah tangga petani yang mengandalkan sumber pangannya dari hasil panen. Maka, pengetatan anggaran terletak pada belanja rumah tangga yang lain seperti pendidikan dan pakaian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Melambungnya harga pangan sebagai akibat dari mekanisme pasar yang timpang. Kita tidak bisa selalu menyalahkan alam ketika hasil panen menurun. Namun, permainan pasar telah mengakibatkan harga pangan tidak terkendali. Dimulai dari harga pupuk yang semakin tinggi, sarana irigasi yang rusak, tenaga kerja yang sulit didapat dan harga sewa mesin pembajak yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Semua itu memicu kita untuk semakin berpikir kreatif bagaimana produksi pangan menjadi lebih efisien dibandingkan dengan masa produksi sebelumnya. Untuk daging, sebaiknya kita gunakan pakan yang bersumber dari alam. Untuk padi, kita gunakan pupuk kandang dari kandang ternak milik kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Efisiensi produksi menjadi suatu keniscyaan jika kita tidak ingin kalah bersaing dengan produk impor. Harga daging dari Australia lebih murah karena menggunakan pakan dari alam. Harga beras Thailand menjadi lebih murah karena produksinya melimpah dengan dukungan prasarana produksi yang memadai. Bagaimana dengan kita?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Pertanian Terpadu Sebagai Salah Satu Kunci Efisiensi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Konsep pertanian terpadu memang bukan konsep baru tetapi cukup membantu petani untuk aman dari krisis pangan yang terjadi. Saya punya cita-cita untuk menerapkankonsep ini karena sudah merasakan manfaatnya. Ketika harga cabai naik, maka keluarga saya tidak merasakan dampaknya. Ketika harga daging ayam mahal, justru saya dan keluarga makan daging ayam hampir dua kali dalam seminggu. Ketika harga beras mahal, justru tetangga kami membelinya dari kami karena bisa dibeli dengan kualitas baik dan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Beberapa strategi yang kami rencanakan adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;1.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Memperbaiki lumbung padi kami supaya dapat menampung lebih banyak padi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;2.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Menambah luas kandang domba, ayam, entok, itik dan kelinci&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dengan fasilitas semi otomatis untuk persediaan kebutuhan protein hewani keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;3.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Memperluas kolam ikan dan menambah populasinya untuk jangka waktu yang lama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;4.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Menanam rumput untuk keperluan ternak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;5.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Menanam jagung, singkong dan sayuran untuk pangan tambahan dan pakan ternak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;6.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Menanam pohon buah-buahan dan pohon kayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;7.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Membuat instalasi pengolahan limbah pertanian untuk dijadikan kompos.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;8.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Membeli traktor untuk membajak sawah, mengangkut padi, menebar pupuk kandang, menanam benih padi dan memanen padi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;9.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Mengadakan mesin heuleur ukuran kecil, mesin penggilingan untuk membuat tepung beras dan menggiling pakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;10.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Mengadakan mesin potong rumput.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;11.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Mengadakan gergaji mesin untuk menebang kayu yang kami tanam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align:justify;text-indent:-18.0pt; mso-list:l0 level1 lfo1"&gt;&lt;span style="mso-fareast-font-family: Calibri;mso-fareast-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;12.&lt;span style="'font:7.0pt"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Mengadakan mesin bubut untuk mengolah kayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-894465038973582946?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/894465038973582946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=894465038973582946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/894465038973582946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/894465038973582946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-13-efisiensi-produksi.html' title='Malam ke-13, Efisiensi Produksi Agribisnis'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7815115406322514442</id><published>2011-12-30T17:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T17:17:30.114-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-12, Energi Nasional 2020_Basic Story Hollywood Movie</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Senin, 13 Desember 2010&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Proyek pengalihan sumber energi dari fosil menjadi non-fosil di Indonesia selalu gagal. Banyak proyek diajukan oleh para ilmuwan namun hasilnya nihil ketika sudah disodorkan kepada para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ilmuwan menjadi sosok yang merasa tidak dihargai di negerinya sendiri. Mereka belajar banyak untuk menggantikan sumber energi yang semakin mahal menjadi lebih murah dan ramah lingkungan. Tetapi, kepentingan pengusaha dan konglomerasi menjadi alasan kuat para pemegang kebijakan memveto setiap ide.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Jika dibandingkan dengan India maka kita kalah jauh dalam usaha pemanfaatan energi negaranya. Mereka sudah menggunakan nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. Para politisi berusaha untuk membuat undang-undang yang bisa menjadi payung hukum pengelolaan energi nasional. Begitupun para ilmuwan mencari cara terbaik untuk menghidupi jutaan rakyat di negaranya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Ketika ide itu dikemukakan di Indonesia maka banyak saja alasan untuk menolaknya. Pemerintah kita masih menggunakan skema pembuatan anggaran negara berdasarkan harga minyak dunia. Hal ini menunjukan bahwa sumber energi menjadi sangat vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila ada kemauan dari bangsa ini untuk mengganti sumber energinya menjadi lebih murah maka setidaknya menyelesaikan satu atau banyak masalah di negeri ini. Akan ada banyak pihak yang merasakan manfaatnya ketimbang konglomerasi asing yang selalu menekan kepentingan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Angin, air dan panas bumi menjadi alternatif lain untuk menggantikan sumber energi nasional. Ada banyak negara yang telah mengalihkan seumber energinya dari minyak bumi dan gas ke angin, air dan panas bumi. Ketika ada seseorang yang ingin meniru ide ini, justru disingkirkan oleh banyak kalangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Perang energi pun terjadi. Sebetulnya bukan perang idealisem tetapi lebih merupakan perang kepentingan. Setiap orang ingin mengambil keuntungan dari setiap rencana pemerintah. Para pengusaha berlomba mendekati pemangku kebijakan untuk mendapatkan jatah proyek. Mereka tidak segan-segan menodong para ilmuwan dengan ribuan dolar untuk mendukung rencana mereka. Jika para ilmuwan itu tidak mau kerjasama maka kematian yang akan menjemputnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Perang energi ini merambat ke masalah politik. Para petinggi militer merasa yakin untuk melakukan kudeta sebagai jalan terkakhir ketika kepentingan para pengusaha yang mereka dukung tidak dapat terwujud. Di negeri ini, kekuatan sipil hanyalah kedok dari kemapanan konsep negara padahal militerlah yang menguasai setiap jengkal tanah dan air di negeri ini.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Militer menjadi ‘satpam’ perusahaan-perusahaan konglomerasi asing yang menguasai sektor energi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Energi Nasional 2020 menjadi novel Indonesia pertama yang dijadikan referensi cerita film Hollywood. Intrik politik menjadi ciri khas dari novel ini. Dari satu bagian ke bagian lain menjadi gambaran nyata sebuah kehidupan yang tidak tidak diketahui publik. Hanya sebagian orang yang mengetahui setiap kejadian didalam novel ini. Publik tidak pernah tahu jutaan dollar telah digelontorkan oleh para konglomerat energi itu untuk membiayai setiap undang-undang yang menjadi refresentasi kepentingan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Kejadian-kejadian dalam novel ini menggambarkan aksi penyelamatan nasib umat manusia. Walaupun tidak sedikit nyawa yang dipertaruhkan, namun tokoh utamanya mampu membawa si pembaca untuk menerka-nerka walaupun banyak kejadian yang tidak terduga. Tokoh-tokoh dalam novel ini memang sulit ditempatkan menjadi kategori antagonis atau protagonis karena membaca harus memahami keseluruhan cerita dengan seksama. Ada tokoh yang semula dikategorikan protagonis justru di akhir cerita dia adalah antagonis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Sebagai novel yang bergendre thriller, Energi Nasional 2020 menyuguhkan adegan-adegan yang penuh &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;action&lt;/i&gt;. Warner Bross mampu meramu cerita yang imajinatif menjadi sebuah film yang enak ditonton dan juga asyik mengikuti ceritanya. Aksi penyelamatan Laboratorium Penelitian Energi Terbarukan (LPET) dari tabrakan sebuah pesawat jet tempur TNI-AL menjadi aksi yang paling mendebarkan. Selain itu, aksi penyelamatan gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) dari ledakan tabung gas menjadi peristiwa yang tidak terduga. Kecerdasan Guntur_ sebagai tokoh utama_ adalah daya tarik dari novel ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7815115406322514442?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7815115406322514442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7815115406322514442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7815115406322514442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7815115406322514442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-12-energi-nasional-2020basic.html' title='Malam Ke-12, Energi Nasional 2020_Basic Story Hollywood Movie'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-6628505819333825511</id><published>2011-12-30T17:15:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T17:16:18.164-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-11, Keyakinan Akan Pikiran Bawah Sadar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Jum’at, 2 Desember 2010&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Pada awalnya aku tidak percaya akan pikiran bawah sadar. Bagiku, itu hanyalah teori psikologi untuk ‘merumitkan’ kehidupan manusia. Tetapi, setelah aku sendiri yang mengalaminya maka aku mulai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memahami bahwa ternyata pikiran bawah sadar itu memang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Sebenarnya, kita sendiri yang meciptakan pikiran itu sejak awal sehingga pikiran itu akan menuntun kita untuk menggapai apa yang kita inginkan. Beberapa tahun lalu, aku pernah menulis sebuah puisi yang bercerita tentang keinginanku untuk memiliki ribuan ekor ternak lengkap dengan tanah yang luas sebagai tempatku bernaung. Sekarang, aku mulai melihat bahwa puisi yang aku tulis itu menjadi semacam pertanda bahwa kehidupanku akan menuju ke arah sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Alloh telah memberiku karunia berupa insting untuk senantiasa suka hewan bahkan memberiku pengalaman untuk kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Minatku akan agribisnis, terutama peternakan, menjadi kecenderungan yang tidak aku sadari. Aku begitu bergairah ketika bersama hewan-hewan itu dan ingin segera memakannya. Meskipun lelah, lebih lelah dari kuliah, tetapi aku menemukan ketenangan batin yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Buku-buku, artikel, blog bahkan aku sudah dikenal sebagai kolumnis bidang peternakan di media massa menjadi pertanda bahwa aku harus menekuni bidang ini. Semoga Alloh memberikan rezeki-Nya kepadaku lewat jalan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Pikiranku benar-benar terbuka ketika membaca ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa hewan ternak sebagai rezeki dari Alloh. Ketika banyak orang merasa kebigungan mencari penghidupan_bahkan mencari sampai menyebrang lautan_aku malah asyik sendiri beternak entok, ayam, itik, kelinci dan domba. Janji Alloh pasti benar. Selama ini aku beranggapan bahwa manusia hidup untuk mencari uang padahal inti dari kehidupan adalah ‘sandang, papan dan pangan’. Jika semua itu sudah terpenuhi maka sempurnalah hidup itu. Jika bisa mendapatkan kebutuhan primer itu dengan mudah kenapa harus susah-susah mencari uang. Uang hanyalah alat untuk mendapatkannya. Jika uang kita berlebih, maka kita pun dapat menggunakannya untuk keperluan lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Kau tahu kawan, sekarang aku merasa lebih sehat. Sepertinya berat badanku bertambah. Terima kasih ya Alloh. Dia memang Maha Adil. Ketika banyak orang yang bergelut untuk mencari uang, justru kemelut dalam hati masih mereka miliki. Tak ada yang sempurna, memang begitulah kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-6628505819333825511?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/6628505819333825511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=6628505819333825511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6628505819333825511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6628505819333825511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-11-keyakinan-akan-pikiran.html' title='Malam Ke-11, Keyakinan Akan Pikiran Bawah Sadar'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-6873515731083409585</id><published>2011-12-30T17:13:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T17:14:01.567-08:00</updated><title type='text'>Malam  Ke-10, Rumah Idaman</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Kamis, 25 Nopember 2010&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Dua tahun mendatang aku harus sudah punya rumah sebagai tempat tinggal keluargaku. Bagiku, selain tempat tinggal&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;rumah adalah kantor, resort dan tempatku mencari inspirasi. Semuanya aku lakukan di rumah. Untuk itu, akan kubangun rumah yang nyaman dan bisa menjadi tempat yang bisa memberikan kesejukan pada hati dan pikiran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Rumah yang kubangun tidaklah harus mahal. Dengan bahan-bahan yang murah, namun bagus, aku bisa mewujudkan impianku untuk memiliki rumah idaman. Rumah ini harus menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarku bahwa untuk memiliki rumah bagus tidak harus mahal. Hal terpenting adalah rumah itu mencerminkan kepribadian pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Aku suka rumah tradisonal masyarakat Jepang. Makanya, denah yang aku gambar mengikuti tipe rumah tradisional Jepang. Selain bentuknya yang sederhana, rumah seperti itu bisa memberikan efek menyejukan bagiku. Supaya tidak terlalu terlihat seperti rumah Jepang _disangka tidak cinta budaya lokal_ maka aku campur dengan konsep modern etnik. Tata letak ruangannya mengikuti gaya Jepang sedangkan desain ruangan mengikuti modern dengan tampilan etnik. Tidak harus banyak pernak-pernik, tetapi cukup mewakili kebudayaan Sunda sebagai identitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Orang Jepang suka menggunakan gypsum sebagai dinding rumah dan kayu lapis sebagai lantainya. Mereka membangun rumah yang mudah dibongkar pasang namun anti gempa dan tidak mudah terbakar. Rumah anti gempa ini dibangun setengah meter di atas permukaan tanah sehingga terbentuk kolong rumah untuk penyerapan air. Sebisa mungkin tidak menggunakan tembok karena hanya akan menghamburkan biaya dan mengalihkan fungsi tanah untuk penyerapan air.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-6873515731083409585?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/6873515731083409585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=6873515731083409585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6873515731083409585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6873515731083409585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-10-rumah-idaman.html' title='Malam  Ke-10, Rumah Idaman'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-2855967822501072982</id><published>2011-12-30T17:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T17:12:00.638-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-9, Ketika Keserakahan Manusia Menjadi Boomerang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Senin, 22 Nopember 2010&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Keserakahan umat manusia ternyata membawa mereka pada bencana yang melanda. Pernahkah kita membayangkan jika sebuah aturan dibuat untuk mengesahkan keserakahan itu. Kita sering menyaksikan dan merasakan bencana abnjir akibat pembalakan. Meskipun penebangan pohon-pohon di hutan mendapatkan persetujuan pemerintah, ternyata tidak mendapatkan persetujuan dari alam. Hak pengelolaan hutan (HPH) yang diberikan negara para segelintir orang yang tidak bertanggung jawab mengakibatkan bencana yang tidak bisa ditepis kehadirannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Dibalik indahnya sebuah undang-undang negara, terselubung kelicikan sebagian kecil manusia yang mengharapkan keuntungan tanpa memperdulikan keselamatan orang lain. Undang-undang tentang kelistrikan, minyak bumi, gas, barang tambang, pengelolaan hutan dan berbagai undang-undang yang bisa diperjual belikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-2855967822501072982?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/2855967822501072982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=2855967822501072982' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2855967822501072982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2855967822501072982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-9-ketika-keserakahan-manusia.html' title='Malam Ke-9, Ketika Keserakahan Manusia Menjadi Boomerang'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-6051204112016471558</id><published>2011-12-30T17:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T17:08:45.737-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-8, Menyibak Rahasia Alam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Kamis, 18 Nopember 2010&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Ketika saya membaca buku tentang sejarah Amerika, disitu saya dapati gambaran bahwa ternyata untuk menjadi sebuah negara maju itu senantiasa mengolah alamnya untuk dimanfaatkan. Sekarang kita mellihat betapa Amerika menjadi negara yang berlimpah bahan pangan. Ketika orang Indonesia bingung mencari sumber makanan, justru orang Amerika kebingungan ‘membuang’ kelebihan makanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Benar kata ekonom Faisal Basri, hanya bangsa kerdil bangsa yang tidak bisa menghargai para petani. Kita melihat bahwa merekalah yang senantiasa mengolah alam untuk menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Sebagai bangsa yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, ternyata kita belum bisa menyibak rahasia di balik indahnya alam Nusantara. Selama ini, kita hanya disibukan untuk meniru bangsa lain dan lupa akan kemampuan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Kesadaran kita untuk menyibak rahasia alam ini masih sangat kurang. Kita lebih sering memikirkan bagaimana meniru hal sudah ada.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Padahal Alloh SWT sudah memberikan penjelasan bahwa rezeki manusia itu sudah tersedia di alam ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Saya punya cita-cita bagaimana menelorkan dan menyebarkan kesadaran untuk menyibak rahasia alam ini pada banyak orang. Tentu saja pendidikan sebagai jalan untuk menyamakan pemikiran setiap orang. Mencari ilmu hingga perguruan tinggi bahkan sampai ke luar negeri ternyata tidak sulit. Banyak orang sudah mendapatkan gelar kesarjanaan dari beragai perguruan tinggi kelas dunia. Namun, betapa sulitnya menerapkan ilmu itu untuk kepentingan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Pendidikan yang berbasis kesadaran untuk mengolah alam ini_saya pikir_ hanya bisa dilakukan melalui pendidikan infromal. Kita tahu jika pendidikan formal di negeri ini tidak bisa “membumikan” ilmu yang telah dipelajari para siswa selama bertahun-tahun. Pendidikan informal itu berupa sanggar alam sebagai tempat untuk mengenalkan alam pada anak-anak. Mereka harus tahu bahwa tanah mereka tempati ini masih memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya, keluarga serta masyarakat secara umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Hanyalah manusia pemberani yang bisa menyibak misteri alam ini. Para bajak laut, pencari tambang, petani, pelaut dan banyak lagi profesi yang menuntut keberanian untuk ‘menyatu’ dengan alam sehingga alam pun akan memberikan apa yang mereka inginkan. Pengetahuan anak-anak akan berbagai profesi untuk mengolah alam perlu diperkenalkan sejak dini. Jangan sampai banyak anak-anak yang kebingungan untuk menentukan profesinya semenjak menyelesaikan sekolah bahkan kuliahnya. Itu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;saya alami ketika baru lulus Madrasah Aliyah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Memang, ‘menentang’ alam banyak mengandung resiko. Namun, di balik resiko pasti ada peluang. Bagaikan Yin dan Yang, resiko dan peluang itu saling berhubungan laksana dua sisi mata uang. Justru, anak muda harus berani mengambik resiko jangan hanya megambil ‘jalur aman’. Dengan ilmu pengetahuan, resiko bisa diminimalisir dan memanfaatkan peluang dengan sebesar-besarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Saya percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa menyibak rahasia alam. Membaca, meneliti dan mengaplikasikannya dalam kehidupan adalah jawaban dari kebuntuan hidup manusia. Jangan sampai ada orang yang kelaparan di negeri yang subur ini karena kebodohannya. Peribahasa mengatakan, seperti ayam yang mati kelaparan di lumbung padi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Konsep-konsep ini akan saya sarikan dalam bentuk ‘kurikulum’ sekolah berbasis alam. Terus terang, saya tidak percaya lagi pada kurikulum pendidikan saat ini yang seperti kacang lupa akan kulitnya. Terlalu mengekor Barat namun lupa akan jatidiri bangsanya. Kurikulum ini akan lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan. Saya akan lebih menitik beratkan pembelajaran pada bagaimana memanfaatkan alam sekitar hingga bagaimana bersahabat dengan iklim yang semakin tidak menentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Kita harus faham bagaimana mendapatkan air dan memanfaatkannya dengan maksimal. Air bisa didapat dari dalam tanah dan dialirkan ke rumah-rumah, sawah, ladang, peternakan bahkan sebagai sumber energi. Kehidupan berawal dari air, maka memanfaatkan air dengan maksimal menjadi suatu keharusan. Air yang akan menyuburkan padi, menggemukan hewan ternak dan menggerakan turbin generator. Jika produksi tani dan ternak kita melimpah maka kita bisa menjualnya bahkan hingga ke luar negeri. Itulah yang dilakukan orang Amerika _ jika kita harus mengikuti cara hidup mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-6051204112016471558?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/6051204112016471558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=6051204112016471558' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6051204112016471558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6051204112016471558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-8-menyibak-rahasia-alam.html' title='Malam Ke-8, Menyibak Rahasia Alam'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-9199031916548922784</id><published>2011-12-30T17:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T17:04:48.345-08:00</updated><title type='text'>Malam Ke-7, Mendapatkan Modal Usaha Peternakan Entok</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;strong&gt;Senin, 15 Nopember 2010&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Usaha apa pun&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perlu modal. Modal usaha berupa modal tetap dan modal tidak tetap. Untuk sekarang, saya sudah mendapatkan tanah, kandang untuk ternak entok yang saya rintis. Sekarang saya perlu modal operasional untuk pakan, transportasi dan promosi. Angkanya, memang bisa lebih dari Rp. 10 juta, namun bisa juga kurang yang penting usaha ini bisa berjalan atas dukungan modal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Rencananya, modal itu akan saya dapatkan dari perusahaan atau organisasi non-pemerintah dengan mengajukan proposal usaha. Mudah-mudahan saja dapat diterima. Mereka harus bisa menggelontorkan dananya untuk peternakan entok karena komoditas ini dapat diandalkan. Pengelolaannya yang lebih sederhana dibandingkan ternak unggas lain menjadi kelebihannya maka diharapkan dapat dilaksanakan oleh banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Kunci dari proposal yang akan diajukan adalah _adanya pasar yang jelas dari entok yang telah siap untuk dijual. Saat ini, saya belum menemukan pasar entok yang bisa diakses dengan mudah. Akses pasar yang jelas ini diharapkan bisa meyakinkan pihak pemberi modal untuk mengeluarkan sebagian dananya. Jika menilik pasar Jakarta dan Bandung saya sendiri belum mendapatkan orang yang bersedia menjadi distributor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Untuk saat ini, saya tidak mau gegabah menanam modal dalam jumlah besar untuk meminimalisasi resiko. Membangun fondasi usaha menjadi prioritas usaha saya saat ini. Memang terkesan lambat namun hal ini dapat menjadi daya tawar kita kepada penanam modal. Jika fondasi usaha kita sudah kokoh maka saya pun tidak akan segan untuk mengajukan modal dalam angka yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Usaha memang perlu agresifitas. Tetapi, hal demikian berlaku untuk usaha yang sudah berjalan. Untuk usaha yang masih ‘bayi’, pelan tapi pasti akan lebih baik. Mending cari aman saja. Saya percaya bahwa fondasi yang kokoh akan lebih tahan diterjang angin. Kita tidak bisa memprediksi iklim usaha dimasa mendatang, maka dari itu sebisa mungkin modal yang ada dialokasikan untuk membangun fondasi usaha. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Ketersediaan pakan, sumberdaya manusia, kepastian pasar, kandang yang kokoh dan kepastian dukungan lingkungan adalah fondasi usaha ternak entok. Semua itu harus menjadi prioritas utama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-9199031916548922784?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/9199031916548922784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=9199031916548922784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9199031916548922784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9199031916548922784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/12/malam-ke-7-mendapatkan-modal-usaha.html' title='Malam Ke-7, Mendapatkan Modal Usaha Peternakan Entok'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-5503386983472223509</id><published>2011-07-25T16:38:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:45:06.064-07:00</updated><title type='text'>Malam Ke-6, Mimpi untuk Meguasai Bisnis di Daerah Sendiri</title><content type='html'>Jum’at, 11 Nopember 2010&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan sekedar mimpi, tetapi rencana jangka panjang yang harus diwujudkan. Insya Alloh, jika kami punya rezeki akan kami buat  asosiasi pengusaha di daerah kami sendiri. Asosiasi Pengusaha Bandrek. Nama yang simpel namun lugas sehingga orang bisa memahami bentuk organisasi yang kami dirikan.&lt;br /&gt;Asosiasi ini menjadi pemersatu bagi pangusaha di wilayah Bandrek dan sekitarnya dengan tujuan untuk memperkukuh eksistensi para pengusaha putra daerah dalam rangka membangun tanah kelahirannya. Ada banyak bidang yang akan kami garap yaitu agribisnis, properti, fesyen, pendidikan, keuangan dan pariwisata. Semua bidang ini diharapkan terintegrasi dan saling menguatkan antara satu sama lain.&lt;br /&gt;Setiap sektor dikuasai oleh satu atau lebih orang diantara kami sehingga terjadi perputaran uang di wilayah usaha kami. Dengan adanya asosiasi ini diharapkan adanya kemudahan usaha seperti kemudahan untuk mengakses sumber daya modal, tenaga kerja dan bahan baku. Misalnya, Odik salah satu teman kami adalah pengusaha dapros dan makanan khas Sunda maka saya yang akan menyuplai beras sebagai bahan bakunya. Jika dia membutuhkan jasa pembangunan pabrik maka saya yang akan menyediakan segala kebutuhan untuk membangun pabrik mulai dari desain, bahan bangunan, tenaga kerja hingga pemeliharaan.&lt;br /&gt;Kami yakin bahwa sepuluh atau duapuluh tahun ke depan wilayah Bandrek dan sekitarnya akan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Garut. Kemudahan akses menuju kota besar dan sumber pendapatan masyarakat menjadi alasan kenapa Bandrek bisa berkembang menjadi sebuah kota kecil. Jika Rancaekek dan wilayah Bandung Timur lainnya sudah penuh sesak dan tidak nyaman lagi untuk ditinggali _karena sering banjir_ maka penyebaran penduduk akan mengarah ke arah Kabupaten Garut.&lt;br /&gt;Pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi di Jawa Barat ‘memaksa’ penduduk untuk memilih tempat tinggal yang nyaman, bebas banjir, bebas polusi namun mudah diakses. Untuk itu, kami berusaha menyediakan apa yang diinginkan masyarakat dengan membangun perumahan yang ramah lingkungan, mudah dan juga murah. Kami paham bahwa tipe masyarakat yang berada disini adalah kelas menengah ke bawah maka kami pun menyediakan kebutuhan yang sesuai dengan kemampuan.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan areal pesawahan? Supaya bertambahnya jumlah penduduk tidak ‘mengganggu’ areal pertanian yang masih produktif maka kami berinisiatif untuk membangun rumah susun. Rusun-rusun tersebut berada di kawasan yang terintegrasi antara jalan raya, pasar, pusat hiburan dan pusat rekreasi.&lt;br /&gt;Bagi kami, kesejahteraan masyarakat lebih penting daripada keuntungan pribadi karena kami beranggapan bahwa usaha yang berkelanjutan adalah aktifitas usaha yang peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Kita sadar bahwa kita tidak akan ada tanpa dukungan masyarakat. Justru, masyarakat di sekitar lokasi usaha adalah konsumen pertama sekaligus pelindung ketika terjadi hal-hal yang tidak terduga seperti musibah kebakaran.&lt;br /&gt;Bagi kami, kebahagiaan yang hakiki adalah ketika melihat orang bahagia karena jasa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-5503386983472223509?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/5503386983472223509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=5503386983472223509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5503386983472223509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5503386983472223509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/07/jumat-11-nopember-2010-ini-bukan.html' title='Malam Ke-6, Mimpi untuk Meguasai Bisnis di Daerah Sendiri'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-9168871298401987229</id><published>2011-07-25T16:29:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:37:23.692-07:00</updated><title type='text'>Pagi ke-5, Isu untuk Ketakutan</title><content type='html'>Selasa 10 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme menjadi isu utama dunia untuk senantiasa menakut-nakuti masyarakat dunia akan bahaya terorisme. Warga dunia sudah terlalu sering mendengar isu ini sehingga ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Saya pikir isu tentang ‘katakutan’ itu menjadi basi ketika terus diulang-ulang. Namun, pengetahuan kita yang kurang justru menambah rasa takut itu.&lt;br /&gt;Ketakutan manusia tidak hanya melulu pada bahaya terorisme. Ketakutan itu datang dari sikap mereka yang berlebihan dalam menyikapi kondisi di sekitarnya. Ketakutan akan kelaparan. Ketakutan akan kemiskinan. Ketakutan akan sikap orang terhadapnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan-ketakutan itu sebenarnya hanyalah rekaan  belaka. Bahkan, hal yang ditakutkan itu ternyata tidak ada dalam dirinya. Kita terlalu dibelenggu oleh opini umum tentang hidup. Ketika hidup itu harus kaya ya semua orang mengejar  kekayaan. Setelah kaya, banyak orang yang tidak bisa memanfaatkan kekayaannya. Foya-foya dan hidup konsumtif menjadi kegiatan sehari-hari. Akhirnya, banyak orang kaya yang tidak bahagia. Banyak uang tapi memiliki penyakit kronis yang siap merenggut nyawanya.&lt;br /&gt;Ketakutan manusia akan kelaparan memaksa mereka untuk mencari uang hingga ke pinggiran kota. Mereka meninggalkan kampung halamannya demi ‘sesuap nasi’. Ini memang lucu dan aneh. Mencari sesuap nasi seharusnya pergi ke sawah dan ladang untuk bertani bukan ke pinggiran kota untuk sekedar jadi kuli panggul. Memang rezeki orang siapa yang tahu. Tapi, coba gunakan nalar kita. Jika kita mau mengolah tanah kita maka tidak akan ada istilah kelaparan baginya. Kelaparan hanya ada jika kekeringan melanda dan persediaan pangan di lumbung sudah habis. Tapi, bukankah negeri ini hujan hampir sepanjang tahun?&lt;br /&gt;Tidak ada alasan lagi untuk merasa takut. Kita jangan menciptakan ketakutan kita sendiri. Pergi ke kota untuk jadi kuli padahal masih ada tanah untuk digarap. Ketakutan kita di sini berbeda dengan di sana. Di kota, ketakutan itu jauh lebih besar dibanding di desa karena perbedaan peradaban. Jangan jadikan suasana di sana menjadikan kita menjadi manusia yang tidak produktif dan hanya bergantung pada orang lain.&lt;br /&gt;Ketakutan yang kita hadapi harus menjadikan kita lebih mandiri.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-9168871298401987229?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/9168871298401987229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=9168871298401987229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9168871298401987229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9168871298401987229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/07/pagi-ke-5-isu-untuk-ketakutan.html' title='Pagi ke-5, Isu untuk Ketakutan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-4450855362693483374</id><published>2011-07-25T16:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:28:13.689-07:00</updated><title type='text'>Malam Ke-4, Pendidikan Ketergantungan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle 	{mso-style-priority:11; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Subtitle Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} span.SubtitleChar 	{mso-style-name:"Subtitle Char"; 	mso-style-priority:11; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Subtitle; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-family:"Tahoma","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:1.0cm 1.0cm 1.0cm 1.0cm; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style=""&gt;6 Agustus 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketergantungan masyarakat kita akan peran pemerintah terlalu tinggi. Menurut saya. Jika kita perhatikan dari kuli panggul, buruh pabrik hingga guru dan mahasiswa senantiasa menuntut hak mereka _berupa materi_ untuk diberikan. Sepertinya mereka tidak menyadari ‘bentuk negeri’ ini. Saya tidak tahu sudahkan mereka membacara Undang-undang dasar mereka sendiri juga begitu banyak undang-undang yang menyertainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Negeri ini bukan negeri komunis, sistem politik yang kita anut adalah sekuler-kapitalisme. Bukan saatnya lagi selalu mengantungkan diri pada negara. Bagi masyarakat modern saat ini kemandirian adalah kunci&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hidup menjalani kompetisi global. China saja sudah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mulai membuka diri bagi kapitalisme global mengapa kita masih terus mempertahankan sikap terjajah _mengemis hingga ke Istana Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Negeri ini begitu kaya, so kenapa kita tidak memanfaatkan kekayaan yang telah kita terima ini. Saya menulis ini karena merasa prihatin dengan sikap guru-guru di madrasah yang menuntut kesetaraan dengan sekolah umum. Mereka bahkan ramai-ramai berdemontrasi ke ibu kota untuk menuntut penyetaraan dalam hal kebijakan. Saya pikir, modal pendidikan di negeri ini bukan uang tapi alam sekitar yang kaya raya. Bukankah sekolah dibentuk untuk mengolah alam ini, so jadikanlah alam ini sebagai laboratorium kehidupan tempat kita belajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Jika pemerintah tidak memberi uang bangunan sekolah, ya belajar bisa dilakukan di tengah sawah atau rumah ibadah. Itu saya lakukan. Tempat belajar saya adalah kebun, sawah, rumah ibadah dan tentu saja rumah. Alloh telah memberikan petunjuk begitu gamblang tentang arti penting belajar mengolah potensi alam. Saya pikir pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang bisa mengikuti ritme alam ini bukan pendidikan yang statis dan tidak praktis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-4450855362693483374?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/4450855362693483374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=4450855362693483374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4450855362693483374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4450855362693483374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/07/malam-ke-4-pendidikan-ketergantungan.html' title='Malam Ke-4, Pendidikan Ketergantungan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-8580905960774671854</id><published>2011-07-25T16:23:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:26:08.936-07:00</updated><title type='text'>Malam Ke-3</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle 	{mso-style-priority:11; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Subtitle Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} span.SubtitleChar 	{mso-style-name:"Subtitle Char"; 	mso-style-priority:11; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Subtitle; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-family:"Tahoma","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style=""&gt;5 Agustus 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Terkadang hidup haruslah menggunakan logika. Logikalah yang membawa kita pada keindahan perasaan kita yang dianugerahkan Alloh SWT pada setiap hamba-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada suatu kesempatan saya dan teman-teman kumpul bareng dalam rangka menghadiri acara pernikahan salah satu teman kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Teman kita itu nikah sama gadis yang sudah siap menjadi istrinya dan ‘meninggalkan’ pacarnya yang lain karena tidak siap diajak untuk menikah. Kami semua salut pada mantan pacarnya yang bisa menerima pernikahan mantan kekasih prianya ini. Bahkan, dia meghadiri pernikahan itu bersama kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lucunya, mantan pacar temanku yang menikah ini ternyata disukai juga oleh temanku yang lain. Ya, simpelnya gadis yang satu ini ‘diperebutkan’ oleh sesama teman saya. Saya sendiri kurang tahu apa daya tarik gadis ini dibandingkan dengan yang lain. Jika dilihat sekilas dia tidak jauh berbeda dengan yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya bisa menyimpulkan kenapa banyak pria yang suka padanya. Kepribadian. Kepribadian seseorang ternyata bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi lawan jenis bahkan sesama jenisnya. Sekali logika juga yang dipakai dalam bercinta. Jika anda menyenangkan hati saya, maka mari menikah jika tidak ya saya cari yang lain atau sekedar jadi pacar saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-8580905960774671854?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/8580905960774671854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=8580905960774671854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8580905960774671854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8580905960774671854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/07/malam-ke-3.html' title='Malam Ke-3'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3198497200970732176</id><published>2011-07-25T16:21:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:22:27.294-07:00</updated><title type='text'>Malam Ke-2</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle 	{mso-style-priority:11; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Subtitle Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} span.SubtitleChar 	{mso-style-name:"Subtitle Char"; 	mso-style-priority:11; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Subtitle; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-family:"Segoe UI","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style=""&gt;1 Agustus 2010, jam 10 malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ada semacam degradasi moral sebagai akibat dari keterpurukan manusia. Baru tadi sore kulihat seorang ayah menampar pipi anaknya yang baru berumur 1 tahun. Air mata mengucur dari balik kelopak matanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Secar sepintas, kulihat semua itu hanylah ekspresi kekesalan seorang manusia. Namun, tahukah kamu bahwa tekanan hidup membuat manusia lebih sadis dibandingkan harimau di hutan belantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Manusia terkadang seperti serigala yang memangsa domba-domba yang lemah. Mereka lapar akan kekuasaan dan hasrat kenikmatan. Semua itu telah menggelapkan mata hati manusia. Miris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sejenak kurenungi bahwa ternyata masih ada manusia tidak beradab seperti zaman Mesir kuno. Manusia layaknya budak belian yang bisa disiksa begitu saja. Ketika orang tua rela menyiksa bahkan membunuh anaknya, bukankah itu hanya ada dizaman jahiliyah? Yang aku tahu selama ini, Abraham Lincoln sudah berusaha keras menghapus perbudakan di tanah Amerika tetapi masih ada perbudakan di depan mataku!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sekarang aku mulai berpikir dan mengakui bahwa populasi manusia memang harus dibatasi. Bumi ini sudah terlalu sesak sehingga harga makanan pun melambung setinggi-tingginya karena banyak orang yang ingin makan tapi tidak mau menanam padi atau gandum. Sekarang, manusia hanya mencari uang untuk dimakan maka ketika uang tidak ada anak sendiri yang mereka makan. Sadarkah kita bahwa alam ini menyediakan harta yang berlimpah untuk sekedar mengganjal perut. Hei, ini bukan padang pasir. Jika kau mau menanam sebutir padi maka kau akan mendapatkan sebulir padi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kembali kepada bagaimana cara berpikir kita, apakah kita masih terbelenggu oleh sikap pemalas kita atau maukah menjadi manusia yang bisa memanfaatkan potensi alam ini dengan maksimal. Aku tidak setuju dengan teori kemiskinan dimana uang sebagai standar penghasilan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belenggu pemikiran inilah yang membuat hidup kita tidak produktif bahkan cenderung mengabaikan arti hidup itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Jika tidak sapi maka ada kerbau. Jika tidak ada kerbau maka ada domba. Jika tidak ada domba maka ada kambing, kelinci, ayam, kalkun bahkan masih ada burung pipit. Tidak ada alasan lagi bagi kita untuk kelaparan. Justru ketergantungan kita pada manusia telah mengecoh kita untuk menyandarkan hidup ini pada alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tahukah kau kawan suku Mentawai di pedalaman Sumatera? Mereka menyandarkan hidupnya pada alam dan tak pernah ada kata kelaparan. Justru, kelaparan ada di belantara kota Jakarta yang tanahnya sudah ditanami beton dan besi baja. Kelaparan ada di tanah yang tidak produktif. Kelaparan tidak pantas di tengah tanah subur seperti pulau Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu, manusia macam apakah kita ketika urusan perut merubah keharmonisan rumah tangga? Padahal cinta tidak harus kalah oleh kepentingan perut semata. Justru, dengan cinta tanah ini menjadi subur. Cinta akan tanaman, hewan dan tetangga-tetangga kita. Omong kosong jika kita berteriak tentang kecintaan kita pada tanah air. Sejak kapan kita menjadikan tanah ini sebagai teman hidupmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Aku sering beradu pendapat tentang perbaikan nasib petani dan ketersediaan pangan di kampus. Ketika aku kembali ke desa dan memperhatikan ternyata semua itu dikembalikan kepada para petani. Sejauh mana kesungguhan kita menjadikan tanah ini sebagai lahan subur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3198497200970732176?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3198497200970732176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3198497200970732176' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3198497200970732176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3198497200970732176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/07/malam-ke-2.html' title='Malam Ke-2'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-6471621224788485079</id><published>2011-07-25T16:16:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:21:08.283-07:00</updated><title type='text'>Malam ke-1</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-priority:1; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.Publishwithline, li.Publishwithline, div.Publishwithline 	{mso-style-name:"Publish with line"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:16.0pt; 	mso-bidi-font-size:19.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:major-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:major-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:major-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:major-bidi; 	color:#17365D; 	mso-themecolor:text2; 	mso-themeshade:191; 	font-weight:bold;} p.PadderBetweenControlandBody, li.PadderBetweenControlandBody, div.PadderBetweenControlandBody 	{mso-style-name:"Padder Between Control and Body"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:1.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.underline, li.underline, div.underline 	{mso-style-name:underline; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:2.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	mso-border-bottom-themecolor:accent1; 	padding:0cm; 	mso-padding-alt:0cm 0cm 2.0pt 0cm; 	font-size:1.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;div style="border-width: medium medium 1pt; border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(79, 129, 189); padding: 0cm 0cm 2pt;"&gt;  &lt;p class="underline"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="PadderBetweenControlandBody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam satu kesempatan aku pernah bertanya pada malam&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dunia ini begitu bundar lalu kenapa seakan tidak rata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada satu pagi kudapati matahari bersembunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dia termangu menatap manusia mengotori bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Seakan aku faham bahwa ternyata manusia tidak punya mata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Yang ada hanya kornea, pupil dan bola matanya yang indah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Udara pun enggan memberikan pertolongan ketika mereka butuh pertolongan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dimana angin yang memberikan kesejukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dimana dunia yang dulu indah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-6471621224788485079?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/6471621224788485079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=6471621224788485079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6471621224788485079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6471621224788485079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2011/07/malam-ke-1.html' title='Malam ke-1'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-5794120921383379893</id><published>2010-03-03T15:02:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T15:07:28.754-08:00</updated><title type='text'>Lanskap Ekonomi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/S47rTnkxQqI/AAAAAAAAAPY/yhrysBvEslw/s1600-h/lanskap+ekonomi+indonesia+%28cover%29.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 221px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/S47rTnkxQqI/AAAAAAAAAPY/yhrysBvEslw/s400/lanskap+ekonomi+indonesia+%28cover%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444547721810756258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Buku ini merupakan kajian ekstensif dan komprehensif yang mencoba menjawab beragam pertanyaan besar tentang perekonomian Indonesia selama ini, terutama pada dasawarsa terakhir. Penulis memetakan berbagai permasalahan yang ada guna memberikan gambaran yang utuh seperti apa perekonomian Indonesia saat ini, yang seharusnya memang lebih baik karena sudah 64 tahun bangsa Indonesia bebas menentukan nasib sendiri alias merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu, perekonomian Indonesia memang tampak sudah lebih sehat. Namun dari kajian mendalam segera terungkap bahwa sesungguhnya fondasi perekonomian Indonesia masih cukup rapuh. Selain belum berhasil mengatasi berbagai permasalahan struktural yang sejak lama menggayuti langkah maju bangsa ini, Indonesia sudah dihadapkan dengan setumpuk permasalahan baru yang muncul silih berganti terutama krisis multidimensional (1997/1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah pentingnya, penulis mencoba mengajukan sejumlah rekomendasi, yakni hal-hal yang perlu lebih diperhatikan dan yang harus dilakukan guna mengatasi berbagai permasalahan struktural dan baru tersebut demi menyongsong masa depan yang serba lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Buku Lanskap Ekonomi Indonesia ini kaya akan data dan ide-ide cemerlang sebagai bekal menyongsong fajar ekonomi nasional yang lebih cerah, kukuh, dan sejahtera. Untuk menguatkan argumen dan rekomendasi strategisnya, penulis tanpa tedeng aling-aling “mengungkap” fakta dan menyajikan data statistik kategori rahasia sekalipun. Inilah buku acuan yang mencerahkan dan membuka mata segenap anak bangsa untuk menyelami dan memahami kemelut, dan masalah politik-ekonomi, serta kebijakan dan strategi pembangunan ekonomi nasional secara umum.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Tentu saja buku ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari semua buku ajar mahasiswa Indonesia, tidak saja untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi, tetapi juga bagi para mahasiswa yang berada di fakultas non-ekonomi, dan juga perlu dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami apa yang terjadi di negeri ini; guna memungkinkannya untuk menyesuaikan diri agar selanjutnya mampu beradaptasi dan berkontribusi secara lebih bermakna, sebagi warga negara yang baik.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Judul:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Lanskap Ekonomi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Penulis:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Faisal Basri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Haris Munandar&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Penerbit:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Kencana (Prenada Media Group)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Harga:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Rp 200.000,-&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;di Bandung Book Centre Palasari, Bandung diskon 30 %&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-5794120921383379893?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/5794120921383379893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=5794120921383379893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5794120921383379893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5794120921383379893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2010/03/buku-ini-merupakan-kajian-ekstensif-dan.html' title='Lanskap Ekonomi Indonesia'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/S47rTnkxQqI/AAAAAAAAAPY/yhrysBvEslw/s72-c/lanskap+ekonomi+indonesia+%28cover%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3474235398650159269</id><published>2010-02-24T23:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T00:04:37.360-08:00</updated><title type='text'>Kunci Kesuksesan China sebagai Negara Pedagang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Isu perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan China menjadi isu hangat di setiap media massa. Banyak kekhawatiran yang dirasakan oleh pengusaha pribumi karena produk China diramalkan akan menggilas produk lokal. Harga murah yang ditawarkan oleh China memang sulit ditandingi dengan produk lokal yang terus mengalami kenaikan harga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Buku Belajar dari China karya I Wibowo setidaknya memberikan gambaran garis besar kesuksesan China menjadi negara pedagang di era globalisasi ini. Buku terbitan Penerbit Kompas ini menemukan empat bidang yang menjadi bahan diskusi ketika menyoroti kesuksesan China. Keempat kunci sukses itu terletak pada bidang ekonomi, politik, ideologi dan globalisasi.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Ekonomi China dibangun dengan konsep ekonomi sosialis ala Mao Ze Dong. Awalnya, kebebasan menjalankan usaha bagi setiap warga merupakan hal tabu di negeri ini. Seiring berjalannnya waktu, konsep ekonomi China terus mengalami perubahan. Bagaimanapun, pemikiran manusia akan senantiasa berubah dan mengikuti perkembangan zaman. China tidak mau ketinggalan dalam hal itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Pada masa kepemimpinan Dao Xiaoping, ekonomi China mengalami perubahan drastis. Banyak orang yang diperbolehkan menjalankan usaha. Kesadaran orang China tidak dapat dibendung. Warganya begitu giat bekerja karena ini sudah menjadi ciri khas mereka. Wajar jika China menjadi pusat peradaban dunia berabad-abad lamanya. Perusahaan – perusahaan swasta didirikan untuk mengikuti laju pertumbuhan ekonomi. Namun, China masih tetap mempertahankan perusahaan negara di bidang-bidang  strategis seperti bahan bakar, perumahan dan infrastruktur.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Sungguh aneh memang, banyak kalangan yang ‘terkejut’ ketika China masih mempertahankan peran negara dalam perekonomian nasional. Ketika berbagai bangsa sudah ‘meninggalkan’ negara dalam kompetisi global justru di China sebaliknya. Sebagaimana di Indonesia, negara dianggap sebagai penghambat kemajuan ekonomi karena negara terlalu kaku untuk menjalankan roda perekonomian. Di sini, negara hanya sebagai pembuat undang-undang dan penampung keluhan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Pemerintah China dipenuhi oleh orang-orang yang ingin maju bersama.  Pemimpinnya bisa membawa ke arah perubahan yang jelas. Dan tentu saja, dipahami dan diikuti oleh rakyat dengan aktualisasi diri yang luar biasa. Pemerintah China berperan sebagai ‘direktur’ bagi perusahaan besar bernama China Coorporation. Orang China, dimanapun, sudah ditakdirkan menjadi pedagang.   &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Situasi politik di China sangat mendukung kegiatan produksi untuk memenuhi target sebagai negara eksportir terbesar melampaui Jerman. Penguasa China terkenal represif ketika menghadapi situasi menegangkan. Bahkan, catatan hitam hak asasi manusia mereka menjadi bahan gunjingan banyak pihak, termasuk Amerika dan Uni Eropa. Begitulah cara Hu Jin Tao dan penguasa sebelumnya dalam mengendalikan situasi keamanan nasional. Ketika banyak orang mengkritik cara-cara seperti ini justru pertumbuhan ekonomi China melesat melebihi angka 7 % di setiap tahunnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Tekanan dari berbagai penjuru tidak menyurutkan China untuk tetap menjalankan kebijakan ‘tegas’. Strategi ini terbukti berjalan efektif dan tentu saja membuat banyak negara merasa iri. Penguasa China bukan tipe penguasa yang banyak sesumbar tetapi cenderung bersikap kooperatif pada dunia internasional. Sikap ini menjadi senjata ampuh untuk melindungi setiap barang China yang masuk ke berbagai negara. Pada praktiknya, sikap suatu negara sangat berpengaruh pada laju perdagangan yang sedang dijalankan. Apalagi, China adalah anggota baru WTO (World Trade Organization) yang belum sepenuhnya memiliki pengaruh kuat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Keputusan China untuk masuk kedalam WTO disambut baik oleh rakyatnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia dan negara berkembang lainnya. Bagi Indonesia, WTO menjadi penyebab ketimpangan perdagangan dalam negeri. Sebaliknya, bagi China WTO menjadi jalan untuk melancarkan program industrialisasi negara yang sudah direncanakan sejak lama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Semangat Membangun yang Tinggi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Ideologi komunis yang dianut China sejak Mao Zedong memerintah tidaklah lantas menjadi penyebab utama kemajuan China saat ini. Banyak negara yang bersebrangan ideologi dengan China bisa menggapai kemajuan ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi dan militer. Para pemimpin China bisa menjadi contoh bagi rakyatnya dalam upaya membangun  negeri sendiri. Semangat membangun negeri yang tinggi dari orang China patutlah dicontoh oleh orang Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Kemandirian dalam segala hal menjadi ciri khas orang China saat ini. Sebagai masyarakat pedagang, mereka beranggapan bahwa mereka tidak bergantung pada orang lain tetapi orang lainlah yang bergantung pada mereka. China berupaya bersikap mandiri dalam berbagai sektor untuk kepentingan umum. Negara tidak gegabah menyerahkan sektor-sektor publik kepada pihak swasta justru sebaliknya negara semakin memperkuat keberadaannya. China memiliki badan usaha milik negara yang sangat banyak sehingga peran negara dalam roda perekonomian sangat kentara dalam hal ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3474235398650159269?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3474235398650159269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3474235398650159269' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3474235398650159269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3474235398650159269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2010/02/kunci-kesuksesan-china-sebagai-negara.html' title='Kunci Kesuksesan China sebagai Negara Pedagang'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1376845907015342766</id><published>2010-02-08T23:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T23:18:13.825-08:00</updated><title type='text'>Legenda Jengis Khan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cansori%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cansori%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;font-size:180%;"  &gt;Memetik Pelajaran dari Agresor Mongolia&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 29.25pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="verdana" style="text-align: justify; text-indent: 29.25pt;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ansori/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Ketika saya membaca Jengis Khan, Legenda Sang Penakluk dari Mongolia k&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;arya John Man ada bengitu banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Jengis Khan _terlahir dengan nama Temujin_ mempunyai segudang pengalaman dalam menaklukan berbagai wilayah yang terbentang dari daratan Asia Timur, Asia Tengah hingga ke Timur Tengah dan Eropa. Dunia Jengis adalah dunia peperangan hingga a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/S3ELqWQpYlI/AAAAAAAAAO4/BSD7sNW5b0M/s1600-h/Jengis+Khan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 65px; height: 78px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/S3ELqWQpYlI/AAAAAAAAAO4/BSD7sNW5b0M/s400/Jengis+Khan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436139047370711634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;khir hayatnya. Keberaniannya melegenda hingga kini, dan naif bila masih ada orang yang meragukan kecerdasannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 29.25pt; font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Keberanian Jengis merupakan sifat yang sepatutnya ditiru oleh setiap manusia di muka bumi. Setiap manusia dituntut untuk bersikap berani mengambil keputusan dalam menentukan arah hidupnya. Resiko dalam kehidupan jadi semacam bumbu bagi nikmatnya dunia ini. Jengis sangat menikmati hidupnya yang dipenuhi dengan tantangan dan rintangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 29.25pt; font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Darah dan kebencian melingkupi setiap sudut kehidupan Jengis. Bagi orang Muslim, Jengis adalah sosok bengis yang telah memorak-porandakan Bagdad sebagai jantung dunia Islam pada abad ke-13. Namun, dibalik kesadisannya itu tergambar sikap tegas dan konsisten. Dia seorang manusia yang disiplin dalam menjalankan setiap misinya. Rasa persaudaraan menjadi pemicu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semangat hidup bangsa Mongol waktu itu. Jengis-lah yang telah menghidupkannya kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 29.25pt; font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Konsistensi dalam perjuangan menjadi ciri khas bagi seorang Jengis Khan. Gaya hidupnya yang sederhana dan bersahaja menjadi contoh bagi setiap bawahannya. Itulah menjadi alasan kenapa dia begitu dipuja hingga hari ini. Cita-cita yang tinggi tidak hanya ada pada retorika belaka tetapi juga dibarengi oleh sikap hidup yang memperhatikan setiap detail masalah kehidupan itu sendiri. Dia menjadi contoh bagi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 29.25pt; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sekarang, sudah tersibak salah satu rahasia orang-orang China menjadi bangsa yang besar. Para leluhur mereka memberikan dorongan spiritual yang begitu kuat untuk maju dan mengubah dunia!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family: verdana;font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:130%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1376845907015342766?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1376845907015342766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1376845907015342766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1376845907015342766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1376845907015342766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2010/02/legenda-jengis-khan.html' title='Legenda Jengis Khan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/S3ELqWQpYlI/AAAAAAAAAO4/BSD7sNW5b0M/s72-c/Jengis+Khan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7574525578752345291</id><published>2009-09-13T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:31:01.850-07:00</updated><title type='text'>Puasa Bukan Sekedar Ritual</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/Sq21aVDmxQI/AAAAAAAAAOw/HLErzhZ_Snw/s1600-h/pohon.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/Sq21aVDmxQI/AAAAAAAAAOw/HLErzhZ_Snw/s400/pohon.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381156593711105282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Spirit berbeda yang dirasakan oleh orang yang berpuasa menjadi semacam 'charger' iman kita. Percayalah, tidak semua orang dapat merasakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Dari dulu, ketika aku faham arti penting puasa orang beranggapan bahwa puasa adalah ritual tahunan yang wajib dilaksanakan. Ritual itu seperti Inca, Maya, Quraisy, Zoroaster, Hindu, Budha, Kristen atau paganisme ketika ada kepercayaan pada Yang Maha Kuasa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Katanya, ada desa di India yang mewajibkan pada gadis untuk telanjang dan membajak sawahnya. Mereka berharap akan mendapatkan berkah dari langit.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Ritual memang aneh. Ada banyak ritual di bumi ini. Kepercayaannya pada Yang Maha Kuasa membawa manusia pada keanehan, tidak logis, imateril.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Jika puasa 'tidak logis'. Menahan lapar, nafsu sexual, dahaga. Bukankah itu kebutuhan dasar manusia? Puasa menyiksa diri?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Puasa adalah ritual pengorbanan. Mengapa kita harus berkorban? Tak adakah ritual yang lebih 'mengasyikan' seperti ritual pesta dansa Romawi Kuno? Atau ritual nyanyian gereja? Tanyakan itu semua pada Yang Maha Kuasa?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Alloh Pencipta Alam Semesta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7574525578752345291?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7574525578752345291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7574525578752345291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7574525578752345291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7574525578752345291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/09/puasa-bukan-sekedar-ritual.html' title='Puasa Bukan Sekedar Ritual'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/Sq21aVDmxQI/AAAAAAAAAOw/HLErzhZ_Snw/s72-c/pohon.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-2333646825457655616</id><published>2009-07-19T15:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-19T15:48:06.420-07:00</updated><title type='text'>Spekulasi Bom Mega Kuningan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SmOhy-p47ZI/AAAAAAAAAOo/N9wW-87rGwM/s1600-h/Bom+Marriot.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 76px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SmOhy-p47ZI/AAAAAAAAAOo/N9wW-87rGwM/s400/Bom+Marriot.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360305878685248914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bom kembali mengguncang negeri ini setelah sekian lama opininya tidak terdengar dimedia massa. Sekitar pukul 07.45 WIB sebuah bom meledak di Hotel JW. Mariot dan sekitar dua menit kemudian bom kembali meledak di Hotel Ritzt Carlton. Dua bom yang meledak hampir bersamaan menjadi indikasi bahwa ada keterkaitan diantara dua ledakan yang telah terjadi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Berbagai spekulasi muncul sehingga terjadi kesimpangsiuran informasi mengenai motif adanya ledakan ini. Setidaknya ada beberapa spekulasi dimana itupun belum tentu kebenarannya.&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Pertama, ledakan yang terjadi diduga dalam rangka mengacaukan pemilu yang ternyata dalam kondisi relatif aman. Pemilu kali ini tidak seperti yang terjadi di Iran dimana telah terjadi kerusuhan massa atas ketidakpuasan dari pihak yang kalah dalam pemilihan. Ada pihak yang tidak menginginkan pemilu di Indonesia berjalan aman. Pihak inilah yang senantiasa merongrong keutuhan bangsa sehingga akan dengan mudah terprovokasi dan tersudutkan di dunia internasional.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Kedua, spekulasi muncul dari pihak Pemerintah Australia yang menuduh Jamaah Islamiyah sebagai dalang dan pelaku pengeboman di Mega Kuningan beberapa hari lalu. Kejadian ini telah diprediksi oleh pihak intelejen namun tidak ada kekuatan untuk mencegahnya.  Kelompok Islam yang senantiasa menggunakan jalan kekerasan seperti ini ingin menunjukan eksistensi diri di tengah kezaliman dunia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Alasan gerakan Islam ini menjadi legitimasi Barat untuk senantiasa menekan Islam dimanapun berada jika tidak bisa diajak ‘kerjasama’. Isu ‘perang melawan teror’ masih menjadi strategi ‘basi’ yang dijalankan Barat setelah kepemimpinan George W. Bush sebagai presiden Amerika Serikat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Pelaku pengeboman dikedua tempat tersebut bisa saja berasal dari pihak kelompok Islam itu sendiri atau memang orang suruhan pihak intelejen asing. Juga, bisa jadi pelakunya adalah orang-orang ikhlas yang ingin memperjuangkan Islam tetapi dimanfaatkan oleh pihak intelejen untuk membentuk opini negatif tentang Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Banyak kemungkinan terjadi di tengah kesimpangsiuran opini yang terekam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pelaku adalah pihak yang berkepentingan dengan bisnis emas di Freeport. Akhir-kahir ini kondisi keamanan di Freeport dalam kondisi kritis sehingga mengancam eksistensi perusahaan Amerika itu di Indonesia. Media massa senantiasa menangkat isu sehingga dikhawatirkan mengganggu proses produksi serta investasi di salah satu tambang emas terbesar di dunia itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-2333646825457655616?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/2333646825457655616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=2333646825457655616' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2333646825457655616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2333646825457655616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/07/spekulasi-bom-mega-kuningan.html' title='Spekulasi Bom Mega Kuningan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SmOhy-p47ZI/AAAAAAAAAOo/N9wW-87rGwM/s72-c/Bom+Marriot.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-4665312910834364083</id><published>2009-06-24T09:53:00.000-07:00</published><updated>2009-06-24T10:01:30.389-07:00</updated><title type='text'>Manifseto Hizbut Tahrir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SkJbAe79EdI/AAAAAAAAAOg/7WiGBoJT4_Q/s1600-h/_MG_0134.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SkJbAe79EdI/AAAAAAAAAOg/7WiGBoJT4_Q/s400/_MG_0134.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350939371132228050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada hari sabtu (20/6) lalu telah digelar acara Manifesto Hizbut Tahrir: Jalan Baru untuk Indonesia dimana Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyeru umat Islam Indonesia untuk bersegera menegakan syariah Islam dalam bingkaian Daulah Khilafah Indonesia. Hadir sebagai pembicara Ust. Farid Wajdi S.Ip (DPP HTI), Ust. Taufik Abdul Karim (DPD I HTI Jawa Barat) dan Ust. Dr. Arim Nasim, SE., M.Si. Ak beserta sebagai pembanding diantaranya Herman Y. Ibrahim (Pengamat Politik), Achueviarta, SE., M.Si (Pengamat Ekonomi) dan Ade Makmur K, Drs., M.Phil (Pengamat Sosial).&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Acara tersebut salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan oleh HTI untuk menyeru Pemerintah dan rakyat Indonesia untuk menjadikan syariah Islam sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Pandangan Hizbut Tahrir dituangkan dalam sebau buku yang saat itu dibahas diaman terdapat rangkaian konsep kehidupan yang seharusnya dijalankan oleh rakyat Indonesia dengan umat Islam sebagai mayoritas. Sudah saatnya bangsa Indonesia menaggalkan sekulerisme sebagai akidah yang selama ini telah membwa umat ini pada jurang kehancuran. Berbagai krisis yang terjadi hanya akan selesai jika Islam dijadikan solusi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Peserta yang memadati aula PSBJ Fasa Unpad Jatinangor mendengarkan pemaparan dari pembicara dan tanggapan dari para panelis. Pemaparan seputar garis besar syariat Islam di bidang sosial, politik dan ekonomi. Pembahasan sebagai bentuk pendidikan politik bagi masyarakat sebagaimana Rosululloh memberikan gambaran Islam kepada para sahabatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-4665312910834364083?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/4665312910834364083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=4665312910834364083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4665312910834364083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4665312910834364083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/06/manifseto-hizbut-tahrir_24.html' title='Manifseto Hizbut Tahrir'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SkJbAe79EdI/AAAAAAAAAOg/7WiGBoJT4_Q/s72-c/_MG_0134.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3889127102773164475</id><published>2009-06-11T08:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T08:06:39.102-07:00</updated><title type='text'>Mari Dakwah Politis!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada semacam anggapan umum bagi para pengemban dakwah di tengah masyarakat bahwa harus ‘hati-hati’ ketika menyampaikan sesuatu pada objek dakwahnya. Anggapan seperti ini membuat mereka senantiasa menyampaikan hal-hal yang ‘tidak sensitif’ ketika berbicara dalam majelis-majelis ta’lim. Sejak dulu, menjadi suatu hal yang tabu jika seorang da’i berbicara politik di masjid-masjid karena itu merupakan hal sensitif dan akan mengundang banyak kontroversi. Namun, apakah benar selalu seperti itu?&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir empat tahun saya dan teman-teman menjambangi wilayah pedesaan di sekitar Jatinangor, Kabupaten Sumedang untuk sekedar bersilaturim atau mengisi pengajian di masjid-masjid. Isi dari pembicaraan kami ya tidak jauh dari isu politik yang ada dan dibandingkan dengan pandangan Islam terhadap realita yang ada. Sungguh sesuatu yang luar biasa dan diluar dugaan, mayoritas dari mereka mengerti dengan apa yang kami maksud. Bahkan mereka begitu bersemangat ketika berdiskusi dengan kami karena jarang sekali ‘model pengajian politik’ seperti ini.&lt;br /&gt;Ketika menyaksikan kondisi seperti ini, maka saya menyimpulkan bahwa ‘dakwah politik’ itu memang bisa diterima di masyarakat _walaupun ada juga yang kontra_. Stigma negatif tentang ‘bahaya’ dakwah politik ternyata tidak terbukti. Ketakutan yang ada benar-benar tidak terbukti seperti takut dicemooh, tidak ditanggapi bahkan diusir dari kampung mereka _benar-benar tidak terbukti!&lt;br /&gt;Maka dari itu, saya mengajak kepada para aktifis dakwah untuk menyampaikan Islam secara gamblang kepada masyarakat. Kita jangan suka menyembunyikan kebenaran ketika saudara kita membutuhkan sebuah pencerahan. Dakwah yang kita lakukan harus inovatif tidak hanya berbicara pada tataran ibadah ritual dan masalah mengelola hati. Masyarakat saat ini membutuhkan informasi yang jelas terhadap kondisi politik yang terjadi dan bagaimana Islam menyikapinya.&lt;br /&gt;Bila kita senantiasa ragu untuk berbicara politik di tengah opini dakwah kita, maka itu sama saja mengajak ummat untuk tidak peduli terhadap realitas yang ada. Secara tidak langsung masyarakat menjadi sekuler dimana masih melihat politk dan Islam adalah hal yang berbeda dan tidak mungkin ‘nyambung’. Padahal Islam adalah ideologi yang agung dimana masalah politik adalah bagian yang tidak terpisahkan.&lt;br /&gt;Pada saat saya berdiskusi dengan Bapak-bapak di Sindanglaya, Desa Sindangsari ternyata mereka tahu lebih banyak dari saya dan mereka pun berani mengeluarkan ‘unek-unek’- nya. Bahkan mereka bisa menilai bagaimana dzolimnya penguasa sekarang ketika tidak menjadikan syariat Islam sebagai aturan tata negara di negeri ini dan diberbagai belahan penjuru dunia lainnya.&lt;br /&gt;Menurut saya, hilangkan stigma antara ‘orang awan’ dan ‘orang alim’ karena ternyata mereka pun faham dengan bahasa politik yang ‘ngejelimet’. Mereka faham apa itu demokrasi, Kapitalisme, sosialisme dan bahasa politik lainnya. Ya, wajar karena intinya sama yakni kemunafikan, kedzoliman dan kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3889127102773164475?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3889127102773164475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3889127102773164475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3889127102773164475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3889127102773164475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/06/mari-dakwah-politis.html' title='Mari Dakwah Politis!'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-2156231474347558173</id><published>2009-06-04T15:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T15:58:32.426-07:00</updated><title type='text'>Peternak Rakyat Masih Terpuruk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Arial Rounded MT Bold"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(118, 146, 60);font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Mencermati Terbentuknya Undang-undang Peternakan dan Kesehatan Hewan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama insan peternakan di Indonesia mengalami kondisi yang tidak pasti dalam menjalankan usahanya. Fakta membuktikan bahwa ternyata peternak lokal kalah bersaing dengan produk impor atau investor asing yang memiliki peternakan di Indonesia. Ketatnya persaingan terjadi akibat adanya globalisasi dan liberalisasi perdagangan yang sulit untuk dibendung. Maka dari itu, perlu adanya aturan yang adil untuk melindungi peternak lokal agar tidak mengalami keterpurukan seperti yang saat ini terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Untuk menjawab problem tersebut, maka sejak Selasa (12/5) lalu, DPR telah mensahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi Undang-undang. Undang-undang  ini merupakan revisi UU No. 6/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Isi dari UU ini berbicara tentang usaha perlindungan sumberdaya lokal, pengaturan distribusi peternakan serta kesehatan hewan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Namun, ternyata ada beberapa hal yang masih menjadi ganjalan banyak pihak megenai isi UU tersebut terutama mengenai upaya perlindungan peternak lokal dari ‘serangan’ modal asing yang sulit untuk dibendung. Berdasarkan Bab Penjelasan, lahirnya UU ini dimotori oleh General Agreement on Trade and Tariffs (GATT) 1994 sebagai konsekuensi Indonesia masuk ke dalam ‘kubangan lumpur’ perdagangan bebas. Maka,  wajar jika ‘ruh’ dari UU ini cenderung memberikan ruang yang lebih leluasa kepada para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indoensia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Lalu, bagaimana nasib peternak lokal? Undng-undang ini tidak secara tegas dan jelas memberikan tameng dalam rangka melindungi peternak lokal. Malahan, memberikan ruang yang lebih leluasa kepada para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia sebagaimana tertera pada pasal 31 ayat (2). Disana dijelaskan bahwa Perorangan Warga Negara Indonesia atau badan hukum Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan kerjasama dengan pihak asing sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal dan peraturan perundangan lainnya yang terkait.  Jika hal ini terjadi maka sudah diprediksi peternak lokal mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya karena kalah dalam bidang modal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Kita jangan aneh jika nanti akan ada banyak peternak dari luar negeri yang mengembalakan ternaknya di sekitar rumah kita karena UU ini memperbolehkannya. Kita pun jangan aneh jika nanti akan ada banyak ternak lokal seperti domba Garut yang dibawa ke luar negeri karena UU ini memperbolehkannya. Sekarang saja sudah banyak perusahaan yang mendominasi berbagai komoditas ternak dimana peternak kecil mengalami kesulitan untuk mengimbanginya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Seharusnya UU yang dibentuk adalah bentuk proteksi demi peternak lokal berupa aturan penanaman modal yang ketat serta aturan regulasi dan distribusi hasil ternak yang ketat. Apabila pembentukan UU ini dikonsentrasikan ke arah sana maka akan terbentuk sistem distribusi peternakan yang terintegrasi dengan baik.  Jika distribusi diatur dengan baik, diharapkan tidak terjadi impor besar-besaran yang justru merugikan peternak rakyat seperti kasus susu impor dari Australia dan New Zeland baru-baru ini. dalam kasus ini, peternak rakyat mengalami kesulitan penjualan produknya karena pihak perusahaan mengurangi jatah susu lokal dan digantikan dengan susu impor yang jauh lebih murah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Seharusnya, ada banyak pasal yang mengatur pola penyebaran lokasi peternakan supaya tidak terkonsentrasi pada satu tempat dan satu pihak saja. Adanya UU ini justru semakin mengokohkan  kartel-kartel peternakan yang sudah ada dan memaksa peternak kecil mengikuti sistem yang sudah ada. Jadi, UU ini bukan mengubah sistem yang ada _yang jelas merugikan_ tetapi menguatkan jaringannya. Misalnya, pola kemitraan antara perusahaan dan peternak rakyat yang membuat pola perdangangan ternak menjadi oligopsoni artinya harga komoditi ditentukan oleh segelintir orang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Selain itu, ada hal penting yang dilupakan dalam UU ini yakni membangun motifasi masyarakat untuk beternak. Pada Bab Pengembangan Sumberdaya Manusia hanya dituliskan berbagai program pendidikan, pelatihan dan penyuluhan dimana pada faktanya hal tersebut kurang efektif dan merata. Pasal tersebut hanya menyoroti individu peternak yang sudah berkiprah di bidangnya saja tanpa memberikan imbauan positif bagi masyarakat yang tidak menekuni usaha peternakan. Sebaiknya, ada pasal yang mengharuskan Pemerintah dan pihak terkait memberikan pendidikan publik untuk membuka wawasan tentang dunia usaha ternak. Praktisnya, harus ada iklan atau input pengetahuan yang mengajak setiap orang untuk menekuni usaha peternakan. Imbauan ini akan berimbas pada cara pandang seseorang tentang peternakan sehingga tidak terkesan ‘kurang  menjanjikan’. Opini ini akan menggiring pola ekonomi negeri ini yang tadinya berbasis industri beralih menjadi berbasis pertanian _terutama peternakan_.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Hal terpenting untuk membangun dunia peternakan di negeri ini adalah pembangunan sumber daya manusia bukan sekedar pembangunan infrastruktur semata. Geliat ekonomi peternakan rakyat yang diharapkan banyak pihak hanya akan terjadi  jika ada motifasi masyarakat untuk meningkatkan produksi ternaknya. Sudah seharusnya, peraturan yang ada menitikberatkan pada pembangunan motifasi masyarakat bukan malah ‘membunuhnya’. Kita pun tidak ingin sentra-sentra peternakan di negeri ini (seperti Pangalengan, Lembang, Boyolali dll.) hilang karena para generasi mudanya enggan untuk meneruskan usaha orangtuanya!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-2156231474347558173?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/2156231474347558173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=2156231474347558173' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2156231474347558173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2156231474347558173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/06/peternak-rakyat-masih-terpuruk.html' title='Peternak Rakyat Masih Terpuruk'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-8471262088465866417</id><published>2009-05-17T05:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T05:29:45.401-07:00</updated><title type='text'>Tolak Perdagangan Bebas!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/ShABlwhBPRI/AAAAAAAAAOQ/hHlnpCnhkW0/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 131px; height: 119px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/ShABlwhBPRI/AAAAAAAAAOQ/hHlnpCnhkW0/s400/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336767306624220434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran Swasta dalam Perekonomian Islam Dibandingkan dengan Perekonomian Kapitalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.(QS. Al-Baqoroh: 205)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam perekonomian Kapitalisme yang sedang berjalan sekarang, peran swasta menjadi sangat signifikan terutama pihak swasta yang memiliki modal besar. Peran swasta ini semakin jelas terlihat ketika terjadi berbagai bentuk perjanjian kerjasama perdagangan regional, multilateral maupun internasional. Dalam hal ini, negara hanya sebagai fasilitator untuk memuluskan jalan pihak swasta dalam meraup keuntungan yang ingin diperoleh.  Kondisi ini semakin mengkerdilkan peran negara sebagai regulator perekonomian sehingga mengalami kesulitan untuk menentukan arah perekonomian yang berpihak pada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Perdagangan bebas yang menjadi senjata perekonomian kapitalisme adalah contoh nyata betapa peran swasta lebih banyak dibandingkan peran negara yang mengatur perekonomian nasional. Peran swasta semakin terlihat ketika Pemerintah menandatangani perjanjian kerjasama perdagangan bebas antara ASEAN dengan Australia dan New Zealand (AAZ-FTA) pada 2 Februari lalu. Ini bisa menjadi contoh nyata bahwa ternyata Pemerintah lebih berpihak pada swasta daripada peternak rakyat yang sedang mangalami keterpurukan. Akibat dari perjanjian ini, pihak Industri Pengolahan Susu (IPS) mengurangi kuota susu lokal dan menambah susu impor sebagai bahan baku produknya. Para IPS lebih memilih susu dari Australia yang lebih murah apalagi produk impor dari Austrlia berupa susu dan daging sapi akan diturunkan biaya tarifnya hingga 0 %. Di Lembang dan Singosari, susu dari peternak nyaris tak terjual karena pihak IPS tidak mau menampung semua susu yang mereka miliki (Pikiran Rakyat, 2/5 dan Kompas 30/4). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Pragmatisme sebagai Azas Berfikir Ekonomi Kapitalisme&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Peran kuat swasta ini lahir berdasarkan azas Kapitalisme itu sendiri dimana para Kapitalis yang bermodal besar menguasai segala aspek kehidupan. Azas yang mendasarinya adalah pragamatisme sehingga setiap kebijakan Pemerintah senantiasa berpihak pada pihak yang mempunyai kepentingan. Pragmatisme ekonomi ini lahir dari cara berpikir yang sederhana dimana ekonomi Kapitalisme tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Sejak kecil kita dicekoki oleh dasar-dasar faham Kapitalisme ini, dimana ada azas ‘kebutuhan manusia tidak terhingga’ sehingga kerakusan manusia menjadi tidak terkendali dan sangat merusak. Padahal dalam Islam, ada pembedaan antara kebutuhan dan keinginan. Seorang pengusaha tidak akan berprilaku ‘buas’ dan ‘menyembelih’ rakyat karena mereka faham bahwa ada rakyat yang mereka lindungi. Pemerintah pun senantiasa mendahulukan alternatif yang lebih aman untuk melindungi rakyatnya karena semua ini berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi diantaranya sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;‘Keinginan  manusia yang tidak terbatas ini’ membuat manusia sangat buas bahkan mereka bersikap egois dan mementingkan diri pribadi. Dalam Islam, menjalankan syariah menjadi azas dalam berekonomi _baik swasta maupun negara_ sehingga senantiasa berpihak pada rakyat karena syariat Islam sendiri mengakumulasi semua kepentingan umat. Kesadaran akan syariat Islam ini sudah menjadi tulang punggung perekonomian Islam sehingga tidak destruktif justru bersifat membangun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Selain itu, sistem ekonomi Kapitalisme senantiasa menjadikan kehendak pasar sebagai pijakan perdagangannya. Azas ini sudah kita pelajari sejak SLTP dulu. Dari cara berfikir ini lahir pola fikir sistem ekonomi pasar sehingga pola perdagangan tidak bisa dicegah oleh Pemerintah sekalipun. Pemerintah hanya bertindak sebagai pembuat aturan yang tentu saja berpihak pada para Kapitalis.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Perdagangan Bebas sebagai Bentuk Peran Swasta yang Terlalu Menonjol&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Tulisan ini tidak akan menjelaskan peran pihak swasta dalam perekonomian secara gamblang. Namun, ada hal mendasar yang mengakibatkan begitu kuatnya peran swasta dalam ekonomi Kapitalisme dibandingkan ekonomi Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Salah satu bentuk peran swasta yang sangat menonjol dalam ekonomi kapitalisme adalah adanya perdagangan bebas. Perdagangan bebas menghendaki dihapuskannya peran negara dalam segala bentuk perdagangan baik nasional maupun internasional. Kondisi ini menjadi semacam boomerang bagi negara yang menerapkannya dimana akan banyak barang impor yang membanjiri wilayahnya dan kesulitan untuk membendungnya. Membanjirnya produk Australia dan mengalahkan produk lokal menjadi contoh kongkrit di depan mata kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Dalam Islam, perjanjian perdagangan luar negeri ini hukumnya boleh selama perjanjian tersebut tidak merugikan perekonomian dalam negeri. Namun, kenyataannya perjanjian perdagangan seperti WTO, GATS dan semacamnya cenderung merugikan negara berkembang. Pemerintah ‘terpaksa’ mengikuti tata aturan yang ada karena adanya desakan pihak swasta yang ingin mengambil keuntungan di balik semua itu. Saat ini, Pemerintah seperti boneka yang selau dikendalikan oleh kalangan pemodal karena mereka pun jadi pejabat atas dukungan para pemodal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Sikap Kita untuk Menolak Perdagangan Bebas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Sikap yang harus kita ambil untuk menolak perdagangan bebas ini adalah sikap yang mendasar yakni sikap menolak Kapitalisme itu sendiri. Mari kita kembali kepada Islam mulai dari ajarannya yang paling mendasar. Kita harus semakin yakin bahwa hanya aturan Alloh yang dapat menyelesaikan masalah negeri ini. Kita jangan mendukung penguasa yang tidak mau menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-8471262088465866417?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/8471262088465866417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=8471262088465866417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8471262088465866417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8471262088465866417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/05/tolak-perdagangan-bebas.html' title='Tolak Perdagangan Bebas!'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/ShABlwhBPRI/AAAAAAAAAOQ/hHlnpCnhkW0/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7309893400570907551</id><published>2009-04-28T08:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T08:11:33.810-07:00</updated><title type='text'>Kenapa Malu ‘Menjual Syari’ah’?</title><content type='html'>Ada banyak ungkapan yang disampaikan oleh para politisi kita ketika mereka didesak untuk mengopinikan syari’ah di tengah keringnya pemikiran Islam dalam kancah politik negeri ini. Ada banyak alasan pula ketika mereka ramai-ramai untuk menolak mengopinikan syari’ah baik di parlemen, mimbar ilmiah atau dalam pertemuan politis lainnya. Hal yang memilukan sekaligus membingungkan adanya ungkapan dari politisi Muslim bahwa ‘jualan syariah sudah tidak laku lagi’. Banyak faktor yang mendasari keluarnya ungkapan seperti itu, antara lain:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, keimanan yang lemah menjadi penghalang seseorang untuk mengatakan kebenaran. Pertimbangan akal yang dimilikinya telah mengalahkan perintah Alloh SWT untuk menyampaikan kebenaran di tengah-tengah umat. Alasan syar’i yang seharusnya mereka turuti seakan tidak menjadi motif utama dalam berpolitik tetapi kenikmatan duniawi menggelapkan hati dan pikiran mereka. Apalagi jika syetan selalu menggerayangi hati dan pikiran mereka di tengah riuh-rendahnya suara kebatilan.&lt;br /&gt;Kedua, sekulerisme telah merasuki pikiran umat ini, tidak terkecuali para ulama, sehingga arah politik yang dibangun oleh politisi Muslim pun teracuni oleh cara pandang sekuler. Mereka enggan untuk membawa isu syari’ah dalam perpolitikan dalam negeri yang notabene memisahkan agama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;Ketiga, mereka memahami bahwa untuk meraih dukungan umat tidak harus mengopinikan syari’ah. Pemikiran ini membawa banyak partai berbasis Islam menjadi partai terbuka yang telah luntur ciri ke-Islamannya. Padahal, untuk sebuah perubahan harus ada perbenturan pemikiran sehingga tercipta opini umum tentang syari’ah di tengah-tengah umat. Dengan begitu, umat pun akan dapat membedakan antara yang haq dan bathil karena mereka masih mempunyai akidah walaupun lemah.&lt;br /&gt;Keempat, dakwah yang dilakukan oleh para politisi Muslim tidak mengikuti metode dakwah Rosululloh SAW. Metode dakwah tersebut adalah pembinaan umat dan berinteraksi dengan umat untuk membentuk pemikiran Islam sebagai opini umum. Setelah itu, penyerahan kekuasaan dari pemerintah yang ada akan dengan mudah dilakukan karena umat sudah tidak setuju dengan demokrasi yang sedang berjalan dan menghendaki ditegakkannya syari’ah Islam.&lt;br /&gt;Mungkin masih banyak faktor yang menghalangi para politisi Muslim untuk menyuarakan syari’ah dan Khilafah. Tetapi, yang pasti kita jangan terpengaruh oleh opini miring untuk menyudutkan para pengemban dakwah yang ‘menjual syari’ah dan Khilafah’. Tetaplah konsisten untuk menyuarakan kebenaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7309893400570907551?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7309893400570907551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7309893400570907551' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7309893400570907551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7309893400570907551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/04/kenapa-malu-menjual-syariah.html' title='Kenapa Malu ‘Menjual Syari’ah’?'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1625288277409477393</id><published>2009-04-28T07:59:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T08:05:44.579-07:00</updated><title type='text'>Apakah Pemilu Kali ini Buruk?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SfcaxWo3CnI/AAAAAAAAAOI/08PUdqOfYvg/s1600-h/pemilu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 109px; height: 144px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SfcaxWo3CnI/AAAAAAAAAOI/08PUdqOfYvg/s400/pemilu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329758119209142898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 2009 merupakan Pemilu dengan banyak kejanggalan  baik tingkat TPS (Tempat Pemungutan Suara) bahkan hingga kesalahan KPU (Komisi Pemilihan Umum) dalam menetapkan Daftar Pemilih Tetap. Masih banyak hal yang perlu dikritisi sehingga banyak kalangan yang ramai-ramai mengadu ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu). Entah apa motifasi di balik semua bentuk pengaduan tersebut. Apakah karena mereka mengalami kekalahan atau sekedar cari muka di hadapan rakyat?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kemungkinan yang menyebabkan begitu buruknya Pemilu kali ini. Masalah administrasi yang kacau, keamanan yang tidak terjaga bahkan kekurangcakapan petugas dalam mengelola proses pemungutan suara menjadi kendala yang sulit untuk dihindari ketika Pemilu berlangsung.  Kemungkinan tersebut bisa berasal dari petugas sendiri atau karena kondisi sosial masyarakat yang kurang bersahabat.&lt;br /&gt;Namun, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kejanggalan ini pada petugas atau Pemerintah sebagai penyelenggara Pemilu. Tetapi ini menjadi kesalahan besar rakyat Indonesia ketika masih mendukung konsep ini untuk dijalankan. Padahal kita tahu, konsep pemilu seperti ini sungguh sangat tidak efektif dan efisien. Ketidakefektifan dan ketidak efisienan Pemilu ini lahir dari konsep dasar atau cara pandang masyarakat terhadap ‘betapa pentingnya memilih seorang penguasa’.&lt;br /&gt;Masyarakat memandang bahwa sangat penting memilih penguasa yang akan mengurus segala urusannya. Cara pandang ini memotifasi masyarakat untuk bersegera menggelar Pemilu sebagai sarana untuk mengangkat seorang Penguasa. Masyarakat menyadari bahwa tidak mungkin ada sebuah negara tanpa pemimpin yang merepresentasikan rakyat. Namun, cara pandang seperti ini masih terlalu sempit sehingga mereka melihat bahwa pemimpin yang dipilih oleh rakyat-lah yang sah secara moral. Padahal belum tentu calon legislatif atau eksekutif yang mereka pilih merepresantikan aspirasi mereka.&lt;br /&gt;Banyak kalangan menganggap bahwa Pemilu merupakan acara ‘sakral’ yang wajib digelar dalam rangka menentukan arah pembangunan negeri ini. Jika kita mencermati, cara untuk memilih penguasa tidak harus melalui Pemilu. Karena saya tidak melihat benang merah yang jelas antara Pemilu dengan kegiatan pembangunan negeri ini. Siapa pun yang terpilih, arah kebijakan pembangunan justru tidaklah berpihak pada rakyat malah yang terjadi adalah pembangunan yang menguntungkan pengusaha dan para kapitalis. Apakah negara monarki pembangunannya terhenti karena tidak ada Pemilu?&lt;br /&gt;Dalam era demokrasi saat ini, ada anggapan umum bahwa ‘kekuasaan ada di tangan rakyat’ sehingga mereka menganggap bahwa penguasa yang terpilih dalam Pemilu adalah representasi kepentingan rakyat. Benarkah demikian? Memang benar, rakyatlah sejatinya yang berkuasa namun fakta membuktikan ternyata janji kosong Pemilu tidak selalu ditepati pada kandidat Pemilu. Anggapan ‘kekuasaan ada di tangan rakyat’ ini menjadi hal yang keliru ketika masyarakat melihat dari sisi praktisnya saja dan tidak menilik sisi substansinya. Rakyat yang memiliki kekuasaaan hanya mewakilkan urusannnya kepada orang yang dianggap mampu untuk menjalankannya. Apakah proses ‘pewakilan urusan’ ini harus selalu melalui Pemilu yang mahal?&lt;br /&gt;Hal penting yang harus dicatat adalah bahwa kekuasaan ini merupakan amanat yang harus dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dengan begitu, penguasa yang terpilih akan menjalankan tugasnya dengan baik dan senantiasa berorientasi untuk mendahulukan kepentingan rakyat. Kesadaran ini menjadi motif seseorang untuk mencalonkan  diri menjadi penguasa bukan karena kepentingan pribadi untuk meraup keuntungan semata.&lt;br /&gt;Ketika seluruh rakyat sedang tenggelam dalam riuh rendahnya ‘pesta demokrasi’ kali ini bisa jadi begitu banyak kecurangan yang terjadi tidak kita ketahui. Opini media yang ada cenderung mengangkat Pemilu sebagai tema utama. Kita tidak tahu jika kekayaan negeri ini dipreteli oleh orang asing yang menginginkan negeri ini hancur  secara perlahan. Maka, sudah seharusnya rakyat negeri ini menyadarinya dan jangan menjadikan Pemilu ini sebagai satu-satunya jalan untuk meraih kesejahteraan. Buktinya, sudah sepuluh kali Pemilu  diselenggarakan kesejahteraan tidak kunjung tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1625288277409477393?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1625288277409477393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1625288277409477393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1625288277409477393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1625288277409477393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/04/pemilu-2009-merupakan-pemilu-dengan.html' title='Apakah Pemilu Kali ini Buruk?'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SfcaxWo3CnI/AAAAAAAAAOI/08PUdqOfYvg/s72-c/pemilu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1296181942589201905</id><published>2009-04-17T09:16:00.002-07:00</published><updated>2009-04-28T07:35:12.883-07:00</updated><title type='text'>Euforia Kemenangan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pemilu legislatif telah digelar, dan kita pun akan melihat hasilnya. Bagi peserta Pemilu, sudah menjadi konsekuensi jika harus menjadi pemenang atau pecundang. Namun, kemenangan yang diperoleh bukanlah seperti kemenangan di meja judi dimana ketika uang sudah di tangan bisa langsung pergi. Jika seorang caleg terpilih untuk menduduki kursi parlemen dan partai mengantongi suara terbanyak itu berarti sebuah cambukan bagi dirinya. Baginya, harus ada usaha maksimal untuk menjalankan segenap janji kampanye yang telah ‘terlanjur ‘ diteriakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita mau mencermati, ternyata tidak sedikit angota dewan yang terpilih menggelar pesta untuk merayakan kemenangannya. Banyaknya modal yang telah dikeluarkan terasa ringan ketika kemenangan itu telah sampai pada dirinya. Padahal dia lupa bahwa masih banyak anak jalanan yang tidak makan karena tidak punya uang untuk membeli sebungkus nasi. Seharusnya dia hampiri para pengemis di tengah kota yang begitu berharap para penguasanya dapat memberinya selembar uang kertas.&lt;br /&gt;Ketika para wartawan mengerumuni ‘sang pemenang’ maka dia akan tersenyum penuh dengan kebanggaan. Padahal dikemudian hari akan banyak masalah yang membuatnya kurang tidur dan tidak bisa tersenyum lagi. Krisis ekonomi yang terjadi diikuti oleh berbagai krisis yang sulit untuk diatasi menjadi agenda utama untuk segera diselesaikan. Walaupun mereka menawarkan sebuah janji untuk mengobati krisis ini. Mungkin, suatu saat nanti mereka akan tertegun melihat ribuan nyawa melayang akibat bencana alam yang tidak kunjung berhenti menghantui negeri ini.&lt;br /&gt;Seharusnya mereka menangis ketika mereka tahu jika rakyat banyak memberinya kepercayaan untuk berkuasa. Beban yang ada di pundaknya akan dipertanggung jawabkan di hadapan rakyat. Lebih-lebih Alloh akan menanyakan setiap kebijakan yang akan diambilnya ketika dia menjabat nanti. Kursi panas yang akan didudukinya terasa tidak nyaman karena dia tahu sebenarnya uang rakyatlah yang sedang dia duduki.&lt;br /&gt;Para anggota legislatif yang terpilih pun harus menyadari bahwa banyak rintangan yang akan menghadang kinerja mereka untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Uang panas bisa saja masuk ke rekeningnya dan terungkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sehingga mengantarkan dia masuk ke dalam penjara. Kalau sudah begitu, putuslah harapan untuk mengganti uang kampanye yang jumlahnya bisa menafkahi sebuah keluarga selama setahun.&lt;br /&gt;Namun, dibalik euforia kemenangan ini ada juga para caleg yang menghampiri Rumah Sakit Jiwa untuk sekedar beristirahat atau menenangkan pikiran. Mereka tidak merasakan kemenangan yang dialami sauadaranya, tetapi hanya bisa melihatnya di televisi sambil berbaring di ranjang dan ditemani perawat yang telah dibayarnya dengan harga yang tidak murah. Mungkin, dia kelelahan karena terlalu capek kampanye atau tidak bisa mengembalikan uang kampanye yang dia dapatkan entah darimana.&lt;br /&gt;Sebagai rakyat, kita hanya bisa mengelus dada karena ternyata jabatan itu adalah hal yang berat untuk ditanggung. Maka, jika tak mampu untuk menanggung resiko jangan mau kita seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1296181942589201905?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1296181942589201905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1296181942589201905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1296181942589201905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1296181942589201905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/04/euforia-kemenangan.html' title='Euforia Kemenangan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-4996212125616351315</id><published>2009-04-01T22:39:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T22:49:08.229-07:00</updated><title type='text'>Ketika Pemilu Dijadikan Harapan untuk Kesejahteraan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Ada orang yang mengatakan bahwa kesejahteraan itu bersifat relatif dan sulit untuk diukur. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdRQ0spLn9I/AAAAAAAAAOA/S8iiRvHWqIU/s1600-h/pemilu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 72px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdRQ0spLn9I/AAAAAAAAAOA/S8iiRvHWqIU/s400/pemilu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319965926098706386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Seberapa besar uang yang harus dimiliki oleh seseorang untuk dikatakan bahwa orang tersebut sejahtera? Memang, ada orang yang sudah merasa hidupnya sejahtera karena dia merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Ada juga yang selalu merasa kekurangan walaupun sudah cukup harta yang dia  miliki. Entah dimana letak kesejahteraan yang dimaksud jika masih ada orang yang merasa tidak cukup dengan segala kebutuhannya. Kalau begitu, kata kuncinya adalah ‘kebutuhan’ yang mendasari ukuran kesejahteraan seseorang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Seseorang dapat dikatakan sejahtera apabila sudah terpenuhi segala kebutuhannya _bukan keinginannya_. Kebutuhan dasar seseorang mencakup pada 6 hal yakni sandang, papan, pangan, pendidikan, keamanan dan kesehatan. Jika kebutuhannya tersebut sudah terpenuhi maka layak orang tersebut dikatakan sejahtera walaupun berpenghasilan kurang dari US$ 2 perhari seperti standar PBB (Perserikatan Bangsa-&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;bangsa). Seberapa banyak atau sedikitnya upah seseorang per hari tidak akan menjadi ukuran kesejehteraan jika dia belum terpenuhi 6 aspek tersebut. Misalnya, seorang pegawai dengan gaji yang tinggi tetap tidak akan merasa sejahtera karena keamanannya terancam. Begitu pun seorang petani dengan penghasilan rendah akan merasa sejahtera karena pendidikannya terpenuhi serta kesehatannya terjaga, jika dia sakit mudah untuk memperoleh pelayanan dari rumah sakit atau tenaga medis.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Berangkat dari pemahaman dasar ini maka lahirlah konsep kesejahteraan menurut ekonomi Kapitalisme. Dalam sistem ekonomi Kapitalisme, kebutuhan seseorang disamakan dengan keinginan sehingga ukuran kesejahteraan pun menjadi buram. Bahkan konsep ini cenderung menggelembung seiring dengan kaidah ‘kebutuhan manusia tidak terbatas’. Kalau begitu, manusia tidak akan pernah sejahtera karena kebutuhannya (sama dengan keinginannya) senantiasa terus bertambah dan tidak terbatas. Dalam ekonomi kapitalisme tidak ada pembedaan antara kebutuhan dan keinginan sehingga akan senatiasa  tidak ada kejelasan batasan diantara keduanya. Dalam ekonomi Islam ada pembedaan diantara kebutuhan dan keinginan sehingga ukuran kesejahtaraan adalah jika seseorang sudah terpenuhi  kebutuhannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdRQ0b3KAuI/AAAAAAAAAN4/7lEnKij7wx8/s1600-h/pemilu+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 125px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdRQ0b3KAuI/AAAAAAAAAN4/7lEnKij7wx8/s400/pemilu+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319965921593918178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Saat ini begitu banyak calon legislatif ataupun calon presiden dari berbagai partai yang menawarkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dengan harapan dia terpilih pada Pemilu tahun ini. asumsi ini menggiring masyaraakt untuk senantiasa ‘coba-coba’ daalm berpolitik karena hampir setiap caleg atau capres menawarkan konsep yang sama seperti sembako murah, pendidikan gratis, kesehatan gratis dll. Namun, apakah cukup dengan itu kesejahteraan itu dapat tercapai? Dalam era demokrasi seperti saat ini konsep kesejahteraan yang ditawarkan tidaklah baku artinya senantiasa berubah-ubah maka konstituen pun senantiasa memiliki perubahan cara pandang ketika menentukan pilihannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Apabila seorang calon penguasa terpilih dan ternyata rakyat tidak kunjung sejahtera maka Pemilu selanjutnya rakyat akan memilih calon penguasa yang lain, kejadian ini terjadi berulang-ulang. Keadaan ini adalah buah dari tidak bakunya sistem hidup yang ada sehingga setiap orang senantiasa memberikan teori  masing-masing yang belum tentu berhasil ketika diterapkan. Inilah bentuk dari kesalahan demokrasi ketika ketika berharap kesejahteraan padanya. Demokrasi memberikan kewenangan bagi setiap orang untuk mengemukakan teori tentang cara mengatur urusan masyarakat termasuk bidang ekonomi. Namun, teori tersebut akan senantiasa berubah tergantung pada siapa yang berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Sistem kehidupan Islam merupakan aturan yang baku dari Alloh SWT dan Rosul-Nya yang telah memberikan pedoman dimana manusia tinggal menjalankannya. Dia-lah yang Maha Tahu apa kebutuhan manusia dan bagaimana cara memenuhi kebutuhannya tersebut. Ketika Islam berkuasa maka tidak ada perubahan dasar aturan kehidupan yang senantiasa berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunah. Apabila terjadi perbedaan pendapat maka pendapat tersebut lahir dari metode penggalian hukum dengan standar yang baku sehingga setiap pendapat adalah pedapat Islami. Dalam demokrasi kedaulatan ada di tangan rakyat,  sehingga rakyat (dewan) berhak membuat aturan hidup. Dalam Islam, kedaulatan hanyalah ada pada syara’ dimana setiap orang tidak punya hak untuk membuat aturan karena sudah ada dari Alloh SWT. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Pemilu untuk Menuai Kesejahteraan?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Masihkan kita berharap  pada Pemilu untuk menuai kesejahteraan? Padahal pemimpin yang telah terpilih tidak menerapkan aturan Islam sebagai kewajiban setiap individu Muslim. Sebaliknya, kekayaan alam negeri ini dijual kepada para Kapitalis untuk dieksploitasi padahal kekayaan itu hak rakyat yang harus digunakan untuk kepentingan rakyat. Legislatif  yang  terpilih telah menelorkan undang-undang yang  justru mendzolimi rakyat seperti UU Pornografi, UU Badan Hukum Pendidikan, UU Minyak dan Gas, UU Sumber  Daya Air dll.  Udang-undang tersebut dibuat oleh wakil rakyat dimana isinya lebih berpihak pada golongan tertentu dan jauh dari tujuan untuk mensejahterakan kehidupan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Para wakil rakyat dan pemerintah akan senantiasa berdebat tentang bagaimana cara untuk mengatur urusan rakyat sehingga rakyat sejahtera. Padahal jika mereka mau sudah ada aturan Islam yang baku dari sang Maha Pencipta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mereka adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan sehingga pemikiran mereka terbatas dan tidak bisa menjangkau besarnya urusan manusia.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pengharapan kita pada mereka adalah pengharapan semu bahkan bisa mengguncang akidah kita karena  pengharapan hanya pada Alloh SWT&lt;/span&gt;. Dia telah menjawab harapan kita yakni dengan memberikan aturan Islam sebagai pedoman untuk mencapai kesejahteraan yang kita inginkan. Aqidah kita mengharuskan untuk menjalankan Islam sebagai aturan hidup sehingga akan banyak hikmah yang kita rasakan yakni adanya keteraturan hidup. Kehidupan yang teratur akan melahirkan kondisi bangsa yang aman, nyaman dan tercapainya kemakmuran yang sejati.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Penutup: Tidak Pernah Ada Perasaan Cukup….&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Sikap masyarakat Kapitalis saat ini tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki karena tidak memiliki standar kesejahteraan yang jelas. Ideologi kapitalisme membuat manusia berikap tamak terhadap harta yang dimiliki bahkan cenderung bersifat konsumtif. Kalau begitu, sampai kapan pun manusia akan senantiasa merasa kurang dan selalu merasa ingin lebih. Keinginan ini yang mendorong mereka untuk berharap pada penguasa yang ada dan melupakan pengharapan mereka pada Alloh SWT.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Islam mengajarkan pada kita untuk bersikap qonaah artinya merasa cukup dengan kondisi yang ada jika semua kebutuhannya telah terpenuhi sembari manjalankan setiap perintah  Alloh yang diturunkan padanya. Sikap seperti inilah yang mendorong orang untuk senantiasa bertaqwa kepada Alloh. Penguasa pun akan memiliki tanggung jawab untuk melayani umat karena itu adalah kewajiban yang harus dia penuhi. Wajar, ketika penguasa saat ini enggan untuk melayani rakyat karena mereka berkuasa bukan atas dasar keimanan pada Alloh tetpai karena kepentingan diri yang tidak pernah merasa cukup.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Jatinangor, April 2009&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Muhammad Yusuf Ansori&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-4996212125616351315?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/4996212125616351315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=4996212125616351315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4996212125616351315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4996212125616351315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/04/ketika-pemilu-dijadikan-harapan-untuk.html' title='Ketika Pemilu Dijadikan Harapan untuk Kesejahteraan Masyarakat'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdRQ0spLn9I/AAAAAAAAAOA/S8iiRvHWqIU/s72-c/pemilu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-9032829599881268835</id><published>2009-03-30T22:22:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T22:46:21.942-07:00</updated><title type='text'>Resensi Buku   'Kamal Attaturk, Pengusung Sekulerisme dan Penghancur Khilafah Islamiah'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdGrfu7XgfI/AAAAAAAAANw/mpGa-ruD09Q/s1600-h/attaturk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 171px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdGrfu7XgfI/AAAAAAAAANw/mpGa-ruD09Q/s400/attaturk.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319221196562596338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buku ini  ditulis oleh seseorang dengan nama pena Dhabit Tarki Sabiq dan diterbitkan oleh Senayan Publisihing pada Juni 2008. Edisi Bahasa Indonesia yang dapat kita baca ini diterjemahkan dari edisi bahasa Arab dengan judul ar-Rhajul ash-Shanam, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.abuwaznah.co.cc/2009/02/muthafa-kamal-attaturk-pasya-1880-1938.html"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kamal Attaturk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Buku ini dapat dengan mudah ditemukan di toko buku walaupun sebenarnya di Turki dilarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pelarangan beredarnya buku ini berdasar pada sebuah Undang-undang tentang Kamalisme yang melindungi segala tingkah laku Attaturk dari berbagai kritik terhadapnya. Dalam buku ini dibeberkan segala kelakuan buruk Attaturk yang sebenarnya tidak pantas ada pada seorang pemimpin negara. Pelacuran dan pesta minuman keras selalu mewarnai kehidupannya tanpa ada yang berani untuk mengkritiknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejatinya, buku ini tidak hanya menonjolkan sisi pribadi Attaturk saja tetapi menampilkan jalan pemikirannya yang keji. Apabila kita telusuri maka ada beberapa hal yang dapat diambil kesimpulan dari cara berpikir Attaturk dalam rangka menghancurkan Daulah Islam dari jantung pertahanannya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, Attaturk adalah seorang penyusup dan mata-mata yang hebat. Dia menjadi anggota tentara Turki Ustmani dan berhasil mencapai gelar Ghazi sebagai gelar tertinggi kemiliteran. Sikapnya yang pandai bermanis muka menjadikan dia seorang kepercayaan Sultan sehingga banyak kebijakan militernya yang justru menghancurkan eksistensi tentara Turki Ustmani.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua, setelah berhasil menjadi orang penting dalam jajaran militer Ustmani maka dia tega untuk menjual negerinya sendiri kepada penjajah Eropa. Salah satu wilayah penting Daulah Islam waktu itu adalah Palestina yang telah dia berikan kepada Lord Allenby sebagai panglima tentara Inggris. Sikapnya yang keji ini membawa pada hancurnya Daulah Khilafah sedikit demi sedikit.  Wilayah Daulah Islam yang begitu luas secara perlahan dia bagikan kepada penjajah tanpa rasa malu dan merasa berdosa. Begitu banyak dokumen yang membeberkan perbuatannya ini tapi banyak pula orang yang tidak mengetahui duduk perkaranya karena dokumen penting yang berhubungan dengannya dilarang untuk dipublikasikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketiga, ketika kondisi Daulah Islam mencapai puncak keterpurukannya maka dia tampil seakan menjadi pahlawan yang siap membela rakyat Turki dari kehancurannya. Isu ‘nasionalisme Turki’ menjadi senjata ampuh dalam rangka menjauhkan umat dari Khilafah dan Kholifah. Melalui partainya al-Ittihad wa at-Taroqi dia sebarkan opini bahwa rakyat Turki harus dapat hidup mandiri dan terlepas dari pengaruh bangsa Arab. Banyak orang yang termakan oleh opininya ini dan mendukung dia untuk memisahkan segala pengaruh budaya Arab dalam kehidupan rakyat Turki. Dengan begitu, timbul kebencian mereka terhadap orang Arab yang selama ini menjadi penguasa mereka. Puncaknya, mereka ingin terpisah dari wilayah Daulah Islam yang notabene mayoritas berbangsa Arab dan Persia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keempat, Kamalisme yang berarti sekulerisme menjadi jargon politik yang dia tanamkan di tengah masyarakat Turki. Ide ini menjauhkan umat dari Islam dengan sejauh-juahnya. Dia mengganti penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari menjadi bahasa Turki bahkan adzan pun diganti dengan bahasa Turki. Pakaian ala Arab pun dilarangnya dan diganti dengan pakaian orang Eropa pada umumnya sehingga tampak dengan jelas kebencian dia terhadap Islam. Dia menginginkan rakyat Turki sama dengan rakyat Eropa karena baginya Eropa adalah pusat kamajuan dunia yang harus ditiru segalanya tanpa terkecuali gaya hidupnya. Hingga kini, sekulerisme sudah merasuki benak rakyat Turki bahkan mereka malu jika menanggalkan identitas sekuler mereka walaupun mayoritas diantara mereka adalah Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buku ini dapat menjadi tambahan informasi yang penting untuk mengetahui kondisi Attaturk yang sebenarnya. Jangan sampai masih ada yang mengkategorikan dia sebagai ‘tokoh Revolusi Islam’ seperti yang ditulis pada buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) untuk Madrasah Aliyah (MA). Saya tidak tahu apa motif dibalik penulisan ini, tetapi yang pasti Kamalisme/sekulerisme dicoba untuk dibenamkan dalam otak generasi Islam saat ini. Wajar jika umat ini senantiasa terpuruk karena umatnya sendiri sudah jauh dari Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jatinangor, 30 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Muhammad Yusuf Ansori&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-9032829599881268835?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/9032829599881268835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=9032829599881268835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9032829599881268835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9032829599881268835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/03/resensi-buku-kamal-attaturk-pengusung.html' title='Resensi Buku   &apos;Kamal Attaturk, Pengusung Sekulerisme dan Penghancur Khilafah Islamiah&apos;'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SdGrfu7XgfI/AAAAAAAAANw/mpGa-ruD09Q/s72-c/attaturk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7512872304994168023</id><published>2009-02-22T05:27:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T05:29:53.924-08:00</updated><title type='text'>OBAMA KIRIM TENTARA ke Afganistan</title><content type='html'>WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Barack Obama Selasa waktu setempat menyetujui penambahan sebanyak 17.000 pasukan ke Afghanistan. Penambahan ini bertujuan menstabilkan situasi keamanan yang dianggap makin memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada kewajiban serius lain bagi seorang presiden selain memutuskan untuk menambah pasukan untuk mencegah kejahatan," ungkap Obama dalam pernyataannya dan dikutip AFP, Rabu (18/2/2009).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang saya lakukan hari ini menunjukkan bahwa situasi di Afghanistan dan Pakistan membutuhkan perhatian penting dan penanganan yang cepat," tambah Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan ini, lanjut Obama, merupakan respons dari pemerintahannya terkait permintaan Komandan Pasukan AS di Afghanistan David McKiernan yang bulan lalu meminta tambahan hingga 30.000 pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi permintaan mendesak dan penting, Obama telah menyetujui permintaan Menteri Pertahanan Robert Gates untuk mengirim Marine Expeditionary Brigade pada musim semi tahun ini. Setelah itu disusul pengiriman Army Stryker Brigade dan pasukan pendukung pada musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung Putih menyatakan 17.000 pasukan itu dikirim untuk menjaga stabilitas keamanan menjelang pemilihan umum Afghanistan yang akan berlangsung pada 20 Agustus mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sudah ada 38.000 pasukan AS di negara yang sekira 60 persen wilayahnya dikuasai Taliban itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7512872304994168023?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7512872304994168023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7512872304994168023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7512872304994168023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7512872304994168023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/02/obama-kirim-tentara-ke-afganistan.html' title='OBAMA KIRIM TENTARA ke Afganistan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-8821860596652412765</id><published>2009-02-18T06:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T05:38:05.983-08:00</updated><title type='text'>Ketika Kita Menyambut Pemilu, Kekayaan Negeri Ini Diobral Murah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SZwcIZXwMUI/AAAAAAAAANg/Zq3I_ou-wj4/s1600-h/gas+senoro.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 115px; height: 91px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SZwcIZXwMUI/AAAAAAAAANg/Zq3I_ou-wj4/s400/gas+senoro.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304145391710646594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Gegap gempita Pemilihan Umum sudah terasa beberapa saat lalu hingga hari ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hampir setiap pemberitaan media massa didominasi oleh isu Pesta Demokrasi Rakyat Indonesia. Masyarakat seakan lupa sejenak tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini. Angka kemiskinan yang terus naik, jumlah pengangguran yang semakin tinggi serta banyaknya oknum negeri ini yang ‘rela’menjual kekayaan alam negerinya dengan harga murah seakan luput dari pemberitaan media. Mungkin media enggan untuk menyampaikan isu ini karena berita seperti ini sudah tidak laku lagi di mata masyarakat. Mereka lebih suka menonton sinetron untuk melupakan segala kepenatan yang dialami di setiap detik waktu hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lagi, negara mengalami kerugian sekitar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rp. 20 triliun akibat ‘ketegaan’ oknum pengelola negeri ini. Kali ini ladang Gas Senoro, Sulawesi Tengah dijual oleh Pertamina dengan harga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;US$ 2,8 per mmbtu (&lt;i style=""&gt;milion metric british thermal unit&lt;/i&gt;). Padahal idealnya gas ini dijual dengan harga US$6 per mmbtu pada harga minyak US$ 44 per barel. &lt;i style=""&gt;(Media Indonesia, 16 Februari 2009). &lt;/i&gt;Tidak tahu kenapa, kok tega-teganya orang Pertamina menjual gas dengan harga murah ke&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;China, Jepang dan Korea Selatan selama 15 tahun. Saya pikir, adanya pergantian direksi di Pertamina hanya bikin kisruh saja sedangkan yang memiliki peran sesungguhnya adalah para pengusaha asing. Mereka senantiasa menginterpensi negeri ini dalam bidang energi dan pertambangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ya, itulah konsekuensi dari digunakannya sistem ekonomi liberal dengan ideologi Kapitalisme sebagai acuan pergerakannya. Ideologi ini selalu menguntungkan pihak para Kapitalis sehingga mereka menggunakan berbagai cara untuk menguasai negeri yang memiliki cadangan energi yang besar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aneh, sering kita melihat antrian masyarakat untuk memperoleh bahan bakar gas atau berhentinya pabrik pupuk untuk berproduksi karena tidak adanya gas sebagai bahan baku tetapi gas yang kita miliki dijual keluar negeri dengan harga yang murah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Adanya interpensi pihak asing sudah menjadi hal yang ‘lumrah’ ketika kita menyerahkan pengelolaan kekayaan negeri kepada para penguasa sekuler. Ketika Pemilu, rakyat memlilih mereka untuk menjadi wakilnya di parlemen. &lt;span class="fullpost"&gt;Para wakil rakyat ini adalah utusan para pengusaha karena bagaimanapun mereka dibiayai oleh perusahaan ketika berkampanye. Dengan begitu, ketika mereka duduk di kursi panas mereka pun rela melakukan apa saja yang sesuai dengan pesanan para penyokong dana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ketika kita tahu kelakukan mereka seperti itu, apakah kita akan memilih mereka lagi untuk mengelola negeri ini? Saya pikir, siapa pun yang kita pilih ketika sistem demokrasi yang masih dipakai maka akan senantiasa terjadi kekacauan pengeloaan negara karena setiap jengkal tanah di dunia ini sudah dimonitor oleh para Kapitalis. Kita jangan terpedaya oleh para kandidat pemimpin yang berjanji akan mensejahterakan rakyat atau ‘anti korupsi’ padahal sebenarnya mereka mengalihkan ‘solusi sesungguhnya’ negeri ini menjadi ‘solusi parsial’. Negeri ini tidak hanya butuh pemimpin yang bersih, jujur dan adil tetapi penguasa yang menjalankan Islam sebagai syariatnya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-8821860596652412765?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/8821860596652412765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=8821860596652412765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8821860596652412765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8821860596652412765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/02/ketika-kita-menyambut-pemilu-kekayaan.html' title='Ketika Kita Menyambut Pemilu, Kekayaan Negeri Ini Diobral Murah'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SZwcIZXwMUI/AAAAAAAAANg/Zq3I_ou-wj4/s72-c/gas+senoro.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-638769112927558541</id><published>2009-02-12T06:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T06:48:13.773-08:00</updated><title type='text'>Sekulerisme = Pemurtadan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	mso-font-alt:"Palatino Linotype"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle 	{mso-style-link:" Char Char1"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:15.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0in; 	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitleCxSpFirst, li.MsoTitleCxSpFirst, div.MsoTitleCxSpFirst 	{mso-style-link:" Char Char1"; 	mso-style-next:Normal; 	mso-style-type:export-only; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0in; 	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitleCxSpMiddle, li.MsoTitleCxSpMiddle, div.MsoTitleCxSpMiddle 	{mso-style-link:" Char Char1"; 	mso-style-next:Normal; 	mso-style-type:export-only; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0in; 	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitleCxSpLast, li.MsoTitleCxSpLast, div.MsoTitleCxSpLast 	{mso-style-link:" Char Char1"; 	mso-style-next:Normal; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:15.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0in; 	mso-padding-alt:0in 0in 4.0pt 0in; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle 	{mso-style-link:" Char Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#4F81BD; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} span.CharChar1 	{mso-style-name:" Char Char1"; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Title; 	mso-ansi-font-size:26.0pt; 	mso-bidi-font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA; 	mso-no-proof:yes;} span.CharChar 	{mso-style-name:" Char Char"; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Subtitle; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	color:#4F81BD; 	letter-spacing:.75pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA; 	font-style:italic; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:595.35pt 841.95pt; 	margin:28.35pt 28.35pt 28.35pt 28.35pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;    &lt;p style="text-align: left;" class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengamati Maraknya Pemurtadan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 28.35pt 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SZQ16o5bwtI/AAAAAAAAANY/RhF7RNBHgZU/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 87px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SZQ16o5bwtI/AAAAAAAAANY/RhF7RNBHgZU/s400/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301921942848914130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;“Misi utama &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai orang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kristen….Tujuan kalian &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;adalah mempersiapkan generasi yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehendak kaum penjajah, generasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;malas dan hanya mengejar hawa nafsu.” &lt;b style=""&gt;(Samuel Zweimer dalam Konferensi Misionaris di al-Quds, 1935, &lt;a href="http://www.mediaumat.com/"&gt;Media Umat edisi 6/ 6-19 Februari 2009&lt;/a&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Upaya pemurtadan umat Islam sudah sejak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada ketika Daulah Islam masih tegak hingga saat ini (Daulah &lt;i style=""&gt;Islam, An-Nabhani 2007&lt;/i&gt;). Upaya ini tidak main-main, orang-orang kafir senantiasa memeras otak&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt; untuk menemukan cara bagaimana supaya umat ini jauh dari Islam dan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;bahkan keluar dari agama Islam (murtad). Sudah begitu banyak fakta membuktikan ternyata aqidah seorang Muslim dapat ditukar dengan sekardus mie instant!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Terkadang kita merasa marah ketika hal ini terjadi, namun cukupkah seperti itu? Seharusnya kita marah pada diri kita sendiri karena kita tidak bisa menjaga aqidah saudara-saudara kita. Kita lebih disibukkan oleh urusan duniawi dan perebutan kekuasaan dimana kekuasaan itu hanya membuat kita jauh dari rahmat Alloh SWT. Kita baru menyadari bahwa betapa lemahnya aqidah umat ini ketika mereka berbondong-bondong keluar dari agama Alloh. Saudara, teman bahkan keluarga kita sendiri yang menjadi korban pemurtadan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Sebenarnya, seberapa pun hebatnya orang kafir mempengaruhi umat Islam tidak akan terpengaruh jika aqidah yang dimiliki setiap individu begitu kuat. Aqidah yang kuat ini lahir dari proses berfikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Aqidah yang lahir bukan berasal dari perasaan yang dapat berubah setiap saat. Jangan aneh ketika banyak orang murtad karena merasa tidak nyaman dengan Islam yang dianutnya. Memang, Islam ini bukan tempat untuk mencari kenyamanan tetapi tempat untuk mendapatkan rahmat Alloh SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Namun bagaimanapun permurtadan ini bukanlah problem utama umat Islam. Hal yang menjadi problem utama umat Islam adalah tidak diterapkan syariat Islam dalam kehidupan dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Khilafahlah yang akan senantiasa menjaga aqidah umat yakni dengan menjauhkan umat dari pemikiran kufur seperti sekulerisme dan demokrasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Faham inilah justru yang membuat aqidah umat ini goyah dan berpaling dari kebenaran Islam. Ketika orang menganggap Islam adalah agama ritual belaka maka mereka pun beranggapan bahwa Islam bisa disejajarkan dengan agama yang lain. Justru, hal inilah yang lebih berbahaya dibandingkan dengan permurtadan karena kondisi umat Islam sangat mudah digoyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Ada banyak hal yang bisa kita lakukan ketika pemurtadan ini sudah terlanjur terjadi, diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Dakwahkan Islam dengan pendekatan ideologis (&lt;i style=""&gt;fikriyah&lt;/i&gt;) bukan dengan pendekatan perasaan (s&lt;i style=""&gt;u’uriyah&lt;/i&gt;) sehingga orang faham mengapa dia harus memilih Islam sebagai jalan hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, Perkuat barisan umat Islam untuk memiliki cita-cita yang sama yakni tegaknya Islam dibawah naungan Daulah Khilafah karena Khilafah-lah yang akan mengurus seluruh masalah umat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, perbanyaklah kegiatan ke-Islaman yang akan memperkuat pemahaman kita tentang Islam, jangan terlalu banyak acara bazar, pameran, gema nasyid atau training ini-itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, jaga diri kita dari berbagai bentuk maksiat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Jatinangor, 12 Februari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Muhammad Yusuf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ansori &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;Mahasiswa Fapet Unpad Jatinangor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-638769112927558541?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/638769112927558541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=638769112927558541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/638769112927558541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/638769112927558541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/02/sekulerisme-pemurtadan.html' title='Sekulerisme = Pemurtadan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SZQ16o5bwtI/AAAAAAAAANY/RhF7RNBHgZU/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-5744594637727572602</id><published>2009-02-07T14:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T14:43:10.563-08:00</updated><title type='text'>Suarakan Islam dengan Terbuka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SY4OArAeKNI/AAAAAAAAANQ/QqcFIOsZnLg/s1600-h/kartun-partai-lokal-small.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 277px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SY4OArAeKNI/AAAAAAAAANQ/QqcFIOsZnLg/s320/kartun-partai-lokal-small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300189216169142482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-alt:"Century Gothic"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	mso-font-alt:"Palatino Linotype"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle 	{mso-style-link:" Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:15.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0cm; 	mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitleCxSpFirst, li.MsoTitleCxSpFirst, div.MsoTitleCxSpFirst 	{mso-style-link:" Char"; 	mso-style-next:Normal; 	mso-style-type:export-only; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0cm; 	mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitleCxSpMiddle, li.MsoTitleCxSpMiddle, div.MsoTitleCxSpMiddle 	{mso-style-link:" Char"; 	mso-style-next:Normal; 	mso-style-type:export-only; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0cm; 	mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoTitleCxSpLast, li.MsoTitleCxSpLast, div.MsoTitleCxSpLast 	{mso-style-link:" Char"; 	mso-style-next:Normal; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:15.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD 1.0pt; 	padding:0cm; 	mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm; 	font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoSubtitle, li.MsoSubtitle, div.MsoSubtitle 	{mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:3.0pt; 	margin-left:0cm; 	text-align:center; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} span.Char 	{mso-style-name:" Char"; 	mso-style-link:Title; 	mso-ansi-font-size:26.0pt; 	mso-bidi-font-size:26.0pt; 	font-family:Cambria; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	color:#17365D; 	letter-spacing:.25pt; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA; 	mso-no-proof:yes;} span.gen 	{mso-style-name:gen;} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:2.0cm 2.0cm 2.0cm 2.0cm; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoSubtitle"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(148, 54, 52);" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Menyimak Maraknya Partai ‘Oplosisi’ antara Islam dan Sekuler&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ketika umat ini membutuhkan seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemimpin maka begitu banyak orang yang menawarkan diri untuk menjadi pemimpin. Segala janji yang telah diumbar ternyata sulit mereka realisasikan karena janji-janjinya masih ‘standar-standar’ saja. Perubahan yang mereka janjikan hanyalah perubahan parsial bukan peruabahan fundamental untuk memperbaiki nasib negeri ini. Mereka berkilah bahwa perubahan itu harus bertahap, namun kenyatannya tahapan perubahan itu tak kunjung datang malah semakin memalingkan umat ini dari Pencipta-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Realitas ini terlihat ketika banyak partai-partai, baik partai berbasis masa Islam maupun sekuler, mengkampanyekan agenda kerja mereka bukan mengkampanyekan &lt;b style=""&gt;inti dari sebuah perubahan&lt;/b&gt; (padahal mereka tahu). Hingga saat ini tidak ditemukan partai yang menawarkan konsep sistem ekonomi alternatif yang menjadi pemicu krisi multidimensi negeri ini. Mereka lebih sibuk dengan agenda ‘berantas korupsi’ atau ‘harga sembako murah’ padahal hal tersebut sulit direalisasikan karena saking rusaknya ideologi Kapitalisme yang dianut umat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Agenda-agenda kosong ini ternyata disampaikan juga oleh partai berbasis masa Islam. Ya, saat ini tidak ada partai Islam karena mereka tidak menyuarakan Islam dengan terbuka. Apakah mereka takut dicap teoris, oposisi atau pengkhianat bangsa? Alasannya sih, berpolitik itu harus cerdas, tapi apakah mereka lebih cerdas dibandingkan Rosululloh yang menyuarakan Islam dengan terbuka. Tegas, jelas dan menantang sistem kufur yang ada….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Fakta membuktikan bahwa saat ini umat semakin kebingungan karena tidak adanya pilihan yang jelas. Mau milih partai berbasis Islam atau sekuler buat jadi panutan ternyata sama saja karena isu yang diangkatnya pun sama seperti ‘partai kasing sayang’, ‘bersama kita bisa’ dll.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalao mau_dan seharusnya_ partai berbasis massa Islam ini menyuarakan syariat Islam sebagai agenda kampanye mereka sehingga pemilih pun bisa memilih dengan jelas bukan masang iklan dengan menampakan wanita yang tidak pake jilbab. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Wajar kalau partai berbasis Islam kalah terus…….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tahu nggak kenapa HAMAS di Palestina menang pada 2003 lalu? Trus, Ikwanul Muslimin juga dipercaya muslim di Mesir untuk jadi penguasa? Dan juga FIS di Aljazair menang mutlak pada pemilu mereka? Ya karena mereka bertindak menjadi oposisi yang jelas, ni &lt;i style=""&gt;saya Islam dan yang itu kafir, silakan mau milih mana?&lt;/i&gt; Mungkin seperti itulah ungkapan mereka kepada umat. Jika partai berbasis Islam ini mau seperti itu ya silakan tiru, jangan cuma logonya aja di tempel di baju-baju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Jadi, agendakan visi dan misi partai denga jelas dan tebuka kepada umat, kalau mau menjadikan negeri ini Daulah Islam ya sampaikan jangan ditutup-tutupi. Justru kondisi ini semakin mempersulit tegaknya syari’ah Islam karena masih berputar-putar di area demokrasi sebagai sarang kemaksiatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jika nanti ada reaksi keras dari penguasa, ya itu resiko dalam rangka menyuarakan kebenaran. Tetapi, ketika ada dukungan dari umat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ya Insya Alloh akan dimudahkan. Percaya nggak? Kalo kita menyuarakan Islam dengan terbuka maka para tentara dan polisi pun akan membantu kita karena kebanyakan mereka adalah muslim.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aqidah mereka menuntutnya untuk membela Islam karena mereka juga percaya akan adanya syurga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Silakan buka kembali syiroh Rosululloh, beliau pun menyampaikan Islam dengan terbuka. Dengan begitu, akan tercipta opini umum di tengah umat bahwa ada dua ideologi yang sedang ‘bertabrakan’ yakni Islam di tengah kekufuran. Buktinya, banyak orang yang tertarik bahkan Salman al-Farisi jauh-jauh datang dari Persia untuk masuk Islam. Orang juga cerdas untuk memilih Bung……kita jangan takabur dengan mengatakan bahwa harus ada konsep yang cerdas dalam menyuarakan Islam! Saya pikir, dalam dakwah ini wajib mengikuti apa yang telah dicontohkan Rosulululloh bukan dengan mengedepankan otak kita…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;So, jangan ditutup-tutupi apa yang seharusnya disampaikan dan jangan disampaikan apa yang tidak boleh disampaikan. Jika kita harus mengatakan bahwa demokrasi itu haram ya katakan, jika kita harus mengatakan bahwa syari’ah Islam itu wajib ya katakan, jika khilafah itu cita-cita kita ya katakan……biarlah umat yang memilih. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jangan sampai harta dan tenaga yang kita gunakan tidak berarti apa-apa di hadapan Alloh karena kita masih menjadikan demokrasi sebagai jalan perubahan ini……..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 1cm 10pt 35.45pt; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;‘&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; jelas &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kemudian banyak diantara mereka sesudah itu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;’ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. Al-Maidah: 32)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 1cm 10pt 35.45pt; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;‘&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-teranga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;n.’&lt;b&gt;&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(QS. Nuh: 8)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-5744594637727572602?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/5744594637727572602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=5744594637727572602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5744594637727572602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5744594637727572602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/02/suarakan-islam-dengan-terbuka.html' title='Suarakan Islam dengan Terbuka'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SY4OArAeKNI/AAAAAAAAANQ/QqcFIOsZnLg/s72-c/kartun-partai-lokal-small.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1924915811843385675</id><published>2009-02-06T07:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T07:23:36.823-08:00</updated><title type='text'>Pemilu dan Nasib Rakyat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SYxVsAHWkhI/AAAAAAAAAM4/8pa7kyjQ-F0/s1600-h/Pengangguran+4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299705075941675538" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 124px; CURSOR: hand; HEIGHT: 91px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SYxVsAHWkhI/AAAAAAAAAM4/8pa7kyjQ-F0/s320/Pengangguran+4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemilu Tidak Menjadi Solusi atas Segala Krisis yang Terjadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Memasuki tahun 2009, rakyat Indonesia dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Realitas politik yang terjadi tidak dapat menjadi obat penawar bagi kemelut bangsa ini. Kondisi sosial, politik dan ekonomi yang belum kunjung baik membuat rakyat menggantungkan harapan pada elit politik yang senantiasa hadir sebagai ‘pahlawan kesiangan’ dengan janji-janji kosong yang terkadang tidak masuk diakal. Saya pikir, wajar jika Alloh SWT tidak kunjung memberikan pertolongannya pada kita walaupun kita berdoa siang-malam jikalau solusi yang kita gunakan bukan solusi dari Alloh SWT. Masyarakat cenderung berharap pada manusia sebagai makhluq Alloh sehingga lambat-laun menjauhkannya dari Alloh SWT.&lt;br /&gt;Ketika masyarakat memiliki kebingungan dengan krisis yang terjadi maka sebagian diantara mereka menjadikan momen Pemilu (Pemilihan Umum) atau Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) sebagai ajang ‘coba-coba’. Masyarakat berharap dengan pergantian kepemimpinan akan terbentuk suasana masyarakat yang lebih baik karena adanya pergantian orang. Padahal tidak menjadi jaminan ketika adanya pergantian pemimpin akan tercipta kondisi yang berbeda secara signifikan karena pada dasarnya tidak terjadi pergantian sistem kehidupan. Perputaran waktu menunjukan kepada kita bahwa krisis yang terjadi akan berlarut-larut ketika setiap individu dalam umat ini masih mengharapkan pertolongan dari sosok yang selama ini dielu-elukan. Bangsa Indonesia bisa bercermin pada era Reformasi ’98 yang menelan banyak korban, sudah beberapa kali terjadi pergantian kepemimpinan (baik nasional mapun daerah) namun hal itu tidak menjadi jaminan akan adanya perubahan bagi nasib rakyat.&lt;br /&gt;Ketika seringnya Pemilu atau Pilkada justru semakin banyak menimbulkan efek negatif bagi realitas sosial politik di sekitarnya. Adanya sosok yang dijagokan dalam Pemilu dan Pilkada maka akan ada dua atau lebih komunitas pendukung yang saling jotos karena adanya perbedaan kepentingan. Pilkada Maluku Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara dan banyak lagi contoh kongkrit dimana pemilu menelan korban yakni kesemrawutan kondisi sosial. Ketika terjadi konflik di tengah masyarakat maka berpengaruh pada dinamika sosial yang lain seperti banyak orang yang enggan berjualan karena takut toko mereka jadi bulan-bulanan massa. Begitu pula Pemerintah lebih sibuk mengurusi masalah perebutan keuasaan dalam Pemilu atau Pilkada ketimbang mengkonsentrasikan diri memperbaiki krisis ekonomi yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;Krisis ekonomi sebagai pemicu utama segala konflik yang terjadi seperti sengaja dibiarkan barlarut-larut padahal sebenarnya rakyat banyak berharap akan ada perbaikan kondisi ekonomi ketika terjadi pergantian kekuasaan. Namun, pergantian kekuasaan hanyalah memicu kesengsaraan selanjutnya karena ternyata devisa negara yang ada habis terpakai untuk ‘pesta demokrasi’ (dari namanya saja jelas tindakan hura-hura). Sekitar 1,6 triliun rupiah habis terpakai untuk mendanai pilkada di berbagai daerah padahal lebih baik dipakai untuk mendanai sektor pendidikan yang semakin buruk (Al-Wa’ie, Januari 2009). Pemerintah sering berkilah dalam masalah defisitnya devisa negara tetapi ternyata uang rakyat yang ada tidak digunakan untuk hal yang lebih prioritas tetapi dialihkan untuk sesuatu yang sepertinya lebih penting padahal tidak begitu penting. Pemilu atau pilkada hanya menjadi ajang untuk unjuk gigi akan kehebatan masing-masing calon penguasa. Jadi, kalau krisis ini bisa selesai tanpa harus ada Pemilu atau Pilkada, kenapa harus ada Pemilu atau Pilkada?&lt;br /&gt;Pada awalnya, kaum Reformis menganggap Pemilu sebagai pintu gerbang menuju perbaikan nasib bangsa _terutama krisis ekonomi_ tetapi ternyata perkiraan tersebut meleset karena krisis semakin menjadi-jadi setelah adanya pergantian kekuasaan bahkan hingga ke tingkat daerah. Mereka justru memalingkan masalah ekonomi _sebagai masalah utama_ menjadi masalah krisis kepemimpinan. Opini ini membawa masyarakat menjadi lupa akan problem mereka dan cenderung menuruti kemauan kaum Reformis. Pada faktanya, ketika terjadi pergantian kekuasaan, penguasa yang baru justru memperburuk masalah ekonomi dengan menjual aset bangsa kepada Kapitalis asing dan menyerahkan nasib bangsa ini kepada IMF (Lembaga Moneter Internasional) dan Bank Dunia. Hasilnya, bangsa ini telah masuk ke dalam ‘perangkap laba-laba’ yang lengket dan sulit untuk keluar kecuali dengan menghancurkan jaring tersebut! Selain itu, setelah pilkada digelar sebagai imbas dari otonomi daerah ternyata Pemerintah Daerah ada yang tidak sejalan dengan Pemerintah Pusat. Misalnya, ada Pemerintah yang menolak memberikan dana kompensasi kenaikan harga BBM dari pemerintah Pusat dengan alasan memanjakan rakyat. Padahal itu terjadi karena Pemerintah Daerah berbeda partai politik dengan Pemerintah Pusat sehingga berbeda pula kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemilu terbukti tidak bisa menjadi solusi atas segala krisis yang ada karena menjadikan demokrasi sebagai acuan sistem politiknya&lt;/strong&gt;. Demokrasi menjadikan manusia berani membuat aturan sendiri diatas aturan Alloh SWT yang agung. Hanya satu hal yang akan menjadi solusi yakni marilah kita menjalankan segala aturan Islam sebagai bentuk dari pertolongan Alloh atas do’a-do’a yang senantiasa kita panjatkan. Umat Islam jangan menjadi orang yang ‘rajin berdoa’ untuk meminta datangnya keajaiban tetapi tidak mau menjalankan konsep kehidupan Islam sebagai jawaban atas doa’-doa’ itu. Umat ini harus yakin bahwa Alloh sudah mengabulkan do’a mereka yakni dengan banyaknya konsep-konsep Islami yang ditawarkan para da’i. Umat ini harus malu ketika masih bergantung pada manusia sebagai penuntun mereka untuk keluar dari krisis ini sehingga agama ini hanya menjadi komoditas politik saja. Wahai kaum Muslimin, Alloh masih ada! Maka janganlah kita berputus asa dari pertolongan Alloh! Perotolongannya telah datang yakni ketika ketika mau membuka hati dan pikiran kita untuk ridlo diatur oleh aturan-Nya!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan solat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Alloh). Dan barang siapa menjadikan Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Alloh itulah yang menang. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang –orang kafir. Dan bertaqwalah kepada alloh jika kamu orang-orang beriman.” (Al-Maidah; 55-57)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Al-Maidah; 51)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1924915811843385675?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1924915811843385675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1924915811843385675' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1924915811843385675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1924915811843385675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/02/pemilu-dan-nasib-rakyat.html' title='Pemilu dan Nasib Rakyat'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SYxVsAHWkhI/AAAAAAAAAM4/8pa7kyjQ-F0/s72-c/Pengangguran+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-6839400544168900190</id><published>2009-01-19T14:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T07:25:51.892-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Kita Harus Meninggalkan Demokrasi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SXT835fX1iI/AAAAAAAAAMo/jbLAoEiGqMM/s1600-h/Stempel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293133499322586658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 414px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 412px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SXT835fX1iI/AAAAAAAAAMo/jbLAoEiGqMM/s400/Stempel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Alloh, dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum Alloh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah ayat 49)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Demokrasi Sistem Kufur&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;a href="http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/12/kemaksiatan-ideologis.html"&gt;Demokrasi&lt;/a&gt; adalah suatu konsep tentang realita kehidupan dimana manusia berkehendak untuk membuat peraturan hidupnya (Demos: rakyat; kratos: pemerintahan). Padahal, aturan hidup itu sudah dibuat oleh Alloh SWT dengan sangat sempurna. Alloh SWT sebagai pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini sudah menyertakan tata cara “penggunaan” alam semesta sebagaimana sebuah pabrik membuat aturan pakai tentang suatu produk yang dibuatnya. Jika Alloh sudah menciptakan sebuah aturan untuk hidup ini maka mengapa kita sebagai manusia berani untuk membuat aturan lain selain aturan Alloh SWT yang Maha Mengetahui kondisi alam semesta?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perintah untuk memutuskan perkara kehidupan menurut aturan Alloh adalah wajib hukumnya, maka apakah kita akan menginginkan aturan manusia sebagai pengatur kehidupan ini. Sebagai umat Islam, kita jangan sampai tertipu oleh tipu daya orang-orang kafir bahwa demokrasi merupakan sistem politik paling baik yang bisa mengakomodir kepentingan seluruh umat manusia. Anggapan sesat ini membuat kaum Muslimin berpaling dari aturan Alloh SWT dan masuk ke dalam kubangan maksiat secara berjamaah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Demokrasi Mengundang Kesengsaraan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Manusia adalah makhluk yang lemah dimana kita tidak dapat melihat realita secara menyeluruh. Setiap kepala dari manusia akan berbeda tatkala mengeluarkan pendapat. Maka dari itu, dalam demokrasi cenderung terjadi konflik yang membawa manusia ke dalam kehancuran. Teori-teori tentang sistem pemerintahan demokrasi muncul dari para filosof Yunani ketika mereka menaggap bahwa kerajaan yang bersifat absolut (mutlak) tidak dapat mengakomodir kepentingan rakyatnya. Padahal demokrasi melahirkan bentuk “kerajaan” baru yakni ‘kekuasaan parlemen’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Parlemen sebagai bentuk sistem Pemerintahan demokrasi merupakan wakil dari berbagai golongan yang mempunyai kepentingan. Umat ini telah ditipu dengan anggapan bahwa parlemen adalah wakil rakyat yang akan menjadi corong aspirasi mereka. Namun, pada kenyatannya demokrasi adalah bentuk legitimasi dari kepentingan para Kapitalis untuk melancarkan usaha mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sistem demokrasi bisa lahir dari ideologi Kapitalisme atau Sosialisme karena keduanya mengabaikan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai sumber untuk menggali hukum. Saat ini demokrasi identik dengan Kapitalisme sebagai ideologi yang menguasai dunia dimana roda pemerintahan yang ada di berbagai penjuru dunia harus sesuai dengan keinginan mereka. Atas nama demokrasi, George Walker Bush mengirim tentaranya untuk menyerang Irak dan Afganistan. Dengan demokrasi pula, Hamas dan Fatah di Palestina pecah menjadi dua golongan yang saling menumpahkan darah. Coba kita lihat, bagaimana nasib rakyat di negara-negara tersebut sekarang? Apakah ini yang dimaksud demokrasi oleh Bush? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ketika terjadi krisis multidimensi di Indonesia maka kaum Reformis menyerukan untuk segera memperbaiki sistem pemerintahan supaya lebih demokratis. Pemilu ’99 yang dipercepat hingga hari ini ternyata tidak membawa sebuah perubahan yang berarti. Sudah puluhan kali Pilkada digelar tetapi tidak dapat membawa negeri ini ke dalam kondisi yang lebih baik. Saat ini kita telah ditipu, padahal Alloh telah memperingatkannya dalam al-Quran!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Demokrasi sebagai Tipu Daya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Demokrasi adalah bentuk tipu daya para Kapitalis untuk menguasai negeri-negeri kaum Muslimin karena demokrasi berdiri pada 3 azas. Ketika berekonomi maka Kapitalis yang bermain, ketika berkelakukan maka canderung menggunakan faham liberalisme dan ketika berpolitik cenderung sekuler. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada umumnya kita telah ditipu oleh para Kapitalis bahwa demokrasi menjadi wadah kepentingan rakyat. Anggpan demikian membuat umat ini memahami demokrasi hanya dari sisi prosedural saja tetapi tidak memahaminya lebih mendalam. Ketika setiap beranggapan bahwa demokrasi adalah sistem paling baik maka merka akan mendukung dan memperjuangkannya. Namun perjuangan mereka sia-sia karena ketika wakil mereka di Parlemen menjadi pengkhianat yakni dengan menyerahkan hak-hak rakyat kepada para Kaiptalis pemilik modal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Para Kapitalis ini menyokong dana partai-partai terpilih untuk membuat Undang-undang yang sesuai dengan pesanan mereka. Maka aneh kalau banyak mahasiswa yang menolak Undang-undang yang pro Kapitalis tetapi justru meneriakan ‘demokrasi sebagai solusi’?! Aturan hidup seperti ini yang tidak diridloi Alloh SWT karena semua ini hanyalah bentuk tipu daya orang-orang kafir untuk menguasai tanah kaum Muslimin. Mereka menanam agen-agen mereka di berbagai penjuru dunia sehingga setiap jengkal tanah dibawah kontrol mereka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Demokrasi pun melahirkan faham liberalisme dimana orang bebas untuk berfikir dan berkelakuan. Dalam kehidupan demokratis saat ini, lahirlah konsep hak azasi manusia yang menjauhkan manusia dari peringatan Alloh SWT. Orang tidak bisa melarang wanita telanjang karena itu adalah hak dia untuk seperti itu selama tidak menganggu orang lain. Liberalisme pun membuat kaum Muslimin berani menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan penafsiran semau gue sehingga lahirlah kaum Islam Liberal yang menjadi duri dalam daging umat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kaum Muslimin harus menyadari bahwa sistem pemerintahan yang demokratis bukanlah segala-galanya. Banyak orang memandang bahwa demokrasi lahir dari prinsip musyawarah untuk mufakat padahal itu adalah isapan jempol belaka. Konsep sesat ini telah meracuni umat sejak dia masih sekolah dasar hingga perguruan tinggi sehingga tebentuk pemikiran bahwa tiada sistem pemerintahan yang labih baik selain demokrasi. Umat ini menjadi bingung ketika menghadapi krisis sehingga bertanya. “Kalau demokrasi itu salah lalu dengan apalagi negeri ini akan diatur….?”. Awas, pertanyaan tersebut adalah bentuk dari sikap kita yang sekuler dimana tidak meyakini konsep Islam sebagai solusi. Umat ini sepertinya tidak yakin jika Islam menjadi pemimpin dalam panggung politik bahkan cenderung menjauhkan Islam dari politik. Seharusnya kita mendakwahkan Islam politis karena politik itu adalah mengurus urusan umat yang hukumnya wajib.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Banyak diantara kaum Muslimin ingin menjadikan politik Islam sebagai solusi dari segala krisis yang terjadi namun masih menjadikan demokrasi sebagai isu pergerakan mereka. Anggapan ini menjadikan banyak Partai Isam yang ikut dalam kancah Pemilu. Jika dicermati sebenarnya mereka sudah masuk ke dalam ‘lubang biawak’ yang sulit untuk keluar lagi. Pertama, hal itu merupakan kemaksiatan karena ikut nimbrung membuat hukum kufur. Kedua, umat semakin bingung antara yang haq dan bathil karena sudah biasa apabila parpol Isam masuk kedalam parlemen dengan alasan ‘perubahan secara bertahap’. Ketiga, memperkuat sekulerisme itu sendiri dan menjauhkan umat dari ukhuwah Islamiyyah karena nasionalisme dan fanatisme golongan sudah melekat dalam diri umat ini. (Baca, Nasionalisme mengalahkan Ukhuwah Islamiyyah di muhammadyusufansori.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hanya Islam sebagai Lawan dari Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ketika banyak orang membiaskan antara demokrasi dan Islam (bahkan adala istilah ‘demokrasi Islam) maka saya menawarkan kepada kaum Muslimin untuk segera meninggalkan cara berfikir demokratis dan merubahnya menjadi cara berfikir Islami. Dengan begitu, kita akan mengembalikan setiap permasalahan yang ada kepada Islam bukan kepada guru, ustadz, murobbi atau orang Islam Liberal. Hanya syariat Islam yang digali dari nash al-Quran dan As-Sunnah yang membuka hati dan pemikiran kita. Apabila setiap orang sudah memiliki cara berfikir Islami maka tidak akan ada lagi yang mendukung orang-orang fasik untuk duduk di parlemen dan mengendalikan kehidupan kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ketika umat ini serempak untuk menjauhi penguasa fasik maka tegaknya kehidupan Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah akan segera terwujud. Kita jangan menjadi orang-orang yang rajin berdoa dan menitikkan air mata tetapi masih setuju dengan sistem demokrasi dan melakoninya. Padahal Alloh sudah mengabulkan doa kita untuk keluar dari krisis tetapi hati dan fikiran kita tertutup dari rahmat Alloh yakni konsep-konsep aturan Islam yang sudah ditawarkan oleh banyak ulama sebagai solusi. Marilah kita isukan di tengah-tengah umat bahwa sekulerisme, kapitalisme, nasionalisme dan demokrasi itu haram!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-6839400544168900190?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/6839400544168900190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=6839400544168900190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6839400544168900190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6839400544168900190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/01/mengapa-kita-harus-meninggalkan.html' title='Mengapa Kita Harus Meninggalkan Demokrasi?'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SXT835fX1iI/AAAAAAAAAMo/jbLAoEiGqMM/s72-c/Stempel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3347946263078926656</id><published>2009-01-14T14:59:00.000-08:00</published><updated>2009-01-14T15:37:05.124-08:00</updated><title type='text'>Renungan Awal Tahun</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: verdana;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SW5wmHdZMAI/AAAAAAAAAMg/Z7BEdwfhXoU/s1600-h/pengangguran.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 94px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SW5wmHdZMAI/AAAAAAAAAMg/Z7BEdwfhXoU/s400/pengangguran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291290412346585090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Islam Politis sebagai Solusi Segala Krisis….&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan, awal tahun 1430 H beriringan dengan awal tahun 2009 M. Sepertinya Alloh SWT sudah merekayasa semua ini untuk memberikan jawaban kepada seluruh umat manusia khususnya umat Islam bahwa sudah seharusnya kita memiliki kehidupan baru. Pada awal tahun ini dunia digoncangkan dengan berbagai kejadian luar biasa sebagai sebuah peringatan.&lt;br /&gt;Krisis global yang melanda sebagian besar belahan dunia menjadi sebuah pelajaran penting bagi kita bahwa dunia memerlukan perubahan. Kondisi ini sebagai sebuah peringatan bagi kita untuk segera melaksanakan hukum-hukum Alloh SWT sebagai solusi dari segala krisis yang ada. Sistem ekonomi kapitalisme tidak bisa menjadi acuan hidup seluruh umat manusia karena kenyataannya banyak orang yang tidak berdosa terkena imbas dari krisis ini.&lt;br /&gt;Di depan mata kita, atau kita sendiri, menjadi korban krisis yang terjadi. Sekitar 1,6 juta orang &lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Indonesia siap menghadapi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tahun ini. Perkiraan ini diperkuat dengan merosotnya dunia usaha sehingga kinerja ekspor komoditas pun turun 30 % (Media Indonesia, 2/1/2009). Kondisi ini sangat berpengaruh pada beban ekonomi masyarakat yang semakin sulit. Apalagi saat ini sulit sekali mencari  alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup walaupun Pemerintah RI sudah menawarkan berbagai kredit usaha yang sarat dengan riba.&lt;br /&gt;Merebaknya PHK di berbagai penjuru dunia mengundang banyak efek negatif sebagai imbas dari krisis ekonomi global. Tekanan ekonomi memaksa seseorang untuk berbuat apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meningkatnya tindakan kriminal di tengah masyarakat menjadi  ekses negatif kondisi sosial masyarakat yang tidak bisa dicegah. Banyak orang yang sudah kehilangan akal sehat untuk mencuri, menjual diri bahkan bunuh diri. Jangan merasa aneh bila dalam waktu satu tahun kedepan akan semakin banyak kriminalitas di lingkungan tempat tinggal kita.&lt;br /&gt;Ketika banyak orang sedang dilanda keresahan, tiba-tiba akan banyak muncul ‘Pahlawan Kesiangan’ menawarkan janji-janji kosong tentang perbaikan nasib bangsa. Mereka tidak menghiraukan apa sebenarnya yang mereka katakan, walaupun hati kecil mereka tahu bahwa mereka sedang ‘menantang Alloh’ untuk menyelesaikan masalah yang ada. Isu-isu yang mereka angkat adalah isu basi dimana secara hitung-hitungan sulit untuk mereka tepati. Namun, kebodohan umat ini telah mereka manfaatkan demi secuil kekuasaan dibandingkan kuasa Alloh SWT yang meliputi seluruh alam ini.&lt;br /&gt;Janji-janji kosong penguasa ini menjadikan banyak orang bersikap apatis terhadap kondisi di sekitarnya. Mereka sudah tidak peduli nasib saudaranya sesama Muslim. Apatisme ini menjadi ‘racun’ dimana umat alergi untuk berpolitik. Mereka beranggapan bahwa politik adalah kotor, bohong, keji dan berbagai anggapan lainnya.  Padahal politik adalah mengurus urusan umat yang sifatnya wajib bagi setiap Muslim. Apabila umat sudah bersikap apatis, maka mereka  pun tidak percaya juga terhadap solusi Islam yang ditawarkan oleh berbagai kalangan aktifis Islam. Mereka sibuk dengan doa’-doa’ mereka kepada Alloh sehingga mereka menjauhkan diri dari aktifitas politik. Bagi mereka, Islam tidak boleh dikaitkan dengan masalah politik sehingga beranggapan Islam hanya mengurus urusan ibadah ritual saja. Padahal tidak demikian!&lt;br /&gt;Sikap apatisme ini menjalar ketika pada pergantian tahun ini saudara-saudara kita di Palestina dibombardir oleh tentara Israel. Banyak diantara kita beranggapan bahwa masalah Palestina bukanlah masalah kita sebagai umat Islam di Indonesia. Anggapan ini lahir karena adanya nasionalisme diantara kita yang sudah memisahkan rasa persatuan kita sebagai umat Islam di seluruh dunia. Nasionalisme telah memisahkan setiap umat Islam di penjuru dunia dan tersibukan dengan urusan negaranya masing-masing. Bahkan, mereka menyerahkan urusan Palestina kepada PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan memalingkan solusi syar’i yakni tegaknya Daulah Islam untuk mengakomodir umat untuk berjihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Siapa yang Salah?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Pemerintah dalam krisis yang sedang dihadapi. Justru, kita harus menyalahkan diri sendiri yang ‘rela’ untuk diatur oleh ideologi kapitalisme atas dasar aqidah sekulerisme. Kita sendiri yang memilih mereka untuk menjadi pemimpin dalam mengurusi umat ini. Kita sendiri yang memilih mereka dalam Pemilu sebelumnya atau akan memilih mereka lagi pada 9 April nanti?&lt;br /&gt;Sebagian besar diantara kita menjadi orang-orang yang suka menuduh orang lain ketika dihadapkan pada situasi yang sulit. Padahal situasi ini kita sendiri yang menciptakannya. Banyak diantara kita justru semakin jauh dari Alloh SWT yang telah memperingatkan bahwa semua krisis ini pasti akan terjadi ketika umat ini tidak menjadikan Islam sebagai aturan hidupnya.&lt;br /&gt;Banyak diantara kita yang sangat mudah diadu domba karena menjadikan manusia sebagai tumpuan terhadap masalah yang sedang terjadi. Bercermin pada era Reformasi 98, banyak harapan didepan mata tetapi ternyata itu hanyalah angan-angan kosong karena kita sendiri masih percaya kepada manusia sebagai ‘Dewa Penyelamat’. Kalau begitu, siapa lagi yang akan kita percayai selain Alloh SWT?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Caranya?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantara kita sering bertanya, bagaimana caranya untuk keluar dari segala krisis ini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, kita sendiri harus memperkuat aqidah dengan senantiasa mempelajari Islam. Dengan begitu, akan terbentuk cara pendang Islami dalam menyikapi kehidupan. Pengetahuan kita tentang Islam akan senantiasa bertambah sehingga ada ketertarikan kepada Islam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, jauhi sikap hidup sekulerisme dimana kita masih beranggapan bahwa Islam tidak bisa menjadi solusi atas krisis yang ada. Sikap ini menjadikan manusia membedakan antara kehidupan dunia dan akhirat! Kemudian selanjutnya menjauhkan mereka dari Alloh SWT.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, tingkatkan rasa kepedulian kepada sesama saudara kita sehingga akan tergerak untuk bersama-sama keluar dari krisis yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, mari bersama-sama untuk berdakwah di tengah-tengah kita karena dengan dakwah akan tercipta opini yang sama tentang ‘Islam sebagai Solusi’. Semarakan dakwah di mesjid,  rumah, sekolah, kampus, kantor, radio, televisi bahkan di tengah sawah!&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, mari tingkatkan kepedulian politik kita dengan senantiasa mendakwahkan Islam yang bersifat politis.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Insya Alloh, tidak akan ada kebuntuan dalam hidup kita saat ini apabila bersama-sama menuju solusi yang satu. Tidak akan ada lagi yang memilih solusi lain selain solusi Islam. Sering kita dibingungkan dengan Islam yang terlalu luas, padahal solusi itu kita sendiri yang  menjalankannya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3347946263078926656?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3347946263078926656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3347946263078926656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3347946263078926656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3347946263078926656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2009/01/renungan-awal-tahun.html' title='Renungan Awal Tahun'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SW5wmHdZMAI/AAAAAAAAAMg/Z7BEdwfhXoU/s72-c/pengangguran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3647157354340261698</id><published>2008-12-16T20:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T20:52:49.475-08:00</updated><title type='text'>Asumsi yang Keliru tentang Subsidi BBM</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cknight%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml2%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:Unit-UltraExpert; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoSpacing, li.NoSpacing, div.NoSpacing 	{mso-style-name:"No Spacing"; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Setelah didesak oleh berbagai kalangan, akhirnya Pemerintah menurunkan kembali harga premium dari Rp. 5.500 menjadi Rp. 5000 dan solar dari Rp. 5.500 menjadi Rp. 4.800. Penurunan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut mengikuti turunnya harga minyak dunia yang mencapai level terendah setelah mengalami kenaikan hingga $ 135 per barel beberapa waktu lalu. Kebijakan ini disambut baik oleh masyarakat pengguna premium walaupun terbilang telat bila dibandingkan dengan Malaysia yang telah menurunkan harga BBM hingga 7 kali sejak harga minyak dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah penggunaan minyak sebagai sumber energi oleh manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Namun, penurunan harga premium dan solar ini tidak diikuti langsung oleh penurunan minyak tanah. Pemerintah beralasan bahwa premium digunakan oleh orang-orang ‘kaya’ sedangkan minyak tanah digunakan oleh orang-orang ‘miskin’. Asumsi yang keliru ini membuat harga premium dan solar di pasaran tidak jauh berbeda yakni Rp. 200 per liter. Pemerintah berasumsi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa subsidi BBM harus tepat sasaran sehingga mengkonsentrasikan subsidi hanya pada minyak tanah dan solar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Harga premium sekarang ini merupakan harga tanpa subsidi sehingga apabila suatu saat harga minyak dunia kembali turun maka seharusnya harga premium pun kembali turun bahkan lebih murah dari harga solar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Asumsi ini lahir karena ada anggapan bahwa kenaikan harga BBM Mei lalu mengikuti harga minyak dunia. Kalau begitu, kenapa penurunan harga premium tidak diikuti oleh menurunnya harga BBM yang lain?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Pemerintah punya alasan sendiri untuk menjawab pertanyaan ini. &lt;i style=""&gt;Pertama,&lt;/i&gt; APBN yang telah dirancang digunakan untuk 1 tahun hingga tutup buku 31 Desember mendatang sehingga pemerintah mengalami kesulitan untuk merubah anggaran subsidi BBM yang sangat tinggi. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, kurs rupiah terhadap dollar Amerika&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;yang masih tinggi yakni diatas Rp. 10.000 sehingga kondisi ini dapat mempengaruhi anggaran ‘untuk membayar utang luar negeri’ &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; yang sangat tinggi sedangkan Pemerintah tidak memiliki cadangan devisa yang mencukupi. &lt;i style=""&gt;Ketiga,&lt;/i&gt; kondisi ini dijadikan alasan kuat Pemerintah untuk menjalankan program konversi minyak tanah ke gas walaupun masih banyak kendala seperti langkanya gas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di pasaran hingga harganya melambung tinggi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepertinya, akan banyak alasan lain sembari menunggu turunnya harga solar dan minyak tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Begitulah bila Pemerintah salah dalam mengasumsikan subsidi BBM untuk masyarakat. Anggapan bahwa subsidi diberikan kepada ‘orang’-nya menjadi bumerang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk Pemerintah. Rakyat pun akan menuntut janji pemerintah untuk seantiasa mengutamakan rakyat miskin. Seharusnya subsidi diberikan kepada ‘barang’-nya walaupun terkesan Pemerintah ‘memukul rata’ dan tidak berpihak kepada ‘wong cilik’. Namun, asumsi ini ada banyak keuntungan bila dijalankan, seperti: &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Kejadian sedikitnya perbedaan harga solar dan premium tidak akan terjadi karena subsidi adalah milik rakyat tanpa memandang si kaya dan si miskin. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, penyimpangan distribusi akan bisa diminimalisir sehingga tidak akan ada penyelundupan minyak tanah dari daerah (dengan harga murah) ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; (dengan harga tinggi).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, daya beli masyarakat akan lebih baik karena rendahnya harga komoditas di pasaran. Walau bagaimana pun, masih banyak kendaraan pengangkut barang yang menggunakan premium dan solar sehingga berpengaruh pada ongkos kirim dan harga komoditas bersangkutan. &lt;i style=""&gt;Keempat&lt;/i&gt;, Anggaran negara dapat sedikit berhemat karena tidak harus membagikan tabung dan kompor gas kepada masyarakat yang sudah jelas banyak penyimpangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Memang, bila asumsi subsidi ‘barang’ ini dilakukan tidak akan jelas terlihat oleh masyarakat kinerja dari Pemerintah tetapi akan dirasakan langsung karena tidak terjadi lonjakan harga yang ‘menggila’ seperti saat ini. Daya beli masyarakat akan lebih stabil dan pertumbuhan ekonomi sektor riil akan jelas terlihat tidak seperti saat ini yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari sektor non-riil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Pemerintah jangan hanya berniat merebut hati rakyat dalam rangka Pemilu 2009 tetapi harus benar-benar menjalankan kebijakan sesuai dengan perhitungan yang ada. Hal ini terlihat dengan pengumuman yang terkesan terburu-buru sehingga walaupun harga premium turun ternyata masih banyak SPBU yang tidak siap karena mereka masih menjual stock lama dengan harga lama. Saya yakin, sebenarnya pemerintah pun mengerti asumsi ini tetapi sepertinya ada banyak kepentingan yang bermain di negeri ini dan mereka lebih memilih kepentingan ‘lain’ itu daripada kepentingan rakyat banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Penurunan harga premium ini disambut gembira oleh para pengguna kendaraan pribadi namun tidak disambut baik oleh para pengguna kendaraan umum karena harga solar masih tinggi. Ongkos perjalanan masih terbilang tinggi dan kecil kemungkinan akan langsung turun karena harga suku cadang masih tinggi. Apalagi ditambah oleh terbakarnya kilang minyak di Dumai (16/12) dan ini dijadikan alasan kelangkaan premium dan solar menjelang didistribusikannya harga baru. Kalau begitu, meskipun Pemerintah sudah menurunkan harga premium dan solar tetapi tidak akan serentak turun karena masih terjadi kelangkaan seperti awal Desember lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:red;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: right; text-indent: 1cm;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:red;"   &gt;muhammadyusufansori.blogspot.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: right; text-indent: 1cm;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Muhammad Yusuf Ansori&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: right; text-indent: 1cm;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tinggal di Kp. Citamiang Ds. Sukamerang Kersamanah-Garut&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: right; text-indent: 1cm;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: right; text-indent: 1cm;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: right; text-indent: 1cm;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3647157354340261698?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3647157354340261698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3647157354340261698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3647157354340261698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3647157354340261698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/12/asumsi-yang-keliru-tentang-subsidi-bbm.html' title='Asumsi yang Keliru tentang Subsidi BBM'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3382113425518294604</id><published>2008-12-01T15:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T15:24:59.991-08:00</updated><title type='text'>Akhir dari Korporatokrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/STRxW6T1OGI/AAAAAAAAAMY/1eciAxwFJjE/s1600-h/images+(1).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 102px; height: 137px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/STRxW6T1OGI/AAAAAAAAAMY/1eciAxwFJjE/s400/images+(1).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274965701981190242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-indent: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Tahoma; line-height: 72px;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma; mso-no-proof:yes"&gt;Ketika krisis ekonomi global sedang melanda dunia ini maka sebenarnya adalah penantian ajal dari korporatokrasi. Bursa-bursa saham di beberapa negara mengalami keguncangan karena adanya krisis yang melanda Amerika sebagai negara adidaya. Kondisi ini juga ternyata dirasakan oleh para pengusaha&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:   yes"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-size: 11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:yes"&gt; dengan ditandai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 10, 38 % (8/10/2008). Wajar saja kalau orang &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;  line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:yes"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:yes"&gt; kecipratan imbasnya karena pada dasarnya pengusaha yang ada di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:   yes"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-size: 11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:yes"&gt; adalah kepanjangan tangan para pengusaha asing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma; mso-no-proof:yes"&gt;Ya, setiap jengkal dari tanah di dunia ini telah dikuasai oleh para korporat yang selalu menancapkan kukunya yang tajam (John Perkins&lt;i&gt;, Pengakuan Bandit Ekonomi, 2007&lt;/i&gt;). &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Entah disadari ataukah tidak, tidak ada kedaulatan rakyat di dunia ini tapi yang ada hanyalah kedaulatan para pengusaha yang menjadi penguasa. Mereka seperti gurita yang merangkul dunia ini dengan tentakel-tentakelnya yang banyak dan panjang. Keserakahan mereka membuat dunia ini rusak dan tidak teratur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma; mso-no-proof:yes"&gt;Kalaulah mereka masih mempunyai sedikit iman maka sekaranglah saatnya mereka bertobat karena begitu banyak dosa mereka di dunia ini. Asap-asap pabrik milik mereka yang mengotori angkasa menyebabkan pemanasan global sehingga banyak para petani yang tidak bercocok tanam karena sawahnya kering. Sudah terlalu banyak kaum papa yang semakin miskin karena sulit menghidupi dirinya sendiri. Setiap jengkal tanah milik mereka dicuri oleh para korporat yang gila kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma; mso-no-proof:yes"&gt;Dalam benak para korporat hanyalah uang dan kekuasaan sehingga mereka pun rela mengeluarkan uang milyaran dollar hanya untuk membiayai kampanye para agennya yang ditanam di parlemen. Melalui para agennya ini setiap Undang-undang yang dibuat disesuaikan dengan pesanan para korporat. Maka wajar jika setiap kebijakan Pemerintah jarang yang berpihak pada rakyat kecil. Republik ini dibentuk bukan untuk melayani ‘publik’ tetapi dibuat untuk melayani ‘pabrik’. Saya sering bertanya, siapa sesungguhnya yang berkuasa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma; mso-no-proof:yes"&gt;Kehidupan di dunia ini seperti roda yang berputar. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:   yes"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt; line-height:150%;font-family:Tahoma;mso-no-proof:yes"&gt; saatnya ketika para pengusaha super kaya itu berkuasa dan bisa mengendalikan dunia namun ada saatnya ketika mereka harus mengemis kepada rakyatnya hanya untuk mempertahankan eksistensi mereka. Hal ini terjadi ketika Pemerintah Amerika mengocorkan dana untuk menolong para pengusaha yang sebentar lagi mengakhiri riwayatnya (&lt;i&gt;BBC World Service&lt;/i&gt;). Tentu saja bantuan itu adalah uang rakyat Amerika yang dikumpulkan melalui pajak, bea, cukai dan berbagai mekanisme pengumpulan uang. Namun aneh, mengapa harus rakyat Amerika yang meanggung kebangkrutan mereka?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30.0pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;line-height:150%;font-family:Tahoma; mso-no-proof:yes"&gt;Saya yakin ini semua _cepat atau lambat_ adalah akhir dari kisah koporatokrasi. Kebangkrutan yang terjadi adalah buah tangan mereka sendiri yang tidak mempunyai hati nurani ketika mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alam negeri ini. Mereka adalah manusia _bukan Tuhan_ yang tidak bisa memprediksi masa depan hanya dengan melihat angka-angka pertumbuhan ekonomi di layar komputer. Seringkali perkiraan mereka meleset dan akhirnya mereka terperosok kedalam jurang kehancuran. Lihatlah, berbagai krisis di belahan dunia akibat ulah mereka!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt; (pernah dimuat di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Media Indonesia, 11 Nopember 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3382113425518294604?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3382113425518294604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3382113425518294604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3382113425518294604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3382113425518294604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/12/akhir-dari-korporatokrasi.html' title='Akhir dari Korporatokrasi'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/STRxW6T1OGI/AAAAAAAAAMY/1eciAxwFJjE/s72-c/images+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1235249642452110150</id><published>2008-12-01T01:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T14:17:49.535-08:00</updated><title type='text'>Kemaksiatan Ideologis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/STRnq-f5a1I/AAAAAAAAAMI/wXOhHRajtEQ/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 119px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/STRnq-f5a1I/AAAAAAAAAMI/wXOhHRajtEQ/s400/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274955051586644818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Kemaksiatan Ideologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ideologi adalah aqidah aqliyah yang memancarkan peraturan-peraturan kehidupan (An-Nabhani, 2007). Setiap ideologi pasti dianut oleh individu di bumi ini dengan senantiasa mengakar dalam berbagai aspek kehidupannya, dari cara dia makan hingga cara mengatur negara.  Aqidah sekulerisme sebagai landasan hidup ideologi Kapitalisme menjadikan orang senantiasa berbuat untuk mencari nilai manfaat tanpa mempedulikan aturan agamanya. Setiap orang beranggapan bahwa kehidupan ini hanya untuk mencari materi sehingga dia memisahkan aturan duniawi dengan aturan agamanya. Penyebaran ideologi ini melalui berbagai cara menjadikan hampir setiap manusia di muka bumi menganut ideologi ini.&lt;br /&gt;Hingga saat ini ideologi kapitalisme telah menjelma menjadi sebuah masyarakat dengan ciri yang khas karena begitu banyak orang yang menganutnya. Ideologi ini seperti gurita yang menjulurkan tentakelnya ke setiap penjuru dunia dengan berbagai cara melalui media massa, pendidikan, intimidasi ekonomi dan gerakan politik. Ide sekulerisme sebagai pijakannya membuat orang memiliki karakter yang rendahnya melebihi binatang (QS Al-Furqon ayat 44).&lt;br /&gt;Budaya pop ideologi Kapitalisme adalah segala pemikiran, ide, konsep ataupun cara hidup manusia yang lahir dari ideologi tersebut secara alami. Kerusakan budaya ini membuat orang memiliki cara berpikir yang  rusak serta tidak terarah sehingga kehidupannya penuh dengan keresahan dan ketidakpastian. Kekosongan spiritual seseorang menjadikannya tidak memiliki tumpuan hidup karena sudah mengabaikan aspek ruhiyah padahal itu adalah suatu keniscayaan sebagai fitrah yang dimiliki manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Konsumerisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karakter yang jelas terlihat dari masyarakat kapitalis adalah konsumtif. Konsumerisme menjadi senjata ampuh bagi roda pergerakan ekonomi Kapitalisme. Setiap  individu ‘dipaksa’ untuk bersikap konsumtif walaupun harus menggunakan uang pinjaman dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dibandingkan logika. Akibatnya, banyak penduduk yang terlilit utang kepada lembaga keuangan seperti yang saat ini terjadi di Amerika (Kapitalisme di Ujung Tanduk, Adnan Khan, 2008).&lt;br /&gt;Budaya konsumerisme ini bukan hanya terbatas dalam memenuhi kebutuhan primer seperti sandang, papan dan pangan tetapi sudah merambah kedalam gaya hidup yang tidak terarah. Pernahkan kita bertanya, kenapa begitu banyak orang yang suka mengkonsumsi minuman beralkohol padahal itu barang haram dan membahayakan? Gaya hidup seperti ini terkesan hanya menghamburkan uang dalam rangka memenuhi keinginan yang tidak terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Hedonisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat kapitalisme, memenuhi keinginan hawa nafsu adalah bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa memandang norma-norma agama. Budaya hedonistik menjadi sesuatu yang biasa dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi. Hedonisme tidak hanya berlaku untuk mengobati stress belaka tetapi sudah merambah pada kemaksiatan lain sebagai turunannya.&lt;br /&gt;Sex bebas dan hura-hura saat ini sudah menjadi budaya anak-anak muda dengan alasan hak azasi tanpa harus diganggu. Pada awalnya konsep hak azasi manusia untuk melindungi orang dari segala bentuk penindasan, tetapi berkembang menjadi cara berpikir ‘semau gue’. Konsep hak azasi manusia ini sepertinya sudah kebablasan hingga menyentuh masalah ‘pribadi’ yang seakan tidak boleh diganggu padahal dalam Islam ada aturan untuk mengendalikan kondisi pribadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Individualisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan aneh jikalau banyak diantara kita yang bersikap individualistik sehingga tidak saling mengenal dan tidak peduli nasib sesama Muslim. Individualisme sudah menjadi budaya masyarakat kapitalisme karena mereka menganggap masyarakat ini terdiri dari individu-individu yang terpisah. Padahal masyarakat merupakan satu kesatuan yang integral dimana setiap individu saling berinteraksi dan saling peduli. Dalam Islam, masyarakat seperti satu tubuh yang apabila salah satu diantara mereka merasakan sakit maka bagian tubuh yang lain pun merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;Kemiskinan di setiap sudut kota adalah buah dari ketamakan dan keserakahan para kapitalis yang menghisap darah rakyat jelata. Mereka seakan tidak peduli akan kondisi di sekitarnya. Gedung-gedung pencakar langit diantara perumahan kumuh menjadi simbol kerserakahan mereka. Semua itu terjadi karena sistem ekonomi kapitalisme yang semakin memperdalam jurang antara si kaya dan si miskin akibat dari pola distribusi kekayaan yang tidak merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Pragmatisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pragmatisme politik sudah menjadi tren diantara para politikus dalam meraih kekuasaan. Mereka tak segan-segan untuk sogok sana sogok sini demi secuil kekuasaan sesaat. Sikap ini berpengaruh luas pada sebagian besar masyarakat dalam menyikapi kehidupan. Jangan aneh jika ada ulama yang berdakwah demi mencari uang; mahasiswa rajin belajar demi mencari gelar akademis; atau muda-mudi berpacaran untuk memuaskan nafsunya belaka. Orang menganggap semua hal yang dilakukan hanya untuk mengambil manfaatnya padahal Islam mengajarkan pada kita bahwa hidup ini untuk ibadah kepada Alloh. Bekerja, bermasyarakat, bernegara bahkan berkeluarga adalah wujud ibadah kepada Alloh SWT  tidak sekedar mencari kebahagiaan sesaat. Bagi seorang muslim parameter kebahagiaan ini adalah ridlo Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Prularisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak orang menganggap bahwa agama apa pun sama selama dia mengajarkan kebaikan adalah benar. Pluralisme agama menjadi tren masa kini sehingga orang merasa tidak percaya diri dengan ke-Islamannya. Jangankan bersedia untuk menjalankan semua syariatnya, justru mereka menolak diterapkannya syariat Islam dengan alasan toleransi beragama. Menurut anggapan mereka syariat Islam melanggar Hak Azasi Manusia karena tidak menghargai manusia sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Bagi mereka, agamanya hanyalah pemuas dahaga spiritual manusia. Seharusnya agama dijadikan landasan dalam berpikir dan bertindak sehingga kehidupan manusia akan senantiasa lebih terarah. Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadikan setiap konsep pemikirannya pemandu kehidupan sehingga terbentuk masyarakat yang syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitupun  demokrasi menjadi hal yang dijunjung tinggi dibandingkan keimanan kepada Alloh SWT dengan menjalankan semua perintahnya dalam berbagai aspek. Manusia sudah berani untuk membuat aturan diatas aturan Alloh SWT. Secara sadar atau tidak sadar, inilah kemaksiatan terbesar dibandingkan kemaksiatan lainnya. Kemaksiatan sistematis ini membuat semua bentuk kehidupan manusia menjadi jauh dari Islam.&lt;br /&gt;Banyak orang beranggapan bahwa kemaksiatan yang terjadi adalah buah dari kemerosotan akhlaq. Padahal kemerosotan akhlaq hanyalah turunan dari demokrasi sebagai kemaksiatan terbesar dimana manusia sudah mengabaikan ajaran Alloh SWT dalam menata kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Mari Tinggalkan Semua Itu…….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya kita meninggalkan semua serangan pemikiran sesat itu  dengan menjadikan pemikiran Islam sebagai  ‘lawan tandingnya’. Insya Alloh, hanya dengan pemikiran Islam semua itu dapat diakhiri. Pemikiran Islami lahir dari ideologi Islam dengan akidah Islam sebagai landasan. Akidah Islam tidak pernah membedakan antara apsek spiritual dan aspek meterial. Masyarakat Islam berdiri diatas aturan Islam yang mengatur cara ibadah ritual hingga mengatur negara. Kekosongan spiritual yang dialami masyarakat Kapitalis tidak terjadi karena secara alami masyarakat Islami akan terbentuk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1235249642452110150?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://kemaksiatanideologis.muhammadyusufansori.blogspot.com' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1235249642452110150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1235249642452110150' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1235249642452110150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1235249642452110150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/12/kemaksiatan-ideologis.html' title='Kemaksiatan Ideologis'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/STRnq-f5a1I/AAAAAAAAAMI/wXOhHRajtEQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3432533051057995029</id><published>2008-10-25T15:07:00.000-07:00</published><updated>2008-10-25T15:10:23.127-07:00</updated><title type='text'>Melawan Budaya Pop Kapitalisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SQOZM9NDk-I/AAAAAAAAAMA/OT13TJiDhh4/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 115px; height: 116px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SQOZM9NDk-I/AAAAAAAAAMA/OT13TJiDhh4/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261217237565674466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini kapitalisme menjelma menjadi sebuah masyarakat dengan ciri yang khas. Ideologi ini seperti gurita yang menjulurkan tentakelnya ke setiap penjuru dunia dengan berbagai cara melalui media masa, pendidikan, intimidasi ekonomi dan gerakan politik. Ide sekulerisme sebagai pijakannya membuat orang memiliki karakter yang rendahnya melebihi bintang (QS. Al-Furqon ayat 44).&lt;br /&gt;Karakter yang jelas terlihat dari masyarakat kapitalis adalah konsumtif. Konsumerisme menjadi senjata ampuh  bagi roda pergerakan ekonomi Kapitalisme. Settiap invidu ‘dipaksa’ untuk bersikap konsumtif walaupun harus menggunakan uang pinjaman dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak membedakan antara kebutuhan dengan keinginan sehingga mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dibandingakn logika. Akibatnya, banyak penduduk yang terlilit utang kepada lambaga keuangan seperti yang saat ini terjadi di Amerika (Kapitalisme di Ujung Tanduk, Adnan Khan, 2008).&lt;br /&gt;Bagi masyarakat kapitalisme, memenuhi keinginan hawa nafsu adalah bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa memandang norma-norma agama. Budaya hedonistik menjadi sesuatu yang biasa dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi. Sex bebas dan hura-hura saat ini menjadi budaya anak muda dengan alasan hak azasi tanpa harus diganggu.&lt;br /&gt;Jangan aneh jikalau banyak diantara kita yang bersikap individualistik sehingga tidak saling mengenal dan tidak peduli nasib sesama muslim. Individualisme sudah menjadi budaya masyarakat kapitalisme karena mereka menganggap masyarakat ini terdiri dari individu-individu yang terpisah. Padahal masyarakat merupakan satu kesatuan yang integral dimana setiap individu saling berinteraksi dan saling peduli. Dalam Islam, masyarakat seperti satu tubuh yang apabila salah satu diantara mereka merasakan sakit maka bagian tubuh yang lain pun merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;Kemiskinan di sudut kota adalah buah dari ketamakan dan keserakahan para kapitalis yang menghisap darah rakyat jelata. Gedung-gedung pencakar langit diantara perumahan kumuh menjadi simbol keserakahan mereka. Semua itu terjadi karena sistem ekonomi kapitalisme yang semakin memperdalam jurang antara si kaya dengan si miskin akibat pola distribusi kekayaan yang tidak merata.&lt;br /&gt;Saat ini pragmatisme politik sudah menjadi tren diantara para politikus dalam meraih kekuasaan. Mereka tidak segan-segan untuk sogok sana sogok sini demi secuil kekuasaan seaat. Sikap ini berpengaruh luas pada sebagian besar masyarakat dalam menyikapi kehidupan. Orang menganggap semua hal yang dilakukan hanya untuk mnengambil manfaatnya saja padahal Islam mengajarkan paada kita bahwa hidup ini untuk ibadah kepada Alloh. Bekerja, bermasyarakat, bernegara bahkan berkeluarga adalah wujud ibadah kepada Alloh SWT tidak sekedar mencari kebahagiaan sesaat. Bagi seorang muslim parameter kabahagiaan ini adalah ridlo Alloh SWT.&lt;br /&gt;Ada banyak orang menganggap bahwa apapun sama selama dia mengajarkan kebaikan. Pluralisme agama menjadi tren mas kini sehingga merasa tidak percaya diri dengan ke-Islamannya. Jangankan bersedia untuk menjalankan semua syariatnya, justru mereka menolak diterapkannya syariat Islam dengan alasan toleransi beragama. Menurut anggapan mereka syariat Islam melanggar Hak Azasi Manusia karena tidak menghargai manusia sebagaimana mestinya. Begitupun demokrasi menjadi hal yang dijunjung tinggi dibandingkan keimanan kepada Alloh SWT dengan menjalankan semua perintahnya dalam berbagai aspek.&lt;br /&gt; Sudah saatnya kita meninggalkan semua serangan pemikiran sesat itu dengan menjadikan pemikiran Islam sebagai ‘lawan tandingnya’. Insya Alloh, hanya dengan pemikiran Islam semua itu dapat diakhiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3432533051057995029?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3432533051057995029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3432533051057995029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3432533051057995029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3432533051057995029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/10/melawan-budaya-pop-kapitalisme.html' title='Melawan Budaya Pop Kapitalisme'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SQOZM9NDk-I/AAAAAAAAAMA/OT13TJiDhh4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1791814164227971035</id><published>2008-10-17T09:25:00.001-07:00</published><updated>2008-10-17T09:50:03.013-07:00</updated><title type='text'>Dakwah Yuk!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SPjCLfRGx0I/AAAAAAAAALw/EgMmhDWjaHY/s1600-h/dakwah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SPjCLfRGx0I/AAAAAAAAALw/EgMmhDWjaHY/s400/dakwah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258166067582650178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menggerakan Umat Membangun Masa Depan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa Umat Islam Terpuruk?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita tahu, umat Islam saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kondisi sosial, ekonomi dan politik sebagian besar negeri kaum Muslimin berada dalam kondisi paling mengerikan sepanjang sejarahnya. Tidak terkecuali kondisi negeri ini yang dipenuhi berjuta-juta kaum Muslimin terus-menerus mendapat cobaan (azab) dari Alloh SWT dengan krisis multidimensi yang tak kunjung terselesaikan.&lt;br /&gt;Ada banyak faktor yang menjadi penyebab semua kemunduran umat Islam saat ini. Namun, kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata faktor terbesar kemunduran ini ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri. &lt;br /&gt; Kemunduran kaum Muslimin tampak ketika mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran agamanya sendiri;&lt;br /&gt; Membiarkan peradaban asing masuk menyerbu mereka tanpa dapat memilah mana yang sesuai dengan syara’ dan yang bertentangan dengan agama;&lt;br /&gt; Membiarkan faham-faham Barat bercokol dalam benak mereka sehingga mereka kesulitan untuk membedakan antara faham yang berasal dari pemahaman Islami dengan faham yang timbul dari faham Barat seperti sekulerisme, demokrasi bahkan sosialisme.&lt;br /&gt;Kemunduran kaum Muslimin tampak ketika mereka tidak lagi mengemban dakwah Islam di tengah-tengah umat manusia sehingga mereka tidak lagi memiliki pemikiran yang Islami. Pemikiran Islami ini dapat membendung umat dari segala macam perkembangan zaman yang sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Dengan begitu, umat akan pandai memilih segala macam faham yang merasuki pikiran umat Islam.&lt;br /&gt;Dengan adanya dakwah Islam pemikiran Islami pun akan senantiasa terjaga dan menjadi ciri khas dari masyarakat Islam yang berbeda dengan masyarakat Sekuler-kapitalisme atau sosialis-komunisme. Pemikiran Islami merupakan segala macam ide dan pemikiran yang berasal dari aqidah Islam. Pemikiran Islami ini akan memimpin umat dalam menjalankan tugas manusia sebagai hamba Alloh di muka bumi sehingga manusia tidak keluar dari apa yang telah digariskan oleh Alloh dalam al-Quran dan as-sunah. Pemikiran Islami ini juga akan memimpin umat untuk membentuk sebuah peradaban berdasarkan syariat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dakwah, Suatu Kewajiban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, ditengah-tengah umat ini harus ada dakwah Islam yang mengemban qiyadah fikriyah Islamiyah (kepemimpinan berfikir dalam islam). Dakwah yang disampaikan oleh para da’i pun sepatutnya berisi ajakan untuk kembali kepada qiyadah fikriyah Islamiyyah. Dakwah yang dilakukan tidak sekedar menyampaikan indahnya Islam dalam aspek ritual belaka tetapi harus ada perubahan ‘isi’ dakwah tersebut menjadi dakwah dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam. &lt;br /&gt;Bisa jadi kenapa dakwah Islam saat ini sulit untuk membangkitkan umat dikarenakan umat sudah digiring untuk jauh dari qiyadah fikriyah Islamiyah secara tidak sengaja. Apabila para da’i menyampaikan Islam hanya aspek ritual saja maka secara tidak langsung mengajak umat untuk berpikiran sekuler. Sebagian besar umat Islam memandang bahwa agama Islam ini hanya agama ritual yang mengatur urusan antara hamba dengan Tuhannya (sekulerisme). Umat sudah membedakan antara kehidupan duniawi dengan kehidupan ukhrowi sehingga mereka beranggapan bahwa agama tidak boleh hadir dalam kancah kehidupan sehari-hari. Mereka beranggapan bahwa Islam hanya boleh ada di Mesjid dan majlis ta’lim padahal Islam juga mengatur urusan ekonomi, sosial bahkan politik.&lt;br /&gt;Dakwah Islam saat ini hendaknya disampaikan dengan metode yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Rosululloh. Secara garis besar dakwah Rosululloh terbagi kedalam tiga tahapan dakwah yakni 1) pembinaan; 2) berinteraksi dengan umat dan 3) meraih kekuasaan. Kekuasaan Islam nanti pun akan selalu mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan politik luar negerinya yakni dakwah dan jihad.&lt;br /&gt;Pembinaan umat dapat dilakukan melalui berbagai majelis-majelis ilmu yang berisi seruan untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam. Pada prakteknya, pola pembinaan dapat berupa mentoring, kajian ilmiah atau seminar ilmiah dengan menyampaikan ide bahwa Islam adalah solusi dari berbagai permasalahan umat. Majelis-mejelis ilmu yang ada harus memiliki pola dalam rangka membina umat tidak sekedar tablig tanpa menyentuh pemikiran umat. Pembinaan umat ini diharapkan akan melahirkan kader-kader dakwah yang akan senantiasa berinteraksi dengan umat.&lt;br /&gt;Interaksi kader dakwah dengan umat harus interaksi ilmiah bukan sekedar interaksi fisiknya saja. Kader dakwah senantiasa ‘membenturkan’ pemikiran umat yang sekuler dengan pemikiran Islami yang akan mengubah sikap umat terhadap Islam. Apabila telah terjadi interaksi pemikiran, maka diharapkan terbentuk opini Islam di tengah-tengah umat. Seiring berjalannya waktu opini Islam yang sudah kuat ini akan menghantarkan umat untuk meraih kekuasaan. Insya Alloh, jika opini Islam ini sudah menguasai seluruh elemen umat maka penguasa pun akan menyerahkan kekuasaannya kepada umat untuk dipimpin dengan syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dakwahkah Islam dengan Terus Terang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu fenomena yang sudah menjadi ‘penyakit’ para pengemban dakwah yakni perasaan takut idenya tidak terima oleh masyarakat. Sering diantara kita memilah-milah materi dakwah dengan membedakan opini ‘ringan’ dan opini ‘berat’. Mungkin masyarakat menganggap aneh jika ada da’i yang berbicara politik di mimbar masjid sehingga da’i tersebut tidak menyampaikan isu politik dalam setiap majelisnya. Bisa jadi perasaan takut tidak diterima tersebut datang dari syetan yang mengganggu hati dan perasaan kita.&lt;br /&gt;Demikianlah seharusnya dakwah Islam dilakukan dengan sikap dan tindakan yang terus terang, menentang segala adat istiadat, kebiasaan, ide-ide sesat dan persepsi yang salah bahkan menentang opini umat yang keliru, sekalipun untuk ini dia harus bermusuhan. Begitu pula dia akan menentang kepercayaan-kepercayaan dan agama yang ada, sekalipun harus berhadapan dengan kefanatikan para pemeluknya atau harus menghadapi kebencian orang yang dungu dengan kesesatannya.&lt;br /&gt;Ketika kita menyampaikan Islam kepada non-Muslim harus kita sampaikan bahwa hanya Islam-lah yang benar. Kita harus menyampaikan bahwa hanya Islam yang menjadi solusi atas setiap krisis yang ada. Jangan pernah ada ide dalam benak kita untuk melakukan ‘dialog antar agama’ yang menyatakan bahwa solusi negeri ini akan terselesaikan dengan adanya kerukunan antar umat beragama dan mengembalikan semua masalah kepada agama tanpa memandang apapun agamanya. Dengan begitu mereka menganggap bahwa agama Kristen _atau yang lain_ pun dapat menjadi solusi atas krisis yang terjadi. Jika kita memperhatikan, opini ini justru akan mengalihkan umat dari syariat Islam karena umat Islam pun beranggapan bahwa seluruh agama adalah benar dan dapat menjadi solusi atas berbagai masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keberhasilan Dakwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berhasil atau tidaknya dakwah tidak ditentukan oleh banyak atau tidaknya pengikut dari seorang da’i atau kelompok dakwah tetapi ditentukan oleh seberapa besar kekuatan pemikiran umat untuk menjadikan Islam sebagai solusi. Sudah banyak contoh di tengah kita ketika para da’i banyak ditinggalkan oleh para pengikutnya karena dia  tidak dapat mengikat pengikutnya dengan pemikiran yang Islami. Rahasia keberhasilan dakwah Islam adalah keberadaannya yang dinamis dan mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan manusia secara utuh, sehingga terjadi perombakan yang menyeluruh terhadap diri manusia.&lt;br /&gt;Keberhasilan dakwah pun tidak diukur dengan banyaknya sarana fisik yang sudah dibangun oleh seorang da’i atau kelompok dakwah. Sudah banyak contoh dimana banyak ormas Islam yang mendirikan berbagai sarana fisik (seperti sekolah, rumah sakit, islamic centre dll.) tetapi tidak dapat membawa umat ke arah yang lebih baik. Apabila kita memiliki cara berfikir demikian maka Insya Alloh  kita pun akan mengkonsentrasikan dakwah Islam pada perbaikan pemikiran umat bukan disibukkan dengan membangun berbagai sarana fisik yang menghabiskan banyak biaya.&lt;br /&gt;Sering kita berpikir jika dakwah itu sudah berhasil apabila sudah dapat merubah individu menjadi manusia yang lebih beradab. Padahal, dakwah Islam adalah dakwah merubah masyarakat bukan sekedar merubah individu. Bisa jadi kita sulit untuk mengajak saudara kita menuju Islam namun bukan berarti kita berhenti dakwah dan stagnan sampai disana. Rosululloh tidak dapat merubah paman beliau hingga memeluk Islam tetapi ternyata beliau dapat merubah masyarakat Quraisy menjadi masyarakat Islam. Apalagi Islam memandang bahwa masyarakat tidak sekedar kumpulan individu yang terpisah tetapi masyarakat adalah kesatuan yang integral dengan pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syurga Menantimu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Didepan kita begitu banyak tantangan yang menghadang jalan dakwah Islam mulai dari godaan pada diri kita hingga makar orang kafir yang senantiasa merongrong. Namun, para pengemban dakwah akan senantiasa menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah pada jalan kesempurnaan, selalu mengkaji dan mencari kebenaran, serta senantiasa meneliti kembali secara berulang-ulang setiap sesuatu yang sudah mereka ketahui agar dapat dibersihkan dari segala pemikiran asing yang mungkin mempengaruhinya. Disamping itu selalu menjauhkan pemikirannya dari segala sesuatu yang apabila didekati akan menyebabkan pemikirannya terjerumus. Semua itu bertujuan agar ide-ide yang mereka kembangkan tetap murni dan terpelihara. Kemurnian ide adalah satu-satunya jaminan untuk keberhasilan yang terus-menerus.&lt;br /&gt;Sementara itu, para pengemban dakwah menunaikan kewajibannya sebagai hamba Alloh dengan mengharapkan ridlo Alloh. Syurga pun akan senantiasa merindukan para pejuang agama Alloh yang berjuang tanpa pamrih.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.’ (QS. al-Baqoroh: 25) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1791814164227971035?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1791814164227971035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1791814164227971035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1791814164227971035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1791814164227971035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/10/dakwah-yuk.html' title='Dakwah Yuk!'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SPjCLfRGx0I/AAAAAAAAALw/EgMmhDWjaHY/s72-c/dakwah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3774188104405803122</id><published>2008-09-22T01:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T01:30:38.220-07:00</updated><title type='text'>Kemaksiatan, Produk dari Pola Pikir Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SNdXm1Z2ZjI/AAAAAAAAAJ4/u9d34SVOW1w/s1600-h/images+2.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SNdXm1Z2ZjI/AAAAAAAAAJ4/u9d34SVOW1w/s400/images+2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248760215405749810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita memperhatikan kondisi sekeliling kita yang penuh dengan kemaksiatan dimana-mana. Kemaksiatan itu ternyata begitu kompleks. Pelacuran, pembunuhan hingga korupsi di tingkat elit politik sudah menjadi pemandangan sehari-hari di negeri ini. Tetapi, kita jangan dipusingkan dengan bagaimana cara menyelesaikan semua masalah tersebut karena ternyata semua itu beranjak dari cara pandang kita terhadap kehidupan ini, alam semesta ini dan realitas sosial diri kita sebagai manusia.&lt;br /&gt;Kondisi negeri ini tidaklah seindah yang dibayangkan oleh orang tua kita dulu ketika kemerdekaan belum dicapai. Kerusakan sistem hidup negeri ini tidaklah seindah kata-kata yang dituangkan dalam draf Pancasila dan UUD 1945. Sebuah konsep negara yang telah diperjuangkan oleh orang-orang yang mati di medan perang demi tegaknya negeri ini ternyata tidak dapat membentuk negeri ini menjadi negara yang adil dan beradab. Sepertinya mereka akan menangis ketika menyaksikan negeri ini carut-marut tanpa arah pembangunan yang jelas.&lt;br /&gt;Memang, akan terasa utopis apabila kita selalu memikirkan negeri ini untuk merubah kondisinya menjadi lebih baik. Kondisi masyarakatnya yang multietnis dan multikondisi tidak akan lepas dari cara pandang masyarakat itu terhadap suatu perkara. Jika cara pandang dia terhadap suatu perkara menyalahi fitrahnya sebagai manusia maka sudah dapat dipastikan dia akan terjerumus ke dalam lubang kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perubah&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;an Dimulai dari Aqidah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa perubahan kondisi masyarakat berangkat dari perubahan cara pandang dia terhadap kondisi dan tugas dia sebagai manusia, kondisi alam semesta dan kehidupan yang sedang dia jalani serta hubungan diantara ketiganya. Cara pandang terhadap ketiganya ini biasa disebut aqidah. Setiap orang akan memiliki perbedaan cara pandang dia terhadap kondisi disekitarnya tergantung dari aqidah seperti apa yang dimilikinya. &lt;br /&gt;Jika seseorang beraqidah sekuler maka dia akan melihat kehidupan ini hanya untuk memenuhi nafsunya sebagai manusia. Dia akan bekerja membanting tulang demi tercapainya cita-cita hidup tanpa memandang apakah yang dilakukannya bertentangan dengan agama ataupun tidak. Cara pandang itu lahir dari sikap memisahkan kehidupan keduniaan dari intervensi agama. Dia beranggapan bahwa agama hanya ada di rumah ibadah atau di Mesjid tanpa harus ikut campur ke ranah kehidupan publik. Dengan begitu, tindakan suap-menyuap dianggap sah dalam pekerjaan sehari-hari. Begitu pula, menampakan aurat dimuka umum dianggap biasa saja karena menutup aurat itu hanya ada ketika melaksanakan sholat!&lt;br /&gt;Aqidah sekuler ini turut melahirkan paham liberalisme dimana manusia dianggap memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja semaunya. Dia memiliki kebebasan untuk menentukan sikapnya sebagai manusia jika sikapnya itu dianggap wajar. Misalnya, dia merasa bebas untuk berpacaran tanpa harus karena hal itu dianggap biasa dan tidak merugikan orang lain. Selain itu, lieberalisme juga membawa setiap orang untuk berpikir sebebas-bebasnya tanpa adanya batasan yang menghalangi dia. Contohnya, ketika mereka menganggap bahwa al-Quran yang selama ini dibaca umat Islam sudah ketinggalan zaman.  Entah disadari atau tidak, kebanyakan dari umat ini sudah memiliki pola pikir dan pola sikap yang liberal dimana Al-Quran tidak dijadikan pedoman hidup sebagian besar umat Islam.&lt;br /&gt;Pada awalnya, pemikiran ini dianut oleh sebagian kecil dari masyarakat Muslim tetapi karena semakin banyak yang mempunyai pemikiran seperti ini maka wajar jika sudah menjadi pemikiran umat secara keseluruhan. Umat Islam seharusnya membentuk masyarakat Islam dengan memiliki pemikiran yang Islami pada setiap individu Muslim. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki pemikiran dan perasaan yang Islami serta menegakan aturan kehidupan berdasarkan syariat Islam.&lt;br /&gt;Banyak diantara kita yang kebingungan ketika berusaha untuk menerapkan aturan Islam di tengah-tengah masyarakat.  Saking bingungnya, kita lupa menyampaikan pada umat kalau syariat Islam itu tidak mungkin dapat diterapkan di tengah-tengah umat jika sekulerisme masih ada dalam diri kita. Malahan kita cenderung beranggapan bahwa perbaikan akhlaq lebih diutamakan daripada membersihkan umat dari pemikiran kafir Barat. (Bukan berarti segala sesuatu dari Barat itu jelek lho…)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Syariat Islam sebagai Solusi&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita sudah memiliki pemikiran dan perasaan yang Islami maka umat Islam pun tidak akan menolak diterapkannya syariat Islam di tengah-tengah kehidupan. Secara alami umat ini akan senantiasa berbondong-bondong untuk meminta kepada penguasa yang sedang berkuasa untuk menjadikan syariat Islam sebagai aturan hidup. Bagitu pun penguasa yang diminta akan ‘legowo’ untuk menyerahkan kekuasaannya pada umat dan bersedia untuk menerapkan syariat Islam di tengah-tengah umat. Nah, peristiwa ini yang disebut tholabun nusroh sebagaimana kaum Anshor di Madinah bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Banyak diantara kita yang ‘alergi’ ketika mendengar kata syariat Islam padahal seharusnya kita sudah terbiasa dengan hal itu. Bukankah sholat, zakat, puasa adalah bagian dari syariat Islam. Namun Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah ritual saja tetapi juga mengatur bagaimana seorang Muslim melakukan transaksi ekonomi, berpolitik bahkan melakukan aktifitas sosial. Maka dari itu Islam layak disebut sebagai ideologi disamping ideologi Sekuler-Kapitalisme dan ideologi Sosialis-Komunisme.&lt;br /&gt;Seorang Muslim tidak boleh memiliki sikap apatisme (tidak peduli) terhadap kondisi sekitar karena dalam tatanan masyarakat Islam diharuskan untuk bersikap kritis (amar ma’ruf nahi mungkar). Kondisi masyarakat Islam yang dinamis menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut karena mereka beranggapan bahwa masyarakat Islam adalah satu kesatuan yang integral dimana cela seorang Muslim sama dengan cela seluruh kaum Muslimin. Masih ingat, kenapa kaum Muslimin merasa gerah ketika banyak orang yang membela Ahmadiyah dengan alasan ‘kebebasan beragama’. &lt;br /&gt;Insya Alloh, kalau konsep masyrakat Islam sudah ada ditengah-tengah umat ini maka seluruh kemaksiatan yang ada dapat diberantas. Selaian adanya amar ma’ruf nahi mungkar diantara sesama Muslim kemaksiatan pun akan segera diberantas oleh pemerintah Daulah Khilafah Islamiyah. Kholifah sebagai pempimpin umat Islam akan mengadopsi aturan Islam dan dijadikan Undang-undang negara. Jadi, bukan anggota parlemen yang membuat aturan seperti dalam demokrasi tetapi aturan itu sudah ada dalam syariat Islam. Kalau aturan tersebut terbilang baru maka Kholifahlah yang mengadopsi aturan itu melalui ijtihadnya atau ijtihad para ulama.&lt;br /&gt;Kita jangan menganggap syariat Islam itu tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Justru, dengan syariat Islam keteraturan hidup akan tercapai sehingga terbentuk sebuah peradaban yang agung yang akan memimpin dunia. Bahkan, peraturan lalu-lintas pun dapat menjadi syariat Islam selama yang megeluarkan aturan itu adalah Daulah Islam. Begitu pun dengan peraturan yang lain yang biasa terjadi diera modern saat ini dimana sudah terjadi perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sederhanakan Pandangan tentang Syariat Islam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita sudah memahami realitas diatas maka sudah saatnya kita menjadi orang yang terdepan memperjuangkan Islam. Dakwah adalah kewajiban setiap Muslim maka dakwah seorang Muslim pun dikonsentrasikan untuk melanjutkan kehidupan Islam dibawah naungan Daulah Khilafah.&lt;br /&gt;Jangan pernah ada perasaan takut kalau dakwah kita tidak akan diterima oleh masyarakat karena bisa jadi perasaan itu datang dari syetan. Sering kita dikungkung oleh pemikiran betapa rumitnya apabila isu syariat Islam disampaikan di mimbar-mimbar masjid sehingga enggan untuk menyampaikannya di tengah-tengah umat. So, sederhanakanlah pemikiran kita tentang syariat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah karena ternyata kita cukup dengan merubah pola pikir kita menjadi pemikiran Islami. Bisa jadi, kemaksiatan yang terus meraja rela ini karena pola pikir kita yang masih sekuler dan enggan untuk mengakampanyekan Khilafah di tengah-tengah umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(mohon komentarnya...)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garut, 22 september 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3774188104405803122?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3774188104405803122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3774188104405803122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3774188104405803122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3774188104405803122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/09/kemaksiatan-produk-dari-pola-pikir-kita.html' title='Kemaksiatan, Produk dari Pola Pikir Kita'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SNdXm1Z2ZjI/AAAAAAAAAJ4/u9d34SVOW1w/s72-c/images+2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-5138866360322064520</id><published>2008-09-06T01:37:00.000-07:00</published><updated>2008-09-06T01:44:02.542-07:00</updated><title type='text'>Mempersatukan Umat dengan Sikap Kritis</title><content type='html'>Ada banyak anggapan bahwa kemajuan taraf berpikir manusia ketika dia bisa bersikap kritis terhadap kondisi di sekitarnya.  Terbangunnya sebuah peradaban ketika ada sebagian dari pelaku peradaban tersebut mencanangkan ide yang konstruktif. Dengan ide yang dimilikinya maka akan terjadi sebuah perubahan kondisi zaman yang sudah jenuh dengan ide lama. Perkembangan ilmu pengetahuan pun telah membawa sebuah peradaban ke taraf yang lebih tinggi derajatnya.&lt;br /&gt;Dahulu, ketika Nabi Muhammad SAW belum lahir peradaban manusia mengalami kemerosotan hingga ke titik terendah. Harga nyawa manusia tidak lebih berharga dibandingkan seekor unta. Anak perempuan dikubur hidup-hidup padahal dia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang diperbuatnya hingga dia menerima siksaan begitu beratnya. Peradaban Romawi, Yunani, Persia, India dan Cina yang menjadi pusat peradaban tidak dapat mengangkat harkat martabat manusia. Malahan banyak diantara mereka dianggap seperti binatang yang dijadikan tontonan seperti sabung ayam!&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-7 Masehi, lahirlah seorang Nabi penutup yang memberikan penerangan bagi gelapnya peradaban manusia. Muhammad SAW. adalah sosok paling berpengaruh di dunia (versi. Michael Hard) dibandingkan siapa pun di dunia. Perubahan bentuk peradaban dari jahiliyah menjadi sebuah peradaban Islam yang kokoh, khas dan bermartabat diawali dari seorang tukang gembala domba. Beliau selalu kritis terhadap kondisi lingkungan masyarakat Arab yang sangat kacau tersebut. Seiring berjalannya waktu, mereka yang tadinya menolak ajakan Nabi Muhammad berubah dengan cepat menjadi pengemban dakwah di garda terdepan.&lt;br /&gt;Ketika Raosululloh meninggal pun para pengemban dakwah ini senantiasa membangun peradaban dengan kekuatan ideologi yang lahir dari aqidah kuat dan khas. Kekuatan aqidah ini mendorong mereka untuk menaklukan 2/3 dunia dan menjadikannya wilayah yang makmur. Ideologi ini senantiasa terpelihara karena diantara mereka selalu saling mengkritik. Masih ingatkah ketika Umar bin Khottob pertama kali diangkat menjadi Kholifah? Beliau marah ketika tidak ada orang yang mau meluruskannya apabila berbuat menyimpang dari sunnah Rasululloh. Tapi, ternyata ada seorang pemuda yang siap mengkritiknya walaupun harus dengan sebilah pedang!i&lt;br /&gt;Ya, memang seperti itulah hadloroh (peradaban) Islam akan senantiasa terpelihara. Lihatlah sekarang ketika hadloroh Islam sudah tidak menjadi pemimpin peradaban dunia, kekacauan terjadi dimana-mana. Ide yang Islami sudah hilang karena diantara umat Islam sudah ‘malas’ untuk salaing mengkritik. Mereka sudah ‘tidak peduli’ lagi terhadap kondisi disekitarnya. Sikap apatis merajalela dimana-mana sehingga wajar apabila ada kezoliman banyak uamt yang tidak memberikan reaksi. Banyak pemikiran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran kafir Barat. Ulama, cendikiawan dan sebagian besar kaum Muslimin merasa bangga apabila mereka menganut sekulerisme dan merasa malu apabila membawa pemikiran Islam. Bahkan lebih parah lagi ketika kita sendiri tidak menyadari kebobrokan ini!&lt;br /&gt;Sikap kritis ini sudah menjadi ciri masyarakat Islam yang dinamis. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang terbangun secara integral. Mereka memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama yakni Islam (bukan yang lain). Umat Islam adalah umat yang satu sehingga apabila ada cela dari seorang Muslim sama saja dengan cela seluruh kaum Muslimin. Dengan begitu, sikap apatis (tidak peduli) tidak pernah ada dalam masyarakat Islam. Kemurnian aqidah, ideologi,  dan pemikiran pun senantiasa terjaga. Mereka sadar apabila pemikiran Islam sudah tidak murni lagi maka peradaban Islam pun akan hancur. Kekhawatiran ini pun terjadi ketika Mustafa Kemal dan antek-anteknya mengacak-ngacak Daulah Islam dengan ide-ide kufur seperti demokrasi dan nasionalisme. Masyarakat Islam waktu itu sudah tidak dapat lagi membedakan antara pemikiran Islami dan pemikiran kufur sehingga peradaban Islam pun sirna dari muka bumi. Kondisi itu berlangsung hingga hari ini!ii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mari Satukan Persepsi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas maka saya mengajak kepada seluruh kaum Muslimin untuk menghidupkan kembali sikap kritis diantara sesama kaum Muslimin. Sikap ini sebagai upaya membentuk kembali pemikiran Islami dengan memurnikannnya dari pemikiran kufur. Apabila ditengah-tengah umat sudah terbangun pemikiran yang Islami maka persatuan umat pun akan terjalin. Secara alami ideologi Islam pun akan terbangun dan kembali memimpin peradaban dunia.&lt;br /&gt;Banyak orang yang beranggapan bahwa sikap kritis ini akan memecah belah umat. Saya pikir anggapan itu keliru. Faktanya justru ketika tidak ada sikap kritis di tengah-tengah umat maka kondisi umat pun semakin melemah. Justru dengan sikap kritis ini maka ada upaya saling mengingatkan jikalau diantara kita ada yang sudah teracuni oleh pemikiran kufur. Kita harus mempersatukan persepsi dengan mengopinikan Islam ketengah-tengah umat. Apabila apa yang kita opinikan itu sama, maka secara alami persatuan umat pun akan terjalin.&lt;br /&gt;Maka dari itu, kita jangan sakit hati ketika ada saudara kita yang mengkritik jalan dakwah yang selama ini kita tekuni. Bisa jadi kita sudah memilih jalan yang keliru. Bisa jadi kita sudah terjebak ke dalam lubang kemaksiatan dengan senantiasa mengopinikan demokrasi, sekulerisme dan nasionalisme. Salah besar apabila ada ungkapan “ya sudah, kita jalani saja apa yang kita yakini”. Ungkapan tersebut sangat digemari oleh orang kafir karena sebagai ciri dari terpecahnya umat ke dalam kotak-kotak kehancuran.&lt;br /&gt;Saya pikir, selama tidak ada opini yang sama tentang Islam di tengah-tengah umat maka kebangkitan umat ini tidak akan pernah terjadi. Umat bingung mana yang harus mereka ikuti.  Sehingga ketika umat diajak untuk melakukan sebuah perubahan maka mereka pun ramai-ramai untuk mundur dan menjauh dari para pengemban dakwah. “Bagaimana Islam ini akan bersatu, diantara para ulama sendiri masih masing-maisng!”, mungkin begitulah pola pikir sebagian umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kritis Bukan Berarti Demokratis!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar diantara kita menganggap bahwa sikap kritis adalah sikap yang demokratis. Dengan sikap kritis maka tidak ada kesewenang-wenangan diantara kita. Pendapat tersebut keliru. Kita harus membedakan pembahasan antara sikap kritis dan demokrasi. Demokrasi sendiri merupakan ide/pemahaman yang intinya menjadikan manusia sebagai sumber dari hukum/peraturan yang diterapkan dalam suatu negara. Jadi, apabila ada seorang mahasiswa yang mengkritik Rektor bukan berarti mahasiswa tersebut demokratis. Sikap itu hanya sebuah luapan emosi atas ketidak setujuan mahasiswa tersebut terhadap kebijakan Rektor.&lt;br /&gt;Begitu pun sikap para sahabat Rosul yang selalu saling mengkritik bukan berarti mereka bersikap demokratis. Sikap kritis mereka semata-mata dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. Sikap yang sangat diperintahkan oleh Alloh SWT. Jadi, jangan ada ungkapan dari kita untuk mengajak orang bersikap demokratis tetapi ajaklah orang untuk saling mengingatkan yang berdasar pada syariat Islam. Justru, apabila kita mengajak orang untuk bersikap demokratis maka sama saja kita membawa orang untuk masuk lubang buaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Predikat Umat Terbaik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maha Benar Alloh ketika memberikan predikat umat terbaik kepada umat Islam. Alloh SWT berfirman dalam QS. Ali-Imron ayat 110:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun predikat itu sudah luntur karena diantara kita terbentuk sikap apatis. Maka wajar ketika Alloh menjadikan umat ini sebagai umat yang berperadaban rendah karena kita sendiri sudah enggan untuk membangunnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Demikian tulisan ini saya buat sebagai curahan hati saya ketika melihat kondisi umat yang terpecah belah. Dengan segala kerendahan hari saya pun memohon saran dan kritiknya dengan mengirimkannya ke muhammadyusufansori.blogspot.com atau e-mail ke ansorfapet@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-5138866360322064520?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/5138866360322064520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=5138866360322064520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5138866360322064520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5138866360322064520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/09/mempersatukan-umat-dengan-sikap-kritis.html' title='Mempersatukan Umat dengan Sikap Kritis'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7900308412767584721</id><published>2008-09-02T01:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T01:24:10.568-07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Mengalahkan Ukhuwah Islamiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SLz2dLJO3CI/AAAAAAAAAJI/HvQivT9ppLw/s1600-h/images+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SLz2dLJO3CI/AAAAAAAAAJI/HvQivT9ppLw/s400/images+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241335047420566562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SLz2dbBN4lI/AAAAAAAAAJQ/cstpbc91MDk/s1600-h/images+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SLz2dbBN4lI/AAAAAAAAAJQ/cstpbc91MDk/s400/images+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241335051681915474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dipahami ketika ternyata nasionalisme  mengalahkan ukhuwah Islamiyyah yang seharusnya ada dalam setiap diri kaum Muslimin. Kekuatan isu nasionalisme lebih banyak membius pemikiran kaum Muslimin dibandingkan ukhuwah Islamiyyah yang sudah digariskan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Kaum Muslimin sudah terkotak-kotak kedalam berpuluh negara bangsa.&lt;br /&gt;Umat Islam terpecah belah menjadi wilayah-wilayah kecil sebagaimana dahulu orang Barat kembali merangkul Jahiliyah Romawi dan Yunani. Bendera tauhid digantikan oleh bendera masing-masing negara dengan berbagai warna. Dengan kondisi itu menjadikan kaum Muslimin tidak memiliki ikatan komunikatif-solidaritatif. Ikatan inilah yang dapat mempersatukan visi dan misi umat Islam yang lahir dari persamaan ideologi yakni Ideologi Islam.i&lt;br /&gt;Karena nasionalisme sudah menjalar ke berbagai penjuru dunia, maka wajar jika ada anggapan kalau orang Malaysia asing bagi orang Indonesia. Orang Arab pun asing bagi orang Afrika apalagi adanya perbedaan ras diantara mereka. Jika dilihat perasaan ini memang akan dianggap biasa saja. Namun justru perasaan ini yang membuat sulitnya umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu.  ‘Egoisme kawasan’ pun timbul seiring dengan semakin kuatnya keinginan setiap negara untuk saling mempengaruhi dan menguasai.&lt;br /&gt;Jangan aneh kalau sikap apatis timbul dari sebagian besar kaum Muslimin. Mereka merasa masalah kaum Muslimin di Palestina hanyalah masalah bagi orang Palestina saja. Tidak ada pikiran untuk membantu orang Palestina ketika Israel memborbardir pemukiman mereka. &lt;br /&gt;Saya pun suka aneh sama Ulama yang mengajak kita untuk membantu orang Palestina tetapi masih menjadikan nasionalisme sebagai jargon politiknya. Padahal kalau mau ya jangan bawa-bawa nasionalisme tapi pakai satu bendera saja buat ngusir Palestina. Bendera itulah yang menjadi simbol bersatunya umat Islam di dunia. Ar-Roya dan al-Liwa itu juga yang dipakai Rosululloh ketika menaklukan kota Mekah.ii Ya nggak?&lt;br /&gt;Memang, bendera itu hanya sepotong kain, tetapi itu adalah produk dari faham nasionalisme itu sendiri. Rasa bangga ketika membawa bendera Merah Putih secara alami ada dalam diri orang Indonesia.  Namun ketika membawa bendera Amerika terkadang justru kebencian yang ada karena negara adidaya ini selalu bersikap sombong.&lt;br /&gt;Kalau kita mau menjalin ukhuwah Islamiyah diantara sesama Kaum Muslimin maka hapus berbagai gambar bendera di otak kita. Bukan hanya mengadakan konferensi umat Islam saja yang bisa kita lakukan. Tetapi satukan ide untuk menghapus segala pengahalang. Bisa jadi konferensi antar bangsa yang sekarang terjadi hanyalah upaya untuk melanggengkan perpecahan ini.&lt;br /&gt;Contoh kongkritnya adalah OKI (Organisasi Konferensi Islam), organisasi ini ternyata tidak bisa mengakomodir kepentingan umat Islam di dunia. Sekat negara diantara mereka tetap tidak bisa membawa opini yang sama untuk bebas dari segala bentuk penjajahan malahan isi konferensinya pun cenderung menjauh dari problem umat yang sebenarnya. Mereka lebih suka membahas masalah ekonomi. Melihat kondisi tersebut sering OKI dipelesetkan jadi O…I See (OIC). O ya..saya tahu…&lt;br /&gt;Selain OKI masih banyak organisasi konferensi Islam yang cenderung menjauhkan umat dari masalah sebenarnya. Ide ‘kemerdekaan’ suatu negara dalam satu batas wilayah sepertinya mengalahkan pentingnya umat bersatu dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Konferensi-konferensi dihadiri oleh banyak cendekiawan Muslim yang berpengaruh di negeri mereka tetapi sepertinya tidak mendapatkan titik terang permasalahan umat.&lt;br /&gt;Malahan sering isu yang diangkat adalh isu yang jauh dari nilai-nilai Islami yang seharusnya mereka junjung tinggi. Ide Hak Azasi Manusia (versi Barat), demokrasi, dialog antar peradaban dan begitu banyak isu sejenis yang justru menjauhkan umat dari apa yang selama ini diinginkan. Seakan-akan isu itu penting untuk dibahas karena merupakan jalan menuju kebangkitan Islam. Ternyata, hingga buku ini ditulis persatuan itu belum tercapai.&lt;br /&gt;Tahukah kita, isu tersebut diangkat sebagai upaya kafir Barat memecah belah umat.iii Mereka menggiring opini yang ada untuk menyibukan umat Islam dengan masalah negerinya sendiri. Misalnya, PBB menyerukan Israel untuk memberikan kemerdekaan pada Palestina. Secara serentak umat Islam di dunia mendukung ide ini. Mereka setuju jika Palestina merdeka dibawah satu bendera, Palestina Merdeka. Padahal kemerdekaan Palestina akan membuka pintu masalah yang baru. Jika Palestina sudah merdeka, apakah kita masih tetap peduli terhadap nasib Palestina? Pasti rasa simpati kita secara alami akan terhapus. Dan kita pun disibukan kembali dengan urusan kita masing-masing. Dengan begitu, tidak akan ada lagi upaya untuk menyatukan umat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Kapan kita peduli masalah orang Malaysia?&lt;br /&gt;Konkritnya, lihatlah negeri Indonesia ini! Negeri ini sudah merdeka secara fisik. Belanda dan Jepang sudah hengkang dari tanah air Indonsia tetapi kuku-kuku mereka masih menancap di negeri ini. Berbagai krisis terjadi dimana-mana dengan segala variasinya. Begitu pun Palestina, Kashmir, Mindanau, Xinjiang apabila sudah merdeka secara fisik dapat dipastikan nasibnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia! Tahu kenapa? Karena tidak ada institusi yang dapat menjaga kemerdekaan mereka.&lt;br /&gt;Jadi, usul saya…jangan beri kemerdekaan untuk Palestina, Irak, Xinjiang, Kashmir, bahkan Mindanau!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7900308412767584721?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7900308412767584721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7900308412767584721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7900308412767584721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7900308412767584721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/09/nasionalisme-mengalahkan-ukhuwah.html' title='Nasionalisme Mengalahkan Ukhuwah Islamiyah'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SLz2dLJO3CI/AAAAAAAAAJI/HvQivT9ppLw/s72-c/images+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7548202462377195973</id><published>2008-08-21T16:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T16:44:33.529-07:00</updated><title type='text'>Ancaman Nasionalisme terhadap Persatuan Umat Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SK39v0t7zRI/AAAAAAAAAIc/l_3wsJNKON0/s1600-h/bendera.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SK39v0t7zRI/AAAAAAAAAIc/l_3wsJNKON0/s400/bendera.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237120939748740370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasionalisme Membuahkan Kebencian&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme bagi sebagian orang adalah sesuatu yang agung yang harus dipertahankan. Mereka rela mati bagi eksistensi nasionalisme.  Pemikiran ini lahir karena sebagian orang beranggapan bahwa nasionalisme dapat mempersatukan orang dalam satu bingkai Negara dan teritorial. Bagi mereka, nasionalisme bisa mempersatukan perasaan orang yang memiliki nasib yang sama.&lt;br /&gt;Terkadang nasionalisme menggiring orang untuk menumpahkan darah manusia. Kebencian pada bangsa lain diluar bangsanya membuat orang menjadi beringas dan bersikap tidak manusiawi. Masih ingat sikap Adolf Hitler terhadap bangsa Non-Aria? Hitler dengan NAZI menjadikan manusia seperti binatang bahkan lebih rendah derajatnya. NAZI membunuh musuhnya seperti menepuk seekor nyamuk, sangat mudah tanpa ada rasa bersalah. Karena sikap mereka yang ‘gila’ itu maka Hitler dan pengikutnya disebut kaum Ultra Nasionalis.&lt;br /&gt;Atas nama Nasionalisme perang saudara pun terjadi, tidak peduli kalau mereka seagama. Tentara Nasional Indonesia (TNI) berperang dengan pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh karena perebutan wilayah. Walaupun apabila dicermati mereka berperang bukan karena mempertahankan idealisme tetapi karena pragmatisme diantara mereka. Agama Islam yang mereka anut tidak membuat mereka berdamai. Egoisme dari masing-masing pihak lebih banyak dikedepankan. Terkadang saya bertanya, “Apakah mereka merasa berdosa ketika harus menembak mati saudara mereka sendiri?”.&lt;br /&gt;Masih segar di ingatan ketika ada sebagian orang yang menyatakan ‘perang’ dengan orang Malaysia ketika Reog Ponorogo ditampilkan di iklan pariwisata Malaysia. Ditambah lagi ada seorang juri Taekwondo yang dipukuli Polisi Malaysia. Atas nama nasionalisme mereka menjelek-jelekan saudara mereka sesama Muslim di Malaysia. Di kampus saya, Unpad Jatinangor, banyak pamplet yang tertempel di dinding-dinding yang bernada provokatif. Bahkan ada yang berani menghina di depan mahasiswa-mahasiswa Malaysia yang sedang melaksanakan tugas pertukaran pelajar. Apakah harus seperti itu sikap kita? Saya pikir, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rosululloh Melarang Nasionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit fakta dimana nasionalisme membuat orang kehilangan akan sehatnya. Memang, ada yang berpendapat dengan nasionalisme rakyat Indonesia dapat bersatu untuk membangun bangsanya. Pendapat ini sering dikemukakan oleh para petinggi negeri ini. Mereka mengkampanyekan nasionalisme sebagai jargon politik mereka. Bahkan partai (berazas) Islam pun ikut-ikutan menjadikan isu nasionalisme ini sebagai alat kampanye mereka. Padahal Rosululloh saw. sudah secara jelas melarang setiap muslim memiliki rasa nasionalisme dalam dirinya. Dalam hadist riwayat Abu Daud dan Ahmad Rosululloh bersabda:&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya Alloh relah menghilangkan dari diri kalian ashobiyah jahiliyah dan kebanggan jahiliyah karena keturunan. Seseorang hanyalah seorang mukmin yang bertaqwa atau seorang pendosa yang celaka. Manusia itu hanya anak cucu Adam, sedangkan Adam berasal dari tanah. Tidak kelebihan antara Arab atas non-Arab kecuali karena ketaqwaannya.’&lt;br /&gt;Jika mencermati hadist tersebut maka sudah jelas keharaman nasionalisme. Kata Ashobiyah dalam hadist di atas dapat berarti rasa bangga pada keluarga, suku atau bangsa sendiri dan menganggap hina bangsa yang lain. Tidak peduli ukuran menghinakan itu apakah besar atau kecil. Apakah sikap kita seperti Hitler ataupun seperti teman mahasiswa saya yang menghina mahasiswa Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalam Bentuk Apapun Nasionalisme Tetap Cela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syekh Hasan al-Banna dalam bukunya Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin (1997)i menyebutkan bahwa nasionalisme itu boleh-boleh saja. Apabila nasionlisme yang dimaksud adalah nasionalisme kerinduan akan bangsa dan tanah air maka hal itu sudah ada dalam fitrah manusia. Jika nasionalisme yang dimaksud adalah nasionalisme pembebasan dari penjajah untuk membela kehormatan maka beliau pun sepakat dengan hal itu. Menurut beliau  batasan nasionalisme ditentukan oleh aqidah.&lt;br /&gt;Saya tidak sependapat dengan beliau. Jika nasionalisme itu ditentukan oleh aqidah, maka mengapa masih memperbolehkannya? Perasaan rindu akan kampung halaman, sayang sesama saudara atau ingin bebas dari penjajahan adalah sikap yang sesuai fitrah tapi bukan berarti itu adalah nasionalisme. Nasionalisme itu lahir karena adanya persamaan wilayah tempat tinggal (negara), perasaan sama terjajah atau lahir dari bangsa yang sama bukan lahir dari aqidah yang sama.&lt;br /&gt;Ikatan yang dapat mempersatukan umat Islam bukanlah nasionalisme melainkan ikatan aqidah, yakni Islam. Meskipun nasionalisme dapat membangun sebuah masyarakat sehingga mempunyai perasaan yang sama tetapi nasionalisme tidak dapat mempersatukan umat Islam. Masyarakat Islam terbangun karena adanya perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama yakni   perasaan Islam, pemikiran Islam dan peraturan Islam yang lahir dari ideologi Islam.ii&lt;br /&gt;Nasionalisme hanyalah perasaan sesaat yang muncul ketika ada momen-momen tertentu saja. Misalnya ketika adanya Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dimana setiap orang ramai dengan opini nasionalisme. Nasionalisme pun lahir ketika suatu bangsa terjajah maka nasionalisme itu lahir. Dulu ketika Indonesia masih terjajah maka nasionalisme waktu itu begitu tinggi, tetapi sekarang perasaan itu sudah hilang. Silakan tanya pada setiap orang seberapa besar nasionalisme mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasionalisme Tidak Dapat Menmpersatukan Umat Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu nasionalisme tidak dapat dijadikan alat untuk mempersatukan umat Islam meskipun mereka satu bangsa dan negara. Malahan karena adanya nasionalisme inilah umat ini tidak dapat bersatu. Daulah Khilafah Islamiyah di Turki runtuh (Tepatnya 3 maret 1924) karena masing-masing dari umat Islam menonjolkan nasionalisme mereka. Arab memisahkan diri menjadi negara Arab Saudi. Iran, Irak, Bahrain, India dll. menyatakan diri keluar dari Daulah Khilafah Islamiyah. Mereka beranggpan bahwa Khilafah Turki Ustmani telah merampas kedaulatan mereka sebagai bangsa Arab yang berbeda dengan bangsa Turki.iii Kafir penjajah seperti Inggris, Perancis dan Italy menghembuskan nasionalisme pada umat Islam waktu itu melalui agen-agennya seakan-akan perasaan itu adalah lebih penting dibandingkan persatuan umat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lenyapkan Bendera Negaramu!&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap negara bekas Daulah Khilafah membanggakan bendera mereka masing-masing. Bendera merupakan produk (madani) dari sebuah peradaban (hadloroh). Nasionalisme merupakan hadloroh yang diharamkan oleh Rosululloh maka secara otomatis bendera masing-masing negara pun haram untuk dibanggakan oleh kaum Muslimin. Seharusnya hanya ada satu bendera yang memayungi mereka yakni Ar-Roya dan Al-Liwa. Kedua bendera ini yang selalu digunakan Rosululloh dalam berbagai kegiatan kenegaraan.&lt;br /&gt;Ketika masih sekolah saya adalah anggota Pramuka dan Paskibra yang sangat mengerti bagaimana nasionalisme ada dalam diri. Sering saya menangis ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersamaan dengan dikibarkannya bendera Merah Putih. Saya fikir perasaan terharu itu lahir karena nasionalisme yang ada pada diri saya. Tapi saya terkesan tidak peduli ketika umat Islam di Palestina, Chechnya dll. dijajah oleh kaum kafir. Sekarang saya menyadari bahwa ternyata nasionalisme itu hanyalah perasaan yang datang bukan karena ikatan aqidah.&lt;br /&gt;Dulu saya masih merasa bangga ketika menempelkan pin bendera Palestina di jaket atau di tas. Sekarang saya memahami bahwa ternyata bukan itu yang menjadi persoalannya. Kita harus menghapus bendera Pelestina yang menempel di dinding kamar kita dan menggantinya dengan Ar-roya dan Al-liwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasionalisme Hanya akan Melanggengkan Penjajahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menginginkan Palestina merdeka dengan bendera Palestina itu sama saja kita mendukung penjajahan Israel di tanah Palestina. Memang itulah yang diinginkan oleh kaum kafir. Mereka tidak ingin umat Islam besatu dalam satu bendera yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Saat ini umat Islam terjebak dalam nasionalisme yang seakan-akan hal yang agung. Padahal sebenarnya kita sudah masuk ke dalam lubang biawak! Umat Islam terlalu sibuk dengan urusan bangsanya sendiri dan lupa akan persoalan umat Islam di negeri lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hati-hati Partai Pengusung Nasionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kafir sengaja membentuk partai-partai yang menjadikan nasionalisme sebagai jargon politik mereka. Opini itu untuk membawa umat umat Islam supaya lupa akan persatuan umat melalui persatuan iideologi Islam. Kalau ada partai Islam yang menjadikan nasionalisme sebagai jargon politik mereka sama saja dengan partai nasionalis sekuler! Waspadai setiap orang munafik yang masuk ke dalam tubuh umat Islam karena mereka akan mengahancurkan umat dari dalam. Mereka seperti ‘musuh dalam selimut’ atau ‘menggunting dalam lipatan’ sebagaimana Mustafa Kemal menghancurkan Daulah Islam langsung ke jantung umat Islam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7548202462377195973?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7548202462377195973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7548202462377195973' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7548202462377195973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7548202462377195973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/08/ancaman-nasionalisme-terhadap-persatuan.html' title='Ancaman Nasionalisme terhadap Persatuan Umat Islam'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SK39v0t7zRI/AAAAAAAAAIc/l_3wsJNKON0/s72-c/bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-4629705199068125695</id><published>2008-08-19T00:16:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T00:28:18.285-07:00</updated><title type='text'>Bahaya Dibalik Isu “Save Our Palestine”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKp0zTiax2I/AAAAAAAAAIU/vmYQj_3_ehs/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKp0zTiax2I/AAAAAAAAAIU/vmYQj_3_ehs/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236125941538408290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendahuluan: Apa Kabar Palestina?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Palestina, sebuah negara dalam negara. Mungkin ungkapan itulah yang tepat disematkan kepada Palestina yang telah mengalami penjajahan Isreal sejak negara itu didirikan tahun 14 Mei 1948.  Berbagai bentuk penindasan dilakukan kepada rakyat Palestina yang telah mendiami wilayah itu sejak ratusan tahun yang lalu. Sejarah panjang Palestina selalu diwarnai dengan berbagai konflik yang telah banyak menelan korban. Sejak Bani Israel sampai di wilayah itu bersama Nabi Musa, mereka adalah tipe kaum yang suka membangkang kepada Nabinya.&lt;br /&gt;Masyarakat Muslim, Kristen dan Yahudi sudah hidup berdampingan dengan damai sejak Umar bin Khottob memasuki wilayah itu tahun 636 M.i Bahkan ketika Perang Salib berkecamuk, penduduk negeri itu bahu-membahu untuk membela wilayah mereka dari serangan kaum Tentara Salib walaupun seorang diantara mereka ada orang Kristen. Toleransi yang tinggi yang telah dibangun Khilafah Islamiyyah di sana menjadikan negeri itu masyarakat yang unik. Bentuk masyarakat Islami yang ada disana membuat setiap orang merasa aman dan tentram hidup berdampingan dengan sesama penduduk walaupun berbeda agama.&lt;br /&gt;Politik pragmatisme kaum Zionis menjadikan semua itu hancur. Perdamaian yang telah terjadi sejak usai Perang Salib berubah menjadi konflik yang penuh kekejian. Negara Israel yang diprakarsai oleh Theodore Herzl menjadikan rakyat Palestina sebagai ‘rakyat tanpa tanah’. Cita-cita mereka untuk mendirikan Israel Raya adalah sudah ada sejak Konferensi Zioneisme di Basel, Swiss.ii Rencana itu tertuang dalm sebuah dokumen yang sangat terkenal yakni Protokol of Zion no 9. Disana disebutkan bahwa kaum Zionis harus mendirikan sebuah negara Yahudi untuk dapat menguasai dunia terutama wilayah Timur Tangah.iii&lt;br /&gt;Israel, bukanlah negara agama Yahudi seperti yang diklaim di Protokol of Zion atau seperti yang sering diberitakan oleh Media selama ini. Israel adalah negara sekuler yang secara sengaja dibentuk dengan klaim negara Yahudi supaya orang Yahudi di dunia bersimpati kepada mereka dan mendukung ‘perjuangan’ mereka.iv Simpati itu pun datang dari Amerika sebagai teman setia Israel. Segala tindak-tanduk Israel selalu didukung Amerika dengan alasan Israel punya hak untuk menjaga negaranya dari segala bentuk penyerangan.v&lt;br /&gt;Israel menjajah Palestina tidak hanya dalam bentuk penyerangan fisik dengan membunuh setiap orang Palestina tanpa memandang apakah dia seorang pria, wanita, tua, muda, bahkan anak-anak. Mereka sering mengadu domba diantara sesama faksi yang ada di sana. Politik adu domba itu ternyata membuahkan ‘hasil yang gemilang’. Faksi Fatah dan Hamas bermusuhan secara nyata. Mereka saling serang dan saling mengklaim wilayah dudukan mereka. Hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah menguasai Tepi Barat akibat diantara mereka tidak mau bersatu dan saling mengedepankan egoisme golongan.vi Sungguh taktik yang keji!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OIC (baca: O...I See), Hanya Bisa Melihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkecamuknya perang di Tanah para Rosul itu mengundang simpati dari berbagai penjuru dunia. Organisasi Konferensi Islam (OKI) pun dibentuk dalam rangka menidaklanjuti kekejian Israel atas pembakaran Mesjidil Aqsho.vii Berbagai negara kaum Muslimin (yang berpenduduk Muslim) mengeluarkan kecaman kepada Israel sebagai wujud simpati mereka. Bahkan mereka tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel sebagai penegasan rasa simpati mereka.viii&lt;br /&gt;Namun,  rasa simpati itu tidak memberikan efek yang berarti bagi kondisi Palestina. OKI hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya pemimpin negara untuk membicarakan isu-isu ekonomi dan keamanan. Konferensi demi konferensi telah digelar, tetapi isu memerdekakan Palestina tidak lagi menjadi isu utama. Isu di konferensi itu digiring untuk melupakan cita-cita mereka menjadi organisasi yang dikendalikan para Kapitalis demi kepentingan mereka. Sepertinya tidak ada keinginan diantara mereka untuk mengerahkan pasukannya dalam rangka membantu rakyat Palestina mengusir penjajah Israel.&lt;br /&gt;Ketika rakyat Palestina dibombardir habis-habisan, OKI hanya bisa melihat apa yang sedang terjadi tanpa bisa berbuat apa. Sikap ini sepertinya sikap yang disengaja karena adanya tekanan Amerika terhadap penguasa kaum Muslimin. Sering kepanjangan OIC dipelesetkan menjadi O....I see (o, saya -hanya bisa- melihat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Munculnya Isu ‘Save Our Palestine’, Hanya Simpati Tanpa Diteliti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasa simpati kaum Muslimin tidak hanya dengan dibentuknya OKI tetapi banyak  diantara mereka mendirikan lembaga kajian dan solidaritas untuk Palestina. Berbagai kampanye anti-Israel diserukan bahkan mereka rela mengeluarkan harta untuk mendukung perjuangan rakyat di Palestina. Sering terjadi aksi demontrasi untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dengan membentangkan bendera Palestina sebagai bukti dukungan mereka.&lt;br /&gt;Sering kita jumpai kata-kata ‘Save Our Palestine’ atau semacamnya memenuhi media cetak, poster, spanduk bahkan jaket dengan latar belakang bendera Palestina. Isu ini menjamur di kalangan aktifis pergerakan yang berusaha mencari penyelesaian problem Palestina. Semangat yang tinggi mendorong mereka melakukan apa saja supaya cita-citanya dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, semangat yang tinggi tidak cukup untuk menjadikan Palestina sebuah negara merdeka. Rasa simpati yang ada pada diri memang harus diberi apresiasi. Tetapi rasa simpati saja tidak cukup untuk mengglang kekuatan kaum Muslimin. Harus ada upaya maksimal yang lebih syar’i untuk menyelesaikan urusan kaum Muslimin yang tidak kunnjung selesasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalah Kaum Muslimin Bukan Hanya Palestina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu, isu ‘save our Palestine’ ini menjadi isu global kaum Muslimin. Namun, secara alami isu ini membuat kaum Muslimin lupa akan penderitaan kaum Muslimin di negara lain. Penulis jarang melihat dan membaca isu penderitaan kaum Muslimin di Irak lebih kuat daripada isu Palestina. Segelintir kaum Muslimin lupa bahwa banyak saudara kita yang sama-sama menderita karena kekejian orang kafir. &lt;br /&gt;Kaum Muslim di Xinjiang sudah lama mendapat tekanan dari Pemerintah Cina. Pemerintah India selalu menjadikan Kashmir sebagai lahan jajahan mereka. Somalia baru saja dibombardir oleh Amerika dengan alasan menstabilkan keamanan Afrika. Pattani berdarah karena Pemerintah Thailand menganggap mereka kaum sparatis. Mindanau baru saja digempur oleh Tentara Filipina. Kaum Muslimin di Sudan Selatan diadu domba oleh Amerika untuk merebut ladang minyak yang ada disana.ix Masih banyak saudara kita di Chechnya yang belum hidup dengan normal karena tekanan tentara Serbia. Dan masih banyak lagi negeri kaum Muslimin yang tidak bisa ibadah dengan tenang karena kejinya penjajahan kaum kafir.&lt;br /&gt;Selain serangan dalam bentuk fisik, kaum Muslimin pun dijajah secara ekonomi, politik dan budaya. Jika kita mencari, tidak ada negeri kaum Muslimin yang benar-benar merdeka, termasuk Iran. Segala kebijakan ekonomi negeri Muslim selalu atas tekanan para Kapitalis asing. Kekayaan alam yang berlimpah tidak menjadikan negeri ini sejahtera karena telah dicuri para kapitalis.&lt;br /&gt;Kondisi politik negeri kaum Muslim tidak terlepas dari rencana makar kafir penjajah. Apabila kebijakan politik tidak selaras dengan kebijakan Kapitalis maka sudah dapat dipastikan Pemerintah negeri itu tidak bisa tidur nyenyak. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan organisasi semacamnya menjadi setir bagi kondisi politik kaum Muslimin. Masuknya negeri kaum Muslimin ke dalam organisasi tersebut sama saja masuk ke dalam lubang buaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jangan Terkecoh! Palestina Merdeka bukan Solusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ingat, kita jangan melupakan kondisi di atas hanya karena terkonsentrasi pada isu untuk membela kaum Muslimin di Palestina. Palestina hanyalah sebagian masalah kaum Muslimin yang begitu banyak. Ketika kita terkonsentrasi pada isu itu maka kita digiring untuk melupakan masalah yang utama. Seakan-akan kemerdekaan Palestina adalah segala-galanya mengalahkan pentingnya kaum Muslimin bersatu dalam satu naungan yakni Daulah Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;Sebagian kaum Muslimin berpendapat bahwa Palestina harus merdeka dalam satu negara dibawah satu bendera, Palestina.  Jika isu itu yang dimunculkan maka sama saja kita melanggengkan penjajahan Israel di Palestina. Nasionalisme yang ada dalam benak kaum Muslimin adalah boomerang yang telah menjadikan mereka tidak bersatu. Isu nasionalisme inilah yang telah menghancurkan Khilafah Islamiyah menjadi berkeping-keping.x&lt;br /&gt;Kita jangan sampai terkecoh oleh isu-isu kafir Penjajah dalam penyelesaian masalah Palestina. Amerika dan PBB sering menyarankan perdamaian antara Palestina dan Israel padahal sebenarnya untuk melanggengkan penjajahan mereka. ‘Perjanjian damai’ itu menjadikan intifadhoh terhenti dan Israel berkesempatan menyusun kekuatan mereka. Bahkan, dengan perjanjian damai itu semakin memperjelas siapa yang mendukung kafir Penjajah. Faktanya, Mahmud Abbas dan Salam Fayad (Fatah) lebih diakui Amerika dkk. dibandingkan Ismail Haniya dan Kholid Messal (Hamas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khilafah, Solusi Fundamental&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk merobohkan  Daulah Khilafah dan mendirikan kekuatan Zionis di Palestina adalah dua kejadian yang saling berkait. Persoalan Palestina tidak lebih merupakan usaha mereka untuk memalingkan benak kaum Muslimin dari eksistensi Daulah Khilfah dan pentingnya keberadaan Khilafah. Ini berbahaya! Isu ini senantiasa memalingkan benak kaum Muslimin dari aktivitas mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia serta menjadikan Daulah Islam sebagai pusat peradaban dunia.xi&lt;br /&gt;Kaum Muslimin  disibukan dengan persoalan Palestina seakan-akan itu adalah persoalan utama. Padahal itu hanyalah persoalan cabang yang dikemas oleh orang kafir dan munafiq sebagai persoalan utama. Dengan begitu, kita lupa pada persoalan utama  kaum Muslimin dan menghabiskan energi kita untuk menyelesaikan masalah cabang tersebut. Jika kita menyadari persoalan utama kita adalah bagaimana mewujudkan Islam dalam kehidupan  bernegara, dan menyebarluaskan  risalah Islam ke seluruh penjuru dunia maka disatu sisi umat akan dapat menyelesaikan masalah utamanya. Disisi lain, umat akan mampu menggagas persoalan Plaestina dengan sudut pandang Islam, sehingga kita mampu menyelesaikan seluruh persolan dengan solusi Islami.&lt;br /&gt;Seharusnya kampanye-kampanye yang dilakukan oleh partai, harokah atau lembaga solidaritas adalah kampanye untuk menegakkan kembali Khilafah. Apabila media seperti radio, TV, koran dan majalah Islami disibukan dengan persoalan Khilafah maka kita tidak perlu menunggu lama dan berlarut-larut untuk menyelesaikan masalah Palestina karena Daulah Khilafah pun akan segera tegak.&lt;br /&gt;Orang kafir saja tahu kalau Khilafah-lah yang bisa menyelesaikan masalah Palestina. Makanya mereka berusaha mengalihkan isu Khilafah kepada ‘pentingnya sebuah perdamaian di Palestina’ yang cenderung memalingkan kaum Muslim dari penyelesaian masalah utama yang seharusnya. Perhatikanlah orang di sekitar kita, di dalam organisasi, harokah, ormas, atau partai yang kita jadikan sarana dakwah, bisa jadi ada orang-orang munafiq yang sengaja membuat kita lupa akan persoalan utama kaum Muslimin!&lt;br /&gt;Untuk itu marilah kita mengkonsentrasikan diri mengkampanyekan Khilafah karena Khilafah-lah yang dapat menyelesaikan masalah Palestina. Daulah Khilafah yang akan mengkoordinir umat Islam untuk jihad melawan Israel, menghimpun kekuatan fisik, persenjataan, logistik dan memimpin peperangan dengan Israel dan pendukungnya Amerika  dkk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-4629705199068125695?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/4629705199068125695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=4629705199068125695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4629705199068125695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4629705199068125695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/08/bahaya-dibalik-isu-save-our-palestine.html' title='Bahaya Dibalik Isu “Save Our Palestine”'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKp0zTiax2I/AAAAAAAAAIU/vmYQj_3_ehs/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-723393491096446896</id><published>2008-08-14T09:03:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T09:06:05.630-07:00</updated><title type='text'>Menyambut Mahasiswa Baru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKRXz3QHSlI/AAAAAAAAAHw/PCTfO15kaNg/s1600-h/mahasiswa+baru.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKRXz3QHSlI/AAAAAAAAAHw/PCTfO15kaNg/s400/mahasiswa+baru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234405215427840594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun akademik baru kali ini Mahasiswa Baru disambut dengan naiknya biaya kuliah.  Naiknya biaya kuliah ini tidak hanya terjadi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tetapi juga terjadi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Meskipun banyak calon mahasiswa yang berhasrat masuk PTN namun mereka dikecewakan oleh tingginya uang masuk kuliah.&lt;br /&gt;Kondisi ini semakin membuat pusing para orang tua yang akan memasukan anaknya ke perguruan tinggi. Niat mereka untuk memberikan pendidikan anaknya semakin surut karena kecilnya penghasilan. Upah orang tua yang diterima tidak sebanding dengan pengeluaran mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Dengan biaya  pendidikan yang tinggi ada sebagian masyarakat yang enggan mengkuliahkan anaknya. Mereka beranggapan bahwa pendidikan tinggi itu hanya untuk orang-orang kaya saja. Bagi masyarakat yang kurang mampu sepertinya ‘haram’ untuk kuliah.&lt;br /&gt;Apabila mencermati kondisi ini maka wajar kalau kualitas manusia Indonesia masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan menjadi pemicu utama kondisi ini. Kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan semakin sempit. Sehingga banyak masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghadapi tantangan kehidupan.&lt;br /&gt;Dengan melihat kondisi ini, ternyata anggaran pendidikan yang selalu digemborkan Pemerintah hanyalah sebuah janji. Jauh panggang dari api. Saat ini pendidikan hanyalah menjadi komoditas perdagangan. Para penyelenggara pendidikan senantiasa berlomba untuk meraih keuntungan, walaupun pelayanan yang diberikan tidak optimal. Padahal pendidikan adalah salah satu hak rakyat yang harus diberikan secara murah (bahkan gratis) dalam rangka mencerdaskan kahidupan bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-723393491096446896?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/723393491096446896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=723393491096446896' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/723393491096446896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/723393491096446896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/08/menyambut-mahasiswa-baru.html' title='Menyambut Mahasiswa Baru'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKRXz3QHSlI/AAAAAAAAAHw/PCTfO15kaNg/s72-c/mahasiswa+baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-9005016545194964834</id><published>2008-08-14T08:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T09:01:34.216-07:00</updated><title type='text'>Parpol Ideologis sebagai Pengayom Umat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKRWyRu5jYI/AAAAAAAAAHo/yRA-wLpnBCo/s1600-h/partai.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKRWyRu5jYI/AAAAAAAAAHo/yRA-wLpnBCo/s400/partai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234404088664919426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan partai politik di tengah-tengah umat merupakan suatu keniscayaan. Setiap elemen umat senantiasa berinisiatif untuk melakukan dakwah dengan berbagai sarana, salah satunya dengan mendirikan partai yang berazaskan Islam. Keberadaan partai ini sebagai jawaban terhadap kondisi umat yang terus-menerus mengalami krisis. Secara alami, partai politik ini bermunculan sehingga begitu banyak partai yang mengatasnamakan Islam sebagai cita-cita perjuangannya. &lt;br /&gt;Partai politik (parpol) seyogyanya harus menjadi pengayom umat. Saat ini umat mandambakan golongan yang akan membawa mereka kearah perubahan. Umat merasa bingung ketika dihadapkan pada problematika yang membawa mereka pada kondisi yang semakin sulit akibat krisis multidimensi yang berkepanjangan. Kondisi kebingungan ini harus dimanfaatkan oleh parpol dalam rangka memberikan pemahaman kepada umat tentang solusi untuk menyelesaikan krisis yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;Konsep perubahan yang disampaikan oleh parpol kepada umat adalah perubahan seluruh elemen umat. Untuk berubah, umat tidak harus masuk ke dalam parpol tersebut tetapi cukup mendukung perjuangan parpol tersebut. Perubahan yang terjadi adalah perubahan bersama parpol dan orang di luar parpol. Pemikian ini berlandaskan pada pengertian bahwa masyarakat Islam adalah satu-kesatuan. Umat Islam bersatu secara integral sehingga perubahan satu elemen umat harus bersama-sama dengan elemen umat yang lain.&lt;br /&gt;Perubahan umat tersebut adalah perubahan yang dilandasi oleh ideologi. Perubahan ideologi merupakan perubahan yang mendasar dengan menyentuh akar masalah krisis yang terjadi. Dalam sejarahnya, tidak ada perubahan masyarakat dalam suatu Negara tanpa didasari ideologi. Revolusi Bolshevick di Rusia, Revolusi Prancis bahkan kemerdekaan negeri ini pun dilandasi oleh ideologi.&lt;br /&gt;Maka dari itu, parpol sebagai pengayom umat harus memiliki ideologi yang tegas dan jelas yakni ideologi Islam. Ideologi yang dimiliki oleh parpol senantiasa disampaikan kepada umat sehingga secara alami umat pun akan memiliki ideologi yang sama. Dengan begitu, umat pun paham akan esensi sebuah perubahan. Apabila umat sudah memiliki ideologi Islam dan mereka faham konsekuensi ideologi yang mereka miliki maka sudah dapat dipastikan umat tidak akan sulit diajak untuk melaksanakan syariat Islam.&lt;br /&gt;Parpol Islam yang sekarang sudah ada jangan sampai kehilangan ideologinya. Apabila seperti itu, maka parpol akan mengalami kesulitan untuk memahamkan umat tentang konsekuensi ideologi yang mereka miliki. Meskipun umat mendukung parpol Islam tetapi umat akan sulit diajak untuk melaksanakan syariat Islam karena mereka mendukung parpol bukan karena ideologinya tetapi lebih karena parpol tersebut terlihat bersih, jujur dan digawangi oleh kaum muda. Parpol Islam seperti itu lupa untuk memahamkan umat tentang cita-cita parpol yang didambakan. &lt;br /&gt;Pengaruh pemikiran asing menjadi pemicu mengendurnya ideologi yang dimiliki oleh parpol Islam. Mereka tidak dapat membedakan antara pemikiran yang berasal dari Islam dengan pemikiran Barat yang bertentangan dengan Islam. Pemikiran ini  menggiring partai Islam untuk melupakan cita-cita mereka yang selama ini mereka teriakan. Mereka terjebak ke dalam lubang kesesatan sehingga membingungkan umat. Umat sudah tidak bisa membedakan antara parpol Islam dengan parpol sekuler karena pada prakteknya parpol Islam ini tidak membawa opini Islam. Mereka lebih senang meneriakan demokrasi, kebebasan dan keterbukaan daripada meneriakan syariah dan Khilafah dengan alasan untuk meraih dukungan umat. &lt;br /&gt;Saya mengajak kepada seluruh parpol Islam yang ada untuk kembali kepada khittohnya yakni menegakan Islam dengan melaksanakan syariatnya. Sampaikanlah Islam apa adanya jangan ditutupi dengan alasan khawatir umat tidak dapat memahaminya. Yakinlah Alloh SWT menolong kita sebagaimana Dia menolong Rasulloh SAW ketika menyampaikan  Islam di tengah masyarakat jahiliyah. Saat itu Islam terasa sangat asing tetapi bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat Arab. Sekarang Islam bukanlah hal yang asing, orang kafir saja tahu kalau Islam itu ideologi yang memiliki aturan hidup. Ingat, pemikiran _khawatir tidak diterima oleh umat_ itu adalah gangguan syetan yang sudah menjadi boomerang! Jadi, mari jadikan parpol Islam sebagai garda terdepan dalam dakwah Islam yang ideologis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garut, 11 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-9005016545194964834?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/9005016545194964834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=9005016545194964834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9005016545194964834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/9005016545194964834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/08/parpol-ideologis-sebagai-pengayom-umat.html' title='Parpol Ideologis sebagai Pengayom Umat'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKRWyRu5jYI/AAAAAAAAAHo/yRA-wLpnBCo/s72-c/partai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-2799557315987956484</id><published>2008-07-26T03:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T07:40:17.970-07:00</updated><title type='text'>Pramuka, Apa Kabar?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIsAqu_twBI/AAAAAAAAAGs/gDJfMBw5aH4/s1600-h/Pramuka%5D.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIsAqu_twBI/AAAAAAAAAGs/gDJfMBw5aH4/s400/Pramuka%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227272526663368722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memperingati HUT Pramuka 14 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu Pramuka atau Kepanduan sudah menjadi tren masyarakat dalam rangka membina generasi muda yang tangguh dan bermoral baik. Setiap pembinaan yang dilakukan bertujuan untuk membentuk manusia yang tangguh dan mempunyai jiwa yang kuat. Konsepnya pun dibuat sedemikian rupa agar peserta didik terangsang untuk memperkaya pengetahuan mereka di luar jam belajar sekolah.&lt;br /&gt;Pramuka merupakan wadah sosial yang mempunyai ciri khas di tengah-tengah kemajuan zaman. Kondisi sosial saat ini lebih cenderung mambawa anak muda melakukan hal-hal yang negatif dan sia-sia. Pramuka bisa menjadi tameng meskpiun dengan lingkup yang kecil. Perubahan cara berpikir manusia ikut membawa perubahan sosial masyarakat. Sikap hedonistis dan apatis menjadi kecendrungan masyarakat saat ini. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan lingkungannya bahkan selalu menyalahkan pihak lain ketika menghadapi masalah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepedulian Alumni Sudah Berkurang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang, dengan pemupukan rasa kepedulian sejak dini maka diharapkan para alumni Pramuka bisa melebur dengan masyarakat. Mereka bisa membawa masyarakat menuju ke area yang lebih  baik. Namun yang terjadi malah sebaliknya dimana rasa kepedulian pun mulai berkurang. Kesibukan yang dialami menjadi problem tersendiri bagi para alumni.&lt;br /&gt;Seharusnya ada transfor informasi dari senior kepada para juniornya. Dengan bagitu diharapkan Pramuka dapat membuka wacana berpikir para anggotanya. Regenerasi yang terjadi terasa lambat karena dalam Pramuka sendiri tidak wadah untuk itu. Apalagi dalam Pramuka sendiri kekurangan media untuk menyalurkan informasi kondisi Pramuka terdahulu kepada para penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pramuka Sulit Dijadikan Tempat untuk Berekspresi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ini anak muda membutuhkan media untuk mengekspresikan diri mereka. Untuk itu mereka mencari wadah yang menampung aspirasinya. Musik, olahraga dan berbagai organisasi digeluti remaja dalam rangka mencari jati diri mereka. Dengan begitu, mereka merasa diakui oleh lingkungannya. Sudah menjadi tuntutan zaman ketika mereka harus mempunyai kelebihan dibanding yang lain sebagai ciri individu yang khas.&lt;br /&gt;Hingga saat ini Pramuka tidak bisa menjadi tempat berkesprresi bagi sebagian besar remaja di Indonesia. Sifat Pramuka yang syarat dengan aturan menjadi salah satu alasan kenapa remaja tidak memilih Pramuka sebagai organisasi yang mereka masuki. Sifat remaja yang cenderung bebas tanpa aturan mengubah image Pramuka menjadi organisasi yang serem dan penuh dengan doktrinasi.&lt;br /&gt;Budaya senioritas yanga ada dalam Pramuka tidak disukai oleh remaja saat ini. Apalagi opini negatif tentang senioritas dalam Pramuka sudah merubah perspektif remaja. Mereka tidak suka hal berbau-bau ‘seragam’ yang sudah menjadi ciri khas Pramuka sejak dulu. Dengan seragam yang dikenakan terkesan ada kekakuan dalam proses pendidikan Pramuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Opini Global Lebih Kuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Opini global tentang modernasi ternyata lebih kuat dibandingkan dengan pola pendidikan dalam Pramuka itu sendiri. Setiap orang diajak untuk berpola hidup serba gampang dan materialistik. Pendidikan dalam Pramuka yang mengajarkan kemandirian sepertinya kalah bersaing. Orang sudah enggan untuk melakukan kegiatan di alam terbuka. Dimana mereka pun tidak mau menikmati kondisi serba sulit yang biasa dialami oleh para anggota Pramuka. &lt;br /&gt;Pramuka terkesan kuno karena dianggap tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Kegiatan Pramuka yang cenderung di alam terbuka dan penuh kesederhanaan sudah mulai tidak diminati remaja sekarang. Mereka lebih suka main videogame atau bermain musik di sela waktu kosong mereka. Hanya sebagaian kecil remaja yang bisa menikmati suasana alam terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komoditas Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis mohon maaf ketika mengatakan bahwa Pramuka sudah menjadi komoditas politik. Banyak orang  yang bersedia aktif di Pramuka karena banyak para pejabat negara yang terlibat dengannya. Bahkan dalam banyak kegiatan Pramuka, Pemerintah rela mengeluarkan dana jutaan rupiah ketika ada kontilasi politik di dalamnya.&lt;br /&gt;Untuk itu, para anggota pramuka sudah harus bisa mengakomodir hal ini. Jangan sampai banyak pihak yang justru menjadikan Pramuka kendaraan politik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan politik. Dengan begitu, akan hilanglah esensi dari Pramuka itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya para anggota Pramuka mengkaji kembali esensi dari Pramuka itu sendiri. Setiap kegiatan yag dilakukan harus bisa mencetak kader yang siap merubah kondisi masyarakat dengan memimpin mereka ke arah yang  baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-2799557315987956484?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/2799557315987956484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=2799557315987956484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2799557315987956484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/2799557315987956484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/pramuka-apa-kabar.html' title='Pramuka, Apa Kabar?'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIsAqu_twBI/AAAAAAAAAGs/gDJfMBw5aH4/s72-c/Pramuka%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-3451487338615433788</id><published>2008-07-26T03:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T07:43:26.899-07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Ibu Menteri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIr_3TkDjSI/AAAAAAAAAGk/s5znuTadEX0/s1600-h/WTO.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIr_3TkDjSI/AAAAAAAAAGk/s5znuTadEX0/s400/WTO.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227271643126271266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Mencermati Pertemuan WTO di Jenewa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Kepada Yth. Menteri Perdagangan, Ibu Marie Elka Pangestu yang mungkin saat ini sedang berada di Swiss atau sudah kembali ke Indonesia. Surat yag saya tulis hanyalah sekedar penyampaian aspirasi saya sebagai rakyat Indonesia. Ketika saya mencermati berita di Media Indonesia maka saya tertarik untuk menulis surat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Sudah banyak pertemuan dihadiri oleh perwakilan Indonesia di WTO (World Trade Organization). Pertemuan yang dilakukan adalah wujud dari pergaulan Indonesia di kancah internasional. Sekarang Indonesia menjadi kooordinator G-33 sebagai wadah asprasi negara-negara berkambang untuk memperkuat daya tawar mereka di pertemuan WTO kali ini. Saya berharap dengan wadah ini Indonesia mempunyai daya tawar yang kuat di kancah perdagangan dunia. Karena selama ini Indonesia hanya jadi negara ‘sapi perahan’ negara-negara maju. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Apabila dicermati, WTO hanyalah sebuah bentuk organisasi jebakan untuk mengekang negara-negara miskin. Setiap anggotanya yang mempunyai sedikit modal dikendalikan sistem ekonominya. Negara-negara miskin hanya bisa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;manggut-manggut&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt; kepada negara-negara kaya. Meskipun namanya ‘perdagangan bebas’ tetapi tetap tidak semua negara mempunyai kebebasan dalam melakukan transaksi perdagangan dunia. Misalnya, ketika saat ini G-33 mengusulkan negara-negara maju untuk mengurangi subsidi produk pertaniannya, mereka tidak mau menguranginya. Akibatnya, harga produk pertanian sebagai komoditas unggulan negara berekembang tidak mudah bersaing di pasar Internasional. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Perlu diketahi, banwa ternyta bagaimanapun negara-negara G-33 tidak akan pernah peunya daya tawar yang kuat dalam sistem pedagangan dunia. Nagara-nagara maju tetap saja akan memegang kendali karena mereka yang mempunyai inisiatif mendikrikan WTO. Dengan begitu, mereka sudah punya rencana untuk menggunakan setiap kesepakatan demi kepentingan mereka. Negara-negara berkembang akan mengalami kesulitan dalam memasarkan produk dalam negerinya. Harga komoditas dunia akan terus direkayasa oleh Negara maju agar keuntungan yang besar dapat mereka peroleh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Suatu keanehan, ketika Indonesia ditekan oleh IMF untuk mengurangi jumlah subsidi dalam negeri negara-negara maju malah mempertahankan subsidi mereka. Dengan begitu, harga komoditas yang mereka ekspor lebih murah. Pasar dunia akan memilih harga yang lebih murah dibandingkan harga yang mahal. Produk mereka pun lebih leluasa masuk ke banyak negara karena negara tersebut memilih produk yang lebih murah. Hal ini sangat kentara pada komoditas jagung dan kedelai yang telah membanjiri pasar Indonesia. sampai-sampai untuk membuat tahu pun kedelai sebagai bahannya harus impor dari Amerika.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Indonesia harus mengkaji kembali keikutsertaannya di WTO. WTO hanyalah bentuk laian dari penjajahan ekonomi. Kalau kondisinya terus seperti ini, maka lambat laun negeri ini akan menjadi negara paling miskin. Tidak akan ada barang yang dapt dijual ke luar negeri untuk memperoleh pendapatan karena kalah bersaing dengan negara lain. Jadi, keadilan perdagangan yang digemborkan oleh Ibu Menteri sepertinya tidak akan pernah terjadi. (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;Media Indonesia, 27/7/2008&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-3451487338615433788?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/3451487338615433788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=3451487338615433788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3451487338615433788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/3451487338615433788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/surat-untuk-ibu-menteri.html' title='Surat untuk Ibu Menteri'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIr_3TkDjSI/AAAAAAAAAGk/s5znuTadEX0/s72-c/WTO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-1900552447104828818</id><published>2008-07-22T07:50:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T07:54:09.659-07:00</updated><title type='text'>Kekeringan: Sebuah Peringatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIX0LwCMkrI/AAAAAAAAAGU/PfCDegXdC8k/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIX0LwCMkrI/AAAAAAAAAGU/PfCDegXdC8k/s400/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225851425343181490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sudah lama hujan tidak mengguyur beberapa daerah yang saat ini dilanda kekeringan. sungai dan waduk yang sedianya berfungsi memasok air ke sawah dan rumah penduduk sudah mengalami kekeringan. Bahkan ada sebagian penduduk yang mengambil air untuk keperluan rumah tangga  dari air limbah rumah tangga mereka sendiri. Sumur-sumur yang mereka miliki sudah tidak tidak menyediakan air bersih. Di Rancaekek, Kabuapaten Bandung penduduk terpakasa mengairi sawah mereka dengan air limbah pabrik yang mengalir di selokan. (Metrotv, 20/7/2008).&lt;br /&gt;Bnayak sawah yang mengering karena tidak teraliri air sehingga para petani terancam gagal panen. ada yang menyiasatinya dengan membangun sumur pompa tapi ternyta tidak menjadi solusi yang baik. Sumber air di dalam tanah pun kering. apalagi pompa yang dipakai menggunakan solar yang hargnya pun mahal.&lt;br /&gt;akibat kekeringan ini maka produksi padi nasional otomatis turun. meskipun Pemerintah tidak merasa khawatir dengan stok beras nasional, tapi pada kenyataannya di beberapa daerah mulai mangalami kelangkaan beras. Menurunnya stok beras ini turut mempengaruhi kondisi pangan nasional.&lt;br /&gt;Sebagai manusia kita harus banyak merenungi bahwa ternyta kekeringan yang terjadi adalah sebagai perinngatan dari Alloh SWT. Naiknya suhu bumi menjadikan musim tidak dapat diprediksi. Debit air menurun drastis seiring menyempitnya areal hutan sebagai penyangga kebutuhan air di alam. Manusia yang serakah terus melakukan pembalakan hutan secara liar.&lt;br /&gt;Untuk itu harus ada upaya bersama diantara kita untuk menajga kondisi alam agar tetap sesuai dengan siklusnya. Selain harus dilakukan reboisasi hutan secara besar-besaran, kita bisa menanam pohon di pekarangan rumah kita. jaga saluran air yang ada jangan sampai mampet. Gunakan air seperlunya sebagai cara kita menghemat air di alam. Jangan buang sampah ke sungai, selokan atau danau yang menyediakan air.&lt;br /&gt;so, selain harus ada kontrol dari pemerintah dalam mengatasi kelangkaan air ini kita rharus senantiasa menciptakan lingkungan yang alami. Senantiasa melakukan kontrok sosial diantara sesama masyarakat dengan saling mengingatkan. Ternyata kontrol masyarakat lebih kuat dibandingkan kontrol Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-1900552447104828818?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/1900552447104828818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=1900552447104828818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1900552447104828818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/1900552447104828818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/kekeringan-sebuah-peringatan.html' title='Kekeringan: Sebuah Peringatan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIX0LwCMkrI/AAAAAAAAAGU/PfCDegXdC8k/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-5878233709409855469</id><published>2008-07-20T15:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T15:41:57.916-07:00</updated><title type='text'>Eksploitasi Anak: Warisan Kemiskinan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Memperingati Hari Anak Sedunia 23 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIO-pjquy8I/AAAAAAAAAGM/Rgtz0Wdtt-U/s1600-h/imagessamapah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIO-pjquy8I/AAAAAAAAAGM/Rgtz0Wdtt-U/s400/imagessamapah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225229613838289858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Pernahkan anda membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata? Didalam novel itu diceritakan bagaimana sekelompok anak-anak yang tekun berusaha meraih cita-cita mereka dengan bekerja setelah usai waktu sekolah. Bahkan disana diceritakan terjadi ketimpangan antara anak orang kaya dengan anak orang miskin. Kemiskinan yang mereka alami adalah wujud&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nyata dari sebagian anak di dunia yang terpaksa bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Sudah menjadi keniscayaan, kemiskinan memaksa mereka berbuat sepertii itu walaupun sebenarnya mereka tidak menginginkannya. Sepertinya tidak pernah terbersik dalam hati mereka kalau mereka akan seperti itu. Sekarang sering kita jumpai anak-anak yang menjadi pengamen jalanan, pekerja pabrik atau bahkan berjualan di pinggir jalan hanya karena mereka tidak dapat meneruskan sekolah mereka. Biaya sekolah yang tinggi menjadi masalah tersendiri bagi mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Seyogyanya, anak seusia mereka bermain di taman bermain atau di rumah mereka dengan segala fasilitas yang tersedia. Atau bahkan seharusnya mereka duduk di kelas dan mendengarkan guru mereka mengajar. Namun, kondisi mapan seperti ini tidak semua anak mengalaminya. Jangankan untuk menggapai cita-cita mereka mengapai hidup yang lebih baik, dalam usianya yang masih dini mereka dihadapkan pada beban yang tidak seharusnya mereka terima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Memang, sudah menjadi tugas orang tua untuk mendidik anak dalam kerangka pendidikan yang baik. Setiap anak dibentuk sebagai penerus generasi orang tua dalam meneruskan cita-cita hidup. Bahkan yang lebih luas lagi, mereka adalah tulang punggung bangsa dan calon pemimpim masa depan. Merekalah yang akan menentukan nasib bangsa ini kelak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Namun, tugas mengayomi dan mendidik anak-anak bukan hanya tugas orang tua saja. Sudah menjadi tugas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat untuk mendidik anak dengan menciptakan kondisi sosial yang ideal. Selama ini kita sering menyalahkan orang yang mengeksploitasi anak, padahal orang tersebut juga adalah korban dari sistem hidup yang buruk yang memaksa mereka mengeksploitasi anak-anak. Kemiskinan global membuat orang berpikir pendek untuk menggunakan anak sebagai pekerja di pabrik, pedagang asongan atau bahkan pengamen jalanan. Walau ada juga kasus eksploitasi anak karena faktor kejahatan pelakunya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Dalam rangka memperingati Hari anak Sedunia kali ini marilah kita hentikan eksploitasi terhadap anak-anak. Belum saatnya mereka mengalami beban seberat itu yang seharusnya ada dipundak orang tua. Kita ciptakan kondisi hidup yang lebih baik dengan mengentaskan kemiskinan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bersifat global ini. Pemerintah dan masyarakat bertanggungjawab terhadap kondisi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-5878233709409855469?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/5878233709409855469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=5878233709409855469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5878233709409855469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/5878233709409855469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/eksploitasi-anak-warisan-kemiskinan.html' title='Eksploitasi Anak: Warisan Kemiskinan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIO-pjquy8I/AAAAAAAAAGM/Rgtz0Wdtt-U/s72-c/imagessamapah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-8847304006051053234</id><published>2008-07-18T20:40:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T20:49:49.767-07:00</updated><title type='text'>Kegagalan Mendeskreditkan Islam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIFioxkPTDI/AAAAAAAAAGE/hw-UCH1M8L4/s1600-h/imagesni.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIFioxkPTDI/AAAAAAAAAGE/hw-UCH1M8L4/s400/imagesni.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224565495366110258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;               Bukan sebuah kebetulan mencuatnya kembali isu teorisme beriringan dengan insiden Monas 1 Juni 2008 yang telah membuat geger negeri ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Upaya tersebut dalam rangka mengadu domba umat Islam agar umat Islam berpecah belah. Ternyata upaya tersebut tidak seratus persen berhasil. Langkah mengelempokan ‘Islam fundamental’ dengan ‘Islam moderat’ telah megalami kegagalan. Alhamdulillah, masih banyak umat Islam yang meny&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;adari bahwa insiden tersebut adalah upaya stigmatisasi Islam oleh Kapitalis Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;Isu perang melawan terorisme adalah agenda Presiden Amerika Geroge Walker Bush dalam rangka melaksanakan amanat gurunya Samuel P. Huntington. Huntington menggiring pemikiran politik petinggi negara Barat untuk melakukan perang melawan Islam setelah keruntuhan komunisme di Rusia. Namun, ternyata isu ini meredup di akhir kepemimpinan Bush.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepertinya Bush sudah merasa cukup melaksanakan agendanya dalam rangka mendeskreditkan Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;Propaganda ini merupakan agenda yang sepertinya sudah lama di rencanakan Barat untuk menciptakan keresahan penduduk dunia. Para Kapitalis Barat berusaha membohongi dunia dengan terus-menerus mengisukan perang m&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;elawan terorisme. Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;biasnya pengertian terorisme ini, maka banyak orang yang dikategorikan teroris&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan banyak dari umat Islam yang termasuk di dalamnya. Dengan begitu, terciptalah fobia Islam di sebagian masyarakat Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;Namun,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt; dibalik semua masih ada hikmah yang bisa kita ambil. Bersatunya umat Islam di dunia menjadi boomerang bagi Barat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak semua umat islam berhasil dibohongi. Mereka sadar bahwa sudah saatnya Islam bersatu untuk melawan orang-orang kafir. Selain itu, banyak warga non-muslim yang tertarik untuk mengkaji Islam bahkan bersedia masuk Islam. Mereka merasa penasaran dengan Islam, mengapa Islam begitu ditakuti oleh para kapit&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;alis. Diberbagai negara Eropa seperti Belanda angka pertumbuhan penduduk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Muslim naik dengan cepat. (Bisa dilihat di film &lt;i&gt;Fitna&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;Saudaraku, sudah jelaslah mana yang haq dan yang bathil. Kita sebagai umat Islam harus sudah pandai memilih siapa yang harus jadi kawan dan siapa lawan. Mudah-mudahan Alloh SWT memberi jalan terang kepada kita semua.&lt;i&gt; Amin.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-8847304006051053234?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/8847304006051053234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=8847304006051053234' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8847304006051053234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/8847304006051053234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/kegagalan-mendeskreditkan-islam.html' title='Kegagalan Mendeskreditkan Islam'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SIFioxkPTDI/AAAAAAAAAGE/hw-UCH1M8L4/s72-c/imagesni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-6241430483990504655</id><published>2008-07-18T16:05:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T16:13:51.782-07:00</updated><title type='text'>Kinerja Panitia Angket BBM Sangat Lamban</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panitia Angket BBM yang sudah dibentuk oleh DPR belum memperlihatkan hasil kerjanya. Telah terjadi penundaan keputusan dalam memberikan angket kepada Pemerintah.. Bahkan rapat pleno ditunda hingga dua minggu  ke depan dengan alasan belum ada data yang cukup dan belum adanya surat dari negara dalam pembentukan panitia ini. Padahal rakyat Indonesia berharap besar kepada mereka sehingga bisa tahu atas alasan apa Pemerintah menaikan harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelambanan yang terjadi bisa jadi adanya interfensi Pemerintah dalam menentukan keputusan rapat pleno. Wajar saja karena mereka adalah para utusan partai yang menjadi wakil partai dalam menentukan arah perpolitikan negeri ini. Wakil partai di Pemerintah akan dengan mudah memepengaruhi para anggota Dewan karena mereka sama-sama punya kepentingan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bentuk kelambanan ini karena bentuk aturan yang terlalu ngejelimet. Aturan yang ada bukannya mempermudah kinerja malah memperlambat kinerja. Padahal seharusnya DPR cepat tanggap dalam mengontrol setiap kinerja pemerintah. Ingat, harga BBM sudah naik sejak akhir Maret lalu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, sudah nyta kebobrokan Pemerintah negeri ini. Sistem demokrasi yang dianut hanyalah sebuah senda gurau politik belaka. Mereka tidak serius membela kepentingan rakyat. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hanya Khilafah-lah yang akan mejamin kebutuhan rakyatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, masihkan kita meggunakan demokrasi sebagai landasan negara ini? Masih percayakah anda pada elit politik negeri ini? Masih mau nyoblos di pemilu 2009?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-6241430483990504655?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/6241430483990504655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=6241430483990504655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6241430483990504655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/6241430483990504655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/kinerja-panitia-angket-bbm-sangat.html' title='Kinerja Panitia Angket BBM Sangat Lamban'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-4121633956626179180</id><published>2008-07-16T03:20:00.000-07:00</published><updated>2008-07-16T03:29:27.641-07:00</updated><title type='text'>Mari Kita Menyambut Kenaikan TDL!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SH3M7ELcuFI/AAAAAAAAAFE/x_-gWiYtjS8/s1600-h/images1.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SH3M7ELcuFI/AAAAAAAAAFE/x_-gWiYtjS8/s400/images1.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223556457925752914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Pemadaman listrik di berbagai daerah yang sering terjadi akhir-akhir ini sangat memukul masyarakat. Kondisi ini semakin memperparah rentetan krisis yang sedang dialami Indonesia. tentu saja, dengan seringnya terjadinya pemadaman sudah banyak orang yang merugi karena kegiatan usahanya tersendat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Apakah ini taktik pemerintah untuk menaikan Tarif Dasar Listrik(TDL)? mungkin, jika TDL saat ini dinaikan maka akan terjadi reaksi keras dari masyarakat karena belum lama ini harga gas sedang mengalami kenaikan. Sepertinya pemerintah sengaja mengulur waktunya dan mencari saat yang tepat untuk segera menaikan TDL.&lt;br /&gt;ketika suatu saat nanti TDL jadi dinaikan maka rakyat pun diperkirakan tidak akan memberikan reaksi yang keras. masyarakat pun diharapkan akan mengerti dengan kebijakan yang diambil Pemerintah. Efek psikologis dari pemadaman bergilir ini sangat efektif untuk membebani rakyat akibat dari kenaikan harga BBM.&lt;br /&gt;Jadi, mari kita menyambut kenaikan TDL!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-4121633956626179180?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/4121633956626179180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=4121633956626179180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4121633956626179180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/4121633956626179180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/mari-kita-menyambut-kenaikan-tdl.html' title='Mari Kita Menyambut Kenaikan TDL!'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_bXUzbKTaOf8/SH3M7ELcuFI/AAAAAAAAAFE/x_-gWiYtjS8/s72-c/images1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-7653881208614415923</id><published>2008-07-10T15:08:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T15:13:11.443-07:00</updated><title type='text'>Krisis Energi Listrik Berkepanjangan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;        Setelah kenaikan harga BBM pada akhir Maret 2008 lalu, kini menyusul langkanya pasokan listrik. Di berbagai daerah sudah terjadi pemadaman bergilir sebagai upaya untuk melakukan penghematan listrik. Bahkan Pemerintah berupaya untuk mengalihkan jam kerja pabrik menjadi hari Sabtu dan Minggu. Langkah ini dipertegas dengan akan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style=""&gt; menteri tentang pengoptimalan beban listrtik. Kelima meneri tersebut adalah Menteri Perindustrian, Menteri Negara BUMN, Menteri ESDM, Menteri Tenaga Kerja dan Tramsmigrasi dan Menteri Dalam Negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sepertinya pemerintah sudah pusing dengan krisis energi yang selama ini sedang melanda negeri ini. Kebijakan untuk mengalihkan hari kerja merupakan langkah yang cukup ekstrim. Dengan kebijkan seperti itu, akan banyak perusahaan yang mengubah sistem manajemen perusahaannya. Dengan begitu, pola perdagangan komoditas yang selama ini berjalan akan secara otomatis berubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Pasokan listrik akan kembali normal pada Oktober 2009 sebagaimana dikemukakan oleh Pelaksana tugas Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati. Wah, terlalu lama kita harus menunggu kondisi normal kembali. Dalam waktu selama itu, sudah seberapa banyak perusahaan yang mengalami kerugian akibat terus-menerus dilakukan pemadaman oleh PLN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Sebagai rakyat kecil, kita hanya bisa berharap pada Pemerintah agar sesegara mungkin mengembalikan kondisi perlistrikan nasional menjadi normal. Sudah terlalu banyak penderitaan yang dialami oleh rakyat negeri ini. Dengan, seringnya padam listrik banyak tukang fotocopy, tukang jahit dan pengusaha kecil lainnya yang terkena imbas krisis energi listrik yang berkepanjangan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1953711145955472023-7653881208614415923?l=muhammadyusufansori.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/feeds/7653881208614415923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1953711145955472023&amp;postID=7653881208614415923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7653881208614415923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1953711145955472023/posts/default/7653881208614415923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammadyusufansori.blogspot.com/2008/07/krisis-energi-listrik-berkepanjangan.html' title='Krisis Energi Listrik Berkepanjangan'/><author><name>Muhammad Yusuf Ansori</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16857003089556070368</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_bXUzbKTaOf8/SKpy76bi0RI/AAAAAAAAAH8/vdCRfuFEh6g/S220/editan2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1953711145955472023.post-8274512814159921427</id><published>2008-06-30T15:53:00.000-07:00</published><updated>2008-06-30T15:55:27.271-07:00</updated><title type='text'>Harga Elpiji  Naik!</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Awal Juli 2008 ini Pertamina kembali menaikan harga Elpiji ukuran 12 Kg yang awalnya Rp. 4250/Kg menjadi Rp. 5250/Kg. keputusan menanikin harga Elpiji ini menyusul kenaikan harga BBM sebulan yang lalu. Naiknya harga Elpiji nasional mengikuti kenaikan harga Elpiji dunia yang sudah mencapai harga Rp. 9000/Kg. selain itu kenaikan ini juga akibat naiknya ongkos angkut, kenaikan upah tenaga kerja dan untuk meningkatkan margin pada agen. (Media, &lt;st1:date year="2008" day="28" month="6"&gt;28/6/2008&lt;/st1
